← Beranda
Pasien BPJS Meninggal Usai Mengeluh, Artis Cinta Laura Kecewa Pasien BPJS Dipandang Sebelah Mata
Abdul RahmanKamis, 6 Agustus 2026 | 05.20 WIB
Public Figure Cinta Laura

 

JawaPos.com - Pasien pengguna BPJS Kesehatan bernama Yurizal Tri Chaerawan yang sempat curhat dan tidak lama kemudian meninggal dunia memicu gelombang perhatian dari publik di media sosial. Kasus tersebut ramai diperbincangkan mengingat almarhum sempat curhat dan mengaku menunggu hingga 8 jam tanpa mendapatkan ruang perawatan di rumah sakit.

Peristiwa itu menyita perhatian dari banyak pihak, termasuk dari aktris sekaligus aktivis Cinta Laura. Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Cinta menyampaikan keprihatinan mendalam. Menurutnya, persoalan ini tidak semestinya hanya dipandang sebagai perdebatan tentang siapa yang benar atau salah, tapi menjadi momentum untuk mengevaluasi cara dalam memperlakukan pasien pengguna BPJS Kesehatan.

Dalam pandangannya, pertanyaan yang lebih penting dalam kasus ini bukan siapa yang benar dan salah. Tapi lebih kepada mengapa masih banyak orang, termasuk sebagian tenaga kesehatan, seolah menganggap pasien BPJS pantas mendapatkan pelayanan yang berbeda dibandingkan pasien dengan asuransi lain atau menggunakan uang pribadi saat menjalani perawatan.

"Setiap kali kasus seperti ini viral, pembahasannya langsung berputar di satu pertanyaan: siapa yang salah dan siapa yang benar. Menurut aku, justru itu bukan pertanyaan yang paling penting," tulis Cinta Laura.

"Pertanyaan yang sebenarnya lebih penting adalah: kenapa begitu banyak orang Indonesia, termasuk tenaga kesehatan, sering merasa bahwa pasien BPJS layak ditelantarkan hanya karena menggunakan BPJS?" imbuhnya.

Cinta Laura menilai, tingkat ketidakpercayaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan bagi mereka yang menggunakan BPJS tidak muncul begitu saja. Menurutnya, kondisi tersebut terbentuk dari banyaknya cerita dan pengalaman yang beredar selama bertahun-tahun tentang pasien dan keluarga yang merasa diabaikan ketika sedang membutuhkan pertolongan hanya karena menggunakan BPJS.

Ia juga menegaskan bahwa apabila dugaan dalam kasus Yurizal terbukti benar, maka pihak yang bertanggung jawab harus dimintai pertanggungjawaban sesuai aturan. Di sisi lain, publik juga berhak memperoleh penjelasan secara terbuka agar kepercayaan terhadap sistem pelayanan kesehatan BPJS dapat dipulihkan.

"Kalau tuduhan dalam kasus ini terbukti benar, maka mereka yang bertanggung jawab harus dimintai pertanggungjawaban. Apa pun hasil akhirnya, publik tetap berhak mendapatkan transparansi," ungkapnya.

Tak hanya menyoroti kasus yang sedang viral, Cinta Laura juga mengajak masyarakat untuk melihat persoalan secara lebih luas. Ia mempertanyakan apakah tanpa disadari telah terbentuk sistem kesehatan yang membuat status kepesertaan asuransi memengaruhi rasa aman seseorang ketika datang ke rumah sakit untuk mencari pertolongan.

Menurut Cinta Laura, layanan kesehatan merupakan hak setiap warga negara. Karena itu, pelayanan medis, empati, serta penghormatan terhadap martabat pasien tidak boleh dibedakan berdasarkan jenis asuransi yang dimiliki, baik BPJS, asuransi swasta, atau pakai uang pribadi.

"Layanan kesehatan bukanlah hak istimewa bagi mereka yang mampu membayar lebih. Martabat, empati, dan pelayanan medis yang tepat waktu seharusnya tidak pernah bergantung pada apakah seseorang membawa kartu BPJS atau asuransi swasta," tegas Cinta Laura.

Selain itu, Cinta Laura menegaskan bahwa kasus pasien BPJS meninggal ini seharusnya menjadi bahan evaluasi bersama. Setiap pasien dan keluarganya berhak memperoleh jawaban dan akuntabilitas dalam sistem pelayanan kesehatan yang mampu memberikan rasa aman dan kepercayaan kepada seluruh masyarakat, tanpa membedakan latar belakang maupun jenis pembiayaan kesehatan yang digunakan.

Sebelum meninggal dunia, Yurizal Tri Chaerawan sempat curhat di media sosialnya tidak mendapat ruangan rumah sakit kendati telah menunggu selama 8 jam karena dia diduga pengguna BPJS Kesehatan.

Keluhan yang disampaikannya melalui akun Threads @yurizaltrich mendapat respons dari warganet dan sejumlah tenaga kesehatan (nakes). Alih-alih mendapatkan dukungan, ketika itu banyak pihak yang justru menyalahkannya.

Komentar dari para nakes tersebut kini dinilai banyak pihak sebagai bentuk nirempati terhadap pasien. Terlebih, pasien pengguna BPJS Kesehatan tersebut diketahui meninggal dunia sekitar satu pekan setelah menyampaikan keluhannya di media sosial.

Netizen pun meminta sejumlah nakes yang sempat meremehkan almarhum untuk mempertanggungjawabkan dosanya. Mereka tidak bisa lagi minta maaf mengingat Yurizal Tri Chaerawan telah meninggal dunia.

EDITOR: Abdul Rahman