JawaPos.com - Mathias Muchus mendapat pengalaman yang begitu berarti saat terlibat dalam film Istimewa. Dari banyak judul film dan beradu akting dengan banyak aktor dan aktris membuatnya merasa biasa saja.
Mathias Muchus justru merasakan pengalaman luar biasa ketika beradu peran dengan sejumlah aktor disabilitas dalam film produksi Kairos Pictures. Aktor kenamaan Tanah Air itu merasa kembali memaknai hidup dan perjalanannya sebagai seorang aktor.
Mathias Muchus yang berperan sebagai Pak Mahendra mengatakan, keterlibatannya dalam film Istimewa bukan sekadar pekerjaan untuk memenuhi tuntutan profesional.
Proses syuting justru menjadi pengalaman yang menyentuh kedalaman hati dan sisi kemanusiaannya karena ia dapat berinteraksi secara langsung dengan anak-anak disabilitas yang menjadi bagian penting dalam cerita film.
Baca Juga: DJ Katty Butterfly Dituntut Ganti Rugi Rp 146 Juta hingga Diancam Proses Hukum Buntut Batal Tampil
Mathias Muchus mengungkapkan hal tersebut dalam gelaran jumpa pers film Istimewa di bilangan Epicentrum, Rasuna Said, Jakarta Selatan, Senin (7/9). Menurutnya, film ini membuat perjalanan panjangnya di dunia seni peran terasa memiliki makna yang berbeda.
“Jujur saya katakan, perjalanan karier saya ini adalah salah satu momen di mana karier saya merasa punya makna dan arti,” ujar Mathias Muchus.
Selama proses produksi, Mathias tidak menempatkan para pemain disabilitas sebagai sosok yang harus diperlakukan berbeda. Interaksi yang terbangun justru berlangsung secara natural. Mereka bercanda, saling membantu, bahkan melakukan kontak fisik seperti layaknya orang-orang yang sudah lama menjadi bagian dari satu keluarga.
Bagi Mathias Muchus, kedekatan tersebut menjadi salah satu pengalaman paling berharga selama menjalani syuting. Ia tidak ingin melihat para pemain disabilitas sebagai orang yang harus dikasihani, melainkan sebagai individu yang memiliki kemampuan, karakter, dan ruang yang sama untuk berkarya.
Mathias Muchus juga melihat secara langsung bagaimana rasa percaya diri para pemain berkembang sepanjang proses produksi. Beberapa di antara mereka yang awalnya terlihat minder dan kesulitan berkomunikasi, perlahan mampu tampil percaya diri ketika berada di depan kamera.
Mathias mengaku terkejut melihat perubahan tersebut. Menurut dia, proses pendekatan yang dilakukan dengan ketulusan membuat para pemain akhirnya berani menunjukkan kemampuan mereka sebagai aktor.
“ Tadinya mereka minder, takut, ngomong pun susah. Tapi setelah kita dalami dari hati ke hati, muncul kepercayaan diri mereka. Mereka menjadi aktor yang besar di depan kami,” katanya.
Aktor Disabilitas Bicara soal Kesempatan
Niatus Sholihah, pemeran Nita dalam film Istimewa mengatakan, keterlibatannya dalam film layar lebar menjadi kesempatan penting untuk menunjukkan bahwa penyandang disabilitas tidak semestinya hanya dilihat hanya dari kondisi fisiknya.
Menurut Niatus, penerimaan yang sesungguhnya bukanlah ketika mereka memperlakukan kaum disabilitas dengan perlakuan khusus karena merasa iba. Penerimaan justru hadir ketika setiap orang diberikan kesempatan yang sama untuk menentukan pilihan dan memperlihatkan kemampuannya.
“Buat saya, diterima bukan berarti orang lain merasa kasihan atau memperlakukan kita secara berbeda. Diterima adalah ketika kita diberi kesempatan untuk menunjukkan siapa diri kita, dipercaya untuk mengambil pilihan, dan tidak dinilai hanya dari kondisi kita,” ujar Niatus.
Pernyataan Niatus menjadi salah satu pesan penting yang dibawa Istimewa. Film tersebut tidak hanya menempatkan karakter disabilitas sebagai bagian dari cerita, tetapi juga melibatkan anak-anak disabilitas secara langsung sebagai pemeran utama.
Dengan demikian, isu mengenai penerimaan dan kesetaraan tidak hanya hadir dalam dialog film, tetapi juga tercermin dari proses produksi.
Agus Kuncoro Mendapat Pelajaran
Aktor Agus Kuncoro yang turut bermain dalam film Istimewa mengaku memperoleh pelajaran personal selama menjalani proses syuting. Ia merasa pertemuannya dengan sejumlah aktor disabilitas membuat dirinya kembali melihat kehidupan dari sudut pandang berbeda.
“Film ini menyembuhkan saya dalam memandang hidup. Di tubuh yang sempurna ini, tapi masih begitu banyak keluhan, merasa hidup paling menderita. Sementara aktor-aktor yang ada di depan ini, mereka dengan keterbatasannya, bisa tetap tersenyum dan bersyukur,” kata Agus Kuncoro.
Kisah Istimewa Berangkat dari Rumah Istimewa
Film Istimewa sendiri diangkat dari kisah nyata dan mengambil latar sebuah tempat bernama Rumah Istimewa. Tempat tersebut menjadi rumah bagi sekelompok anak disabilitas yang menjalani kehidupan bersama di bawah perlindungan Pak Mahendra, karakter yang diperankan Mathias Muchus.
Situasi berubah ketika Pak Mahendra tiba-tiba menghilang setelah menerima vonis medis. Kehilangan sosok yang selama ini menjadi pelindung membuat anak-anak tersebut memutuskan untuk meninggalkan Rumah Istimewa.
Aldo, Bimo, Ken, Nita, Mul, dan Ella kemudian memulai perjalanan untuk mencari sosok yang mereka anggap sebagai “ayah”. Perjalanan tersebut bukan hanya menjadi usaha menemukan Pak Mahendra, tetapi juga membawa mereka berhadapan dengan dunia luar.
Di tengah perjalanan, mereka menemukan berbagai pengalaman yang secara perlahan membuka pemahaman tentang arti keluarga, penerimaan, keberanian, dan bagaimana masyarakat memandang orang-orang dengan disabilitas.
Sutradara Ruben Adrian mengatakan, dirinya tidak ingin terlalu terikat pada formula teknis ketika menggarap film ini. Ia memilih pendekatan yang lebih personal dengan menempatkan hubungan antarmanusia sebagai bagian utama dalam proses kreatif.
Baca Juga: Dibantu KBRI Bern di Swiss, Katon Bagaskara Akhirnya Diperbolehkan Pulang ke Indonesia
“Saya sudah nggak pakai formula dan segala macam, tapi saya pakai hati. Mereka adalah adik-adik saya yang saya banggakan,” ujar Ruben.
Film Istimewa dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 17 September 2026.