← Beranda
Yura Yunita Hadirkan “Pertiwi”, Lagu tentang Ketakutan, Keberanian, dan Suara yang Terpendam
Abdul RahmanJumat, 4 September 2026 | 07.46 WIB
Penyanyi Yura Yunita. (istimewa)

 

JawaPos.com - Yura Yunita kembali menghadirkan karya terbaru lewat lagu berjudul “Pertiwi”. Berbeda dari karya yang sekadar ingin menyampaikan pesan secara gamblang, lagu ini justru mengajak pendengar masuk lebih dalam ke pengalaman dan perasaan masing-masing.

Lagu “Pertiwi” secara resmi dirilis pada 2 September 2026 di berbagai platform streaming musik. Pada waktu yang sama, Yura Yunita juga meluncurkan video musik yang menjadi bagian penting dari keseluruhan cerita lagu tersebut.

Sejak awal, “Pertiwi” memang tidak dirancang untuk mudah dijelaskan dalam satu kalimat. Lagu ini berbicara tentang sesuatu yang lebih personal: ketakutan, keberanian, kemarahan, sekaligus keputusan untuk tidak lagi terus-menerus membungkam suara diri.

Ada lagu yang selesai ketika musik berhenti. Namun, “Pertiwi” terasa seperti karya yang justru mulai bekerja setelah nada terakhir menghilang.

Baca Juga: Sejumlah Momen Romantis Audi Marissa dan Anthony Xie Selama Masa Pernikahan

Perasaan itu muncul dari cara lagu ini membawa pendengar berhadapan dengan hal-hal yang selama ini mungkin disimpan rapat. Bisa berupa luka yang belum selesai, kalimat yang tidak pernah tersampaikan, kemarahan yang sengaja diredam, hingga keberanian kecil untuk akhirnya mengatakan apa yang selama ini dipercaya.

Secara musikal, “Pertiwi” ditulis oleh Donne Maula dengan notasi dari Yura Yunita. Produksi musiknya dipercayakan kepada Iwan Popo. Aransemen yang dihasilkan terdengar megah, tetapi tidak berlebihan. 

Karakter vokal Yura yang kuat sekaligus penuh penghayatan membuat tema keberanian dalam “Pertiwi” terasa semakin dekat. Ia tidak digambarkan sebagai keberanian yang datang tanpa rasa takut. Sebaliknya, keberanian dalam lagu ini lahir ketika seseorang masih gemetar, masih ragu, tetapi memilih untuk tetap bersuara.

Hal itulah yang membuat “Pertiwi” terbuka terhadap banyak tafsir. Pendengar bisa saja menghubungkannya dengan kondisi sosial di sekitar mereka, sosok ibu, perempuan yang memilih bertahan dalam diam, ketidakadilan, atau bahkan pergulatan yang terjadi di dalam diri sendiri.

Yura tidak ingin mengunci lagunya dalam satu makna. Di tengah kebiasaan publik yang ingin segala sesuatu dijelaskan dengan cepat, “Pertiwi” justru memberikan ruang agar pendengar menemukan arti lagunya sendiri berdasarkan pengalaman hidup mereka masing-masing.

Pesan tersebut kemudian diterjemahkan lebih jauh melalui video musik. Yura berkolaborasi dengan Kathleen Malay sebagai sutradara dan Siko Setyanto sebagai koreografer. Keduanya membantu membangun bahasa visual yang tetap berangkat dari emosi, sekaligus memperkuat atmosfer yang dibangun melalui musik.

Kehadiran video musik ini membuat “Pertiwi” tidak berhenti sebagai pengalaman audio. Musik dan visual dirancang berjalan beriringan, membawa pendengar pada suasana yang lebih personal dan reflektif.

Pada akhirnya, Yura Yunita tidak meminta pendengarnya untuk mencari jawaban tunggal tentang apa yang ingin disampaikan melalui “Pertiwi”. Ia justru mengajak setiap orang mendengarkan lagu tersebut dalam suasana yang lebih tenang.

“Dengarkan dan nikmati saja lagu dan video musiknya. Cari ruang yang sedikit sunyi, biarkan lagunya selesai. Lalu tunggu beberapa detik dalam hening. Perhatikan siapa yang muncul di kepala. Perhatikan bagian mana yang membuat dada kamu terasa sesak,” ujar Yura.

Ajakan tersebut menjadi kunci untuk memahami “Pertiwi”. Lagu ini bukan semata-mata tentang suara yang terdengar keras, melainkan tentang keberanian seseorang yang sempat takut untuk akhirnya tidak kembali mundur.

Baca Juga: Audi Marissa Gugat Cerai Anthony Xie Karena Orang Ketiga? Begini Kata Pengacaranya

Karena, terkadang kebenaran tidak lahir dari suara yang paling lantang. Ia bisa muncul dari seseorang yang tangannya masih gemetar, suaranya masih bergetar, tetapi memilih untuk tetap berbicara.

Dan mungkin, itulah alasan “Pertiwi” tidak perlu terlalu banyak dijelaskan. Cukup didengarkan, lalu biarkan pengalaman masing-masing pendengar menemukan maknanya sendiri.

EDITOR: Abdul Rahman