← Beranda
Sutradara Imam Tantowi Meninggal Dunia di Usia 80 Tahun
Abdul RahmanMinggu, 23 Agustus 2026 | 03.09 WIB
Sutradara Imam Tantowi meninggal. (Instagram: imam_tantowi_46)

 

JawaPos.com - Kabar duka datang dari dunia perfilman Tanah Air. Sutradara sekaligus penulis naskah skenario senior Imam Tantowi meninggal dunia pada Jumat, 21 Agustus 2026, dalam usia 80 tahun. 

Kabar kepergian sineas yang dikenal publik lewat sejumlah film dan sinetron tersebut disampaikan Ketua Humas Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI), Evry Joe.

Evry Joe menyampaikan bahwa Imam Tantowi berpulang di usia 80 tahun. Adapun rumah duka almarhum berada di kawasan Karawaci, Tangerang.

"Telah berpulang Bapak Imam Tantowi. Beliau adalah sutradara besar. Beliau berpulang di usia 80 tahun," kata Evry Joe kepada JawaPos.com.

Baca Juga: Ruben Onsu Beri Penjelasan soal Dana Rp 3,5 Miliar hingga Ditetapkan Tersangka

Evry Joe juga menyampaikan penghormatan terakhir kepada Imam Tantowi. Ia berharap karya-karya yang ditinggalkan sang sutradara dapat menjadi pembelajaran bagi generasi muda, terutama mereka yang memilih menekuni dunia perfilman di Tanah Air.

"Saya pribadi mengucapkan selamat jalan Mas Imam. Semoga karya-karyamu menjadi pembelajaran untuk sineas-sineas muda dan menjadi amal di dunia dan akhirat," ujarnya.

Kepergian Imam Tantowi menjadi kehilangan besar bagi dunia perfilman nasional. Sepanjang perjalanan kariernya, ia dikenal sebagai sutradara dan penulis naskah skenario yang memiliki pengalaman panjang, khususnya melalui karya-karya bergenre laga dan sejarah.

Imam Tantowi lahir di Tegal, Jawa Tengah, pada 13 Agustus 1946. Sebelum terjun ke industri film, dia lebih dulu menggeluti dunia seni pertunjukan sebagai pemain dan sutradara sandiwara pada 1966-1969. Ia kemudian mencoba berbagai pekerjaan di industri kreatif, termasuk menjadi pembuat poster film.

Karier film Imam Tantowi berkembang secara bertahap. Ia terlibat sebagai dekorator dalam film Biarkan Musim Berganti pada 1971, kemudian menjadi penata artistik dalam Si Rano pada 1973. 

Pada 1977, dia dipercaya menjadi asisten sutradara dalam Tukang Kawin, sebelum mulai menulis naskah skenario pada 1978 melalui film Dang Ding Dong.

Kesempatan Imam Tantowi menjadi sutradara datang pada awal dekade 1980-an. Salah satu karya awalnya adalah Pasukan Berani Mati yang kemudian diikuti berbagai film seperti Lebak Membara, Dia Sang Penakluk, Carok, Tujuh Manusia Harimau, Saur Sepuh, Soerabaia 45, dan sejumlah film lainnya.

Nama Imam Tantowi semakin kuat setelah meraih Piala Citra sebagai Penulis Cerita Asli Terbaik melalui Si Badung pada Festival Film Indonesia 1989. Dua tahun kemudian, ia kembali mendapat penghargaan bergengsi sebagai Sutradara Terbaik lewat film Soerabaia 45 pada FFI 1991.

Dalam Festival Film Indonesia 2024, dia tercatat menerima Piala Citra kategori Pengabdian Seumur Hidup untuk Film atas dedikasi dan kontribusinya terhadap perfilman Indonesia.

Selain itu, dia juga mendapat penghargaan FFI sebagai Penulis Cerita Asli Terbaik lewat sinetron Madu Racun dan Anak Singkong pada tahun 1994.

Baca Juga: Ruben Onsu Terjebak Kasus Penipuan, Minola Sebayang Ungkap Ada “Lubang Besar”

Tak hanya aktif di layar lebar, Imam Tantowi juga memberikan kontribusi besar dalam perkembangan sinetron si Indonesia. Keterlibatannya dalam sejumlah karya televisi, termasuk Tukang Bubur Naik Haji The Series, yang menjadi salah satu karya panjang dan populer dalam perjalanan televisi Indonesia.

EDITOR: Abdul Rahman