JawaPos.com - Serial POTE menghadirkan formula horor yang tidak hanya mengandalkan kemunculan sosok supranatural. Serial dengan delapan episode tersebut membangun ketegangan lewat sebuah aturan sederhana, tetapi mematikan: siapa pun yang menyaksikan kematian seseorang dapat menjadi korban berikutnya.
Serial ini mulai tayang di Vision+ pada 19 September 2026. Dua episode perdana hadir pada hari tanggal tersebut, sebelum cerita berlanjut secara episodik hingga episode kedelapan.
Series POTE diproduksi bersama Unlimited Production dengan memadukan genre horor, drama, serta thriller. Ceritanya membawa penonton ke Pulau Marunda, ketika misi kemanusiaan yang dilakukan lima dokter muda justru berubah menjadi rangkaian teror yang sulit dijelaskan secara logika.
Misi Medis Berubah Menjadi Teror
Baca Juga: Profil Julia Prastini atau Jule, Selebgram yang Diamankan Polisi Terkait Vape Etomidate
Kisah POTE bermula ketika lima orang dokter muda datang ke Pulau Marunda untuk membantu warga yang tengah menghadapi wabah misterius.
Awalnya, mereka menjalankan tugas sebagaimana tenaga medis pada umumnya. Namun, situasi berubah setelah tim tersebut menemukan berbagai kejanggalan yang berkaitan dengan sejarah kelam pulau tersebut.
Keberadaan sebuah telaga yang menyimpan misteri turut menjadi bagian dari teror. Perlahan, para dokter menyadari bahwa mereka tidak hanya berhadapan dengan persoalan medis.
Di tengah situasi tersebut muncul sosok supernatural yang dikenal sebagai Oreng Pote. Entitas tersebut berkaitan dengan rangkaian kutukan yang membuat kematian seseorang justru menjadi awal dari kematian berikutnya.
Aturan inilah yang membuat POTE memiliki premis berbeda. Dalam banyak cerita horor, melihat kematian biasanya menjadi bagian dari upaya karakter untuk memahami teror. Namun dalam POTE, tindakan melihat justru dapat membuat seseorang masuk ke dalam rantai korban.
Sarah, Dokter yang Dipaksa Menghadapi Dunia Mistis
Audi Marissa menjadi salah satu pusat cerita dengan memerankan Sarah, dokter muda sekaligus pemimpin tim medis.
Sarah digambarkan sebagai sosok yang rasional dan terbiasa mengandalkan logika. Karakter tersebut membuat konflik dalam POTE menjadi semakin menarik karena Sarah harus menghadapi berbagai kejadian yang tidak bisa dijelaskan hanya melalui pendekatan medis.
Ketika satu per satu kejadian ganjil muncul, keyakinan Sarah mulai diuji. Ia bersama anggota tim lainnya harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di Pulau Marunda sekaligus menemukan cara untuk menghentikan rantai kutukan.
Untuk mendalami perannya sebagai dokter, Audi Marissa juga mengaku harus mempelajari istilah-istilah medis yang terdapat dalam skenario. Ia melakukan riset sebelum menjalani adegan yang menggunakan dialog medis agar tidak sekadar mengucapkan istilah tersebut, tetapi memahami maknanya.
"Kesulitan dan tantangan di series ini, saya harus menghafalkan istilah-istilah medis yang asing. Saya sampai bertanya ke teman dokter biar tidak salah," kata Audi Marissa dalam jumpa pers di FX Sudirman, Jakarta, Sabtu (19/9).
Keira Menjadi Bagian Penting dalam Mengungkap Teror
Selain Sarah, karakter Keira juga memiliki posisi penting dalam perjalanan cerita.
Keira yang diperankan Fergie Brittany digambarkan sebagai dokter gizi sekaligus medical influencer. Berbeda dari Sarah yang cenderung mengandalkan logika, Keira memiliki kemampuan indigo sehingga mampu merasakan keberadaan entitas supernatural lebih awal.
Perbedaan cara pandang kedua karakter tersebut menjadi salah satu dinamika yang memperkuat cerita. Sarah berusaha mencari penjelasan berdasarkan fakta, sementara Keira dapat merasakan adanya ancaman yang tidak kasatmata.
Jajaran pemain POTE juga diperkuat Dito Darmawan sebagai Raka, Fandy Christian, Kiara Mckenna sebagai Suci, serta Meisya Amira sebagai Disa. Masing-masing karakter memiliki latar dan konflik yang ikut membawa cerita menuju rantai teror di Pulau Marunda.
Konsep "Jangan Lihat" Menjadi Kunci Cerita POTE
Salah satu elemen yang paling menonjol dari POTE adalah pesan "Jangan Lihat" yang digunakan dalam materi promosi serial tersebut.
Pesan tersebut bukan sekadar slogan untuk membangun atmosfer horor. Dalam dunia POTE, melihat kematian seseorang justru memiliki konsekuensi langsung karena orang yang menyaksikannya berpotensi menjadi target berikutnya.
Konsep tersebut menciptakan ketegangan berbeda. Setiap kematian bukan hanya meninggalkan pertanyaan tentang siapa pelakunya, tetapi juga siapa yang melihat dan siapa yang kemungkinan akan menjadi korban selanjutnya.
Bukan Sekadar Cerita Tentang Hantu
Melalui POTE, Vision+ mencoba membangun IP horor dengan mitologi dan aturan supernaturalnya sendiri. Cerita ini diadaptasi dari kisah urban legend yang berasal dari Pulau Bawean, Jawa Timur.
"Kami berharap cerita ini mewakilkan masyarakat di sana. POTE secara karakter memang sangat unik. Berkolaborasi dengan Unlimited Production, kami menghadirkan cerita yang tidak hanya mengandalkan sosok supranatural, tetapi juga membangun ketegangan melalui sebuah aturan sederhana yang membuat penonton ikut merasa terlibat," ujar Clarissa Tanoesoedibjo, Deputy CEO Vision+ dan CEO V+Short.
Menurutnya, POTE diharapkan dapat menjadi IP baru yang memberikan warna berbeda bagi genre horor Indonesia sekaligus menghadirkan pengalaman menonton yang menegangkan dan penuh rasa penasaran.
Baca Juga: Profil Trisha JKT48: Perjalanan Karier dari Generasi 12 hingga Team Love
Dengan delapan episode yang berpusat pada wabah misterius, tim medis, rahasia Pulau Marunda, serta aturan kutukan yang mengikat para karakter, POTE menempatkan penonton dalam satu pertanyaan sederhana: apa yang terjadi jika melihat kematian justru membuat kematian berikutnya mendekat?