JawaPos.com - Maudy Ayunda memberikan penjelasan terkait videonya yang membahas cara menghadapi berita buruk atau bad news. Setelah menuai perdebatan di media sosial, Maudy mengakui ada satu perspektif penting yang belum cukup ia sampaikan dalam video tersebut.
Perspektif itu berkaitan dengan privilese. Menurut Maudy, kemampuan seseorang untuk berhenti sejenak dari pemberitaan merupakan sesuatu yang tidak dimiliki semua orang, terutama mereka yang kehidupannya terdampak langsung oleh sebuah peristiwa.
Klarifikasi tersebut disampaikan Maudy melalui komentar yang disematkan pada video berjudul Mindfulness in the Age of Bad News. Maudy merespons berbagai pandangan yang muncul setelah konten tersebut menjadi sorotan.
"Hai teman-teman. Terima kasih untuk semua komentar dan perspektif yang disampaikan di sini. Aku sudah membaca banyak di antaranya, dan ada satu hal penting yang aku sadari belum cukup aku sampaikan di video ini," kata Maudy Ayunda.
Baca Juga: Bantahan Betrand Peto Soal Lakukan Kekerasan Seksual Terhadap ANW di Depan Toilet
Ia mengakui bahwa kesempatan untuk mengambil jarak dari pemberitaan merupakan bentuk privilese.
"Being able to step away from the news is itself a privilege. Tidak semua orang punya pilihan itu, terutama ketika apa yang terjadi berdampak langsung pada kehidupan, keluarga, pekerjaan, atau komunitasnya. Aku minta maaf karena bagian ini belum cukup aku refleksikan di videonya," ungkapnya.
Pernyataan tersebut menjadi bagian dari evaluasi Maudy Ayunda setelah gagasannya mengenai cara mengatur konsumsi berita mendapat respons beragam dari netizen.
Bagi sebagian orang, anjuran untuk membatasi paparan terhadap berita buruk tidak selalu mudah diterapkan. Ada masyarakat yang justru harus terus mengikuti perkembangan informasi karena peristiwa yang diberitakan berkaitan langsung dengan kehidupan mereka, keluarga, pekerjaan, maupun lingkungan tempat tinggal.
Awalnya Maudy Bicara soal Dampak Berita Buruk
Video Mindfulness in the Age of Bad News yang diunggah Maudy pada 21 Agustus 2026 sebenarnya berangkat dari pengalaman pribadinya menghadapi derasnya arus informasi.
Sebagai seseorang yang mengaku mudah terbawa pikiran dan cenderung overthinking, Maudy merasa paparan terhadap berita buruk secara terus-menerus dapat memengaruhi kondisi mentalnya.
Karena itu, ia memilih mengatur kembali informasi yang dikonsumsi setiap hari. Maudy menyaring sumber berita, memilih bacaan yang dianggap penting, dan berdiskusi dengan orang yang dinilai memiliki pemahaman terhadap persoalan tertentu.
"Jadi aku nggak seharian mengekspos diri aku terhadap bad news ini karena ya sekali lagi, itu bisa bikin patah semangat, itu bisa benar-benar bikin disfungsional," kata Maudy.
Menurut Maudy, membatasi paparan terhadap berita bukan berarti mengabaikan keadaan. Justru dari proses tersebut, ia merasa lebih mampu memahami kondisi emosionalnya sendiri ketika berhadapan dengan berbagai informasi negatif.
Maudy Tegaskan Mindfulness Bukan Berarti Tak Peduli
Perdebatan kemudian muncul karena sebagian penonton melihat persoalan tersebut dari pengalaman yang berbeda. Bagi orang yang berada di wilayah atau komunitas yang terdampak sebuah kejadian, berita buruk bukan sekadar informasi yang bisa dihentikan dengan menutup aplikasi atau mengurangi konsumsi media.
Respons tersebut membuat Maudy kembali melihat gagasannya dari sudut pandang yang lebih luas. Ia pun menegaskan bahwa pesan tentang mindfulness yang disampaikannya tidak dimaksudkan untuk mengajak masyarakat menjauh dari realitas sosial.
"Aku sama sekali tidak ingin mindfulness menjadi alasan untuk tidak peduli atau menjauh dari realita yang ada. Apalagi ajakan untuk berdiam diri, ataupun melihat seolah keadaan baik-baik saja," kata Maudy Ayunda.
Sebaliknya, Maudy berharap mindfulness dapat membantu seseorang memahami situasi secara lebih jernih tanpa kehilangan kepedulian terhadap orang lain.
"Mindfulness membuat aku bisa melihat sebab akibat secara jelas, membantu kita tetap peduli dan hadir, dan tetap peka terhadap terhadap apa yang dirasakan mereka yang terdampak," tuturnya.
Baca Juga: Korban Ceritakan Detik-detik Alami Kekerasan Seksual dari Betrand Peto
Dalam klarifikasinya tersebut, Maudy juga menyampaikan apresiasi kepada orang-orang yang telah memberikan kritik dan perspektif berbeda.
"Aku dengar dan aku hargai feedback-nya. I'm listening and learning," tegas Maudy Ayunda.