JawaPos.com - Film Istimewa tidak hanya membawa cerita tentang keluarga ke layar lebar. Produser filmnya, Abdullah Mansuri, juga menyiapkan sebuah janji besar yang akan diwujudkan jika film ini mampu mencapai angka satu juta penonton.
Sang produser berjanji akan membangun Rumah Singgah Istimewa di setiap provinsi di Tanah Air untuk tujuan falitasi sekaligus memberdayakan kaum disabilitas apabila film ini mencapai satu juta penonton.
Janji itu disampaikan Abdullah Mansuri di momen penayangan perdana film Istimewa di bioskop Tanah Air pada hari ini, Kamis, 17 September 2026.
Bagi sang produser, pencapaian satu juta penonton bukan sekadar angka dalam perjalanan sebuah film, melainkan sebuah momentum penting untuk menghadirkan ruang yang dapat menjadi tempat aman bagi anak-anak Istimewa.
Baca Juga: Korban Ceritakan Detik-detik Alami Kekerasan Seksual dari Betrand Peto
“Buat saya, film Istimewa bukan hanya tentang membuat sebuah film, tapi bagaimana kita bisa terus memberikan ruang bagi teman-teman Istimewa untuk tumbuh, berkarya, dan punya tempat yang aman untuk pulang," kata Abdullah Mansuri, produser Istimewa.
"Karena itu, saya punya janji. Kalau Istimewa bisa mencapai satu juta penonton, saya ingin membangun Rumah Singgah Istimewa di setiap provinsi di Indonesia. Saya ingin film ini tidak berhenti sebagai cerita yang kita tonton, tetapi bisa menjadi langkah untuk menghadirkan ruang nyata bagi mereka,” imbuhnya.
Cerita Tentang Arti Rumah
Di dalam film, konsep rumah tidak semata-mata digambarkan sebagai sebuah bangunan. Rumah menjadi tempat anak-anak menemukan rasa aman, diterima, dan memiliki seseorang yang dapat mereka andalkan.
Hal tersebut tergambar melalui sosok Pak Mahendra yang diperankan oleh aktor Mathias Muchus. Bagi anak-anak di Rumah Istimewa, Pak Mahendra merupakan figur ayah sekaligus tempat mereka menggantungkan rasa aman.
Situasi berubah ketika Pak Mahendra mulai jatuh sakit. Anak-anak kemudian dihadapkan pada ketakutan kehilangan sosok yang selama ini menjadi bagian penting dalam kehidupan mereka.
Dalam potongan adegan yang dirilis Kairos Film, emosi tersebut terlihat ketika anak-anak harus menghadapi kondisi sang Ayah. Tangisan mereka menjadi bagian dari perjalanan cerita yang membawa isu tentang kehilangan dan arti kehadiran seseorang dalam sebuah keluarga.
Mathias Muchus mengatakan, salah satu hal yang membuatnya tertarik terlibat dalam film Istimewa adalah cara istimewa memandang keluarga.
“Yang membuat saya jatuh hati pada Istimewa adalah ketulusannya. Film ini mengingatkan kita bahwa keluarga tidak selalu tentang hubungan darah, tetapi tentang siapa yang memilih untuk menerima, menjaga, dan tetap hadir ketika kita saling membutuhkan,” ungkapnya.
Bukan Sekadar Kisah Anak-anak
Film Istimewa mengikuti perjalanan Aldo, Bimo, Ken, Nita, dan Mul ketika mencari sang Ayah. Perjalanan tersebut membawa mereka melewati berbagai pengalaman yang berkaitan dengan persahabatan, keberanian, kehilangan, hingga penerimaan.
Anak-anak dalam film ini juga tidak ditempatkan hanya sebagai sosok yang membutuhkan pertolongan. Mereka digambarkan memiliki kepribadian, keinginan, pilihan, mimpi, serta persoalan masing-masing.
Pendekatan tersebut menjadi bagian penting dari cerita yang ingin dibangun Istimewa. Film ini berusaha memperlihatkan bahwa anak-anak dengan latar belakang berbeda tetap memiliki ruang untuk menentukan perjalanan hidup dan menunjukkan kemampuan mereka.
Ruben Adrian, yang terlibat dalam perjalanan film tersebut, mengatakan sejak awal tim ingin membuat cerita yang dapat dinikmati berbagai kalangan sekaligus membuka sudut pandang baru mengenai anak-anak Istimewa.
“Sejak awal kami ingin menghadirkan film yang bisa mengubah cara pandang seseorang dan dinikmati semua kalangan. Ada tawa, ada petualangan, ada momen-momen yang hangat, tetapi di saat yang sama penonton juga diajak mengenal anak-anak ini sebagai manusia yang utuh.”
Target Satu Juta Penonton
Dengan target satu juta penonton, Istimewa membawa dua perjalanan sekaligus. Di layar, penonton diajak mengikuti pencarian anak-anak terhadap sosok yang mereka anggap sebagai rumah.
Di luar layar, angka satu juta penonton menjadi bagian dari janji Abdullah Mansuri untuk menghadirkan Rumah Singgah Istimewa di setiap provinsi.
Rumah singgah tersebut diharapkan menjadi ruang yang aman sekaligus tempat bagi teman-teman Istimewa untuk mendapatkan kesempatan tumbuh dan berkarya.
Dengan demikian, perjalanan film Istimewa tidak berhenti ketika kredit akhir selesai. Jika target yang ditetapkan tercapai, keberhasilan film ini akan dikaitkan dengan rencana besar menghadirkan ruang nyata di berbagai daerah Indonesia.
Baca Juga: Viral Wanita Ditendang Pria Tak Dikenal di Senayan City, Begini Respons Pihak Manajemen
Film Istimewa tayang serentak di bioskop Indonesia mulai Kamis, 17 September 2026. Cerita tentang Aldo, Bimo, Ken, Nita, dan Mul pun menjadi ajakan untuk melihat kembali makna keluarga, rumah, dan kehadiran dari sudut pandang yang lebih luas.
Pada akhirnya, rumah tidak selalu ditentukan oleh tempat. Rumah juga bisa hadir melalui orang-orang yang memilih untuk menerima, menjaga, dan tetap ada ketika keadaan menjadi tidak mudah.