← Beranda
Sumatera Masih Punya Cadangan Listrik 4 Persen, PLTA Batangtoru 510 MW Bersiap Diuji
Rian Alfianto• Rabu, 14 Oktober 2026 | 02.39 WIB
PLTA Batangtoru bersiap jalani uji penggenangan. (Istimewa)

 

JawaPos.com - Cadangan listrik operasional di sistem Sumatera yang tinggal sekitar 4 persen mendorong percepatan penyelesaian Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batangtoru di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. 

Pembangkit berkapasitas 510 megawatt (MW) itu bersiap memasuki tahap penggenangan waduk sebagai bagian dari pengujian sebelum dapat beroperasi secara komersial.

Namun, pembangkit yang dikembangkan PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) itu masih harus melewati serangkaian pengujian teknis, memperoleh Sertifikat Laik Operasi (SLO), dan memenuhi persyaratan sebelum masuk tahap operasi komersial atau Commercial Operation Date (COD).

Baca Juga: Inkonsistensi Regulasi jadi Penghambat Utama Target Listrik Bersih Indonesia

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot mengatakan, percepatan pengoperasian PLTA Batangtoru diperlukan untuk menjaga keandalan sistem kelistrikan Sumatera.

"Cadangan operasional hanya 4 persen, padahal idealnya sekitar 15–20 persen. Jadi ini antisipasi untuk kebutuhan yang meningkat, sekaligus untuk keandalan sistem kelistrikan Sumatera," ujar Yuliot melalui keterangannya. 

Kesiapan penggenangan waduk dibahas dalam rapat koordinasi percepatan penyelesaian proyek di lokasi PLTA Batangtoru, Jumat (9/10).

Baca Juga: Harga Minyak Mentah Indonesia Meroket, dari USD 89,43 jadi USD 112,81 per Barel

Pertemuan tersebut menghasilkan Berita Acara Pelaksanaan Penggenangan PLTA Batangtoru 510 MW untuk Meningkatkan Keandalan Pasokan Listrik Sistem Sumatera.

Penggenangan akan dilakukan setelah seluruh persyaratan teknis terpenuhi dengan tetap memperhatikan keselamatan bendungan dan masyarakat sekitar.

Yuliot menyebut persoalan administrasi telah diselesaikan melalui koordinasi lintas kementerian dan lembaga, dengan pendampingan Kejaksaan untuk memberikan kepastian hukum.

"Tanpa penggenangan, kita tidak bisa melakukan uji coba atas seluruh fasilitas yang ada di sini," lanjut Yuliot. 

Setelah penggenangan, pengujian akan dilakukan terhadap fasilitas bendungan, saluran air atau waterway, serta powerhouse yang menampung peralatan pembangkit.

Seluruh tahap tersebut diperlukan untuk memastikan fasilitas berfungsi sesuai persyaratan keselamatan dan teknis.

Baca Juga: Minyak Brent dan WTI Melemah, Pasar Dibayangi Ketidakpastian Geopolitik

Pembangkit kemudian harus memperoleh Sertifikat Laik Operasi sebelum tanggal operasi komersial ditetapkan.

Dengan demikian, kesiapan memasuki tahap penggenangan belum berarti PLTA Batangtoru langsung memasok listrik secara komersial.

PLTA Batangtoru Bisa Kurangi Ketergantungan pada Pasokan Antardaerah

Kehadiran PLTA Batangtoru diharapkan memperkuat pasokan listrik Sumatera Utara yang saat ini masih mendapat dukungan dari wilayah lain.

Baca Juga: Atasi Kelangkaan BBM di Bali, Pertamina Datangkan 20.500 KL Bensin

Direktur Teknologi Engineering dan Keberlanjutan PT PLN (Persero) Edwin Nugraha Putra menjelaskan, sistem kelistrikan Sumatera bagian utara masih ditopang pasokan listrik dari Sumatera bagian selatan melalui jaringan transmisi.

Dengan kapasitas 510 MW, PLTA Batangtoru diharapkan dapat menambah kemampuan pasokan listrik untuk memenuhi kebutuhan energi di wilayah tersebut, seiring pertumbuhan aktivitas ekonomi dan pembangunan.

"Kapasitas 510 megawatt ini akan menopang pembangunan di Sumatera Utara sendiri untuk sekitar 4–5 tahun," kata Edwin.

Baca Juga: Kalimantan Barat dan Bangka Belitung Paling Potensial sebagai Lokasi PLTN

PLTA Batangtoru diklaim telah dirancang sebagai pembangkit beban puncak (peaker), yakni pembangkit yang dioperasikan untuk memenuhi kebutuhan listrik ketika konsumsi mencapai tingkat tinggi.

Pembangkit ini direncanakan beroperasi penuh pada pukul 18.00 hingga 24.00, saat kebutuhan listrik pada malam hari perlu diantisipasi.

Selain menambah pasokan energi, pembangkit ini dirancang mendukung pengaturan frekuensi dan tegangan jaringan listrik. 

Dari sisi energi, PLTA Batangtoru memanfaatkan aliran air sebagai sumber energi primer.

Baca Juga: PLN Minta Maaf soal Pemadaman Listrik di Batam, Investigasi Penyebab Gangguan

Pembangkit ini berpotensi mengurangi penggunaan pembangkit berbahan bakar minyak dan gas yang memiliki biaya operasional lebih tinggi ketika permintaan listrik meningkat.

Pemanfaatan tenaga air juga diyakini dapat membantu menekan emisi karbon sektor ketenagalistrikan.

Terutama apabila produksi listrik menggantikan sebagian pasokan dari pembangkit berbahan bakar fosil.

Baca Juga: PHE Akuisisi PI Eni di Tiga Blok Migas Kalimantan Timur

Besarnya pengurangan emisi tetap bergantung pada pola operasi pembangkit dan sumber listrik yang digantikannya.

PLTA Batangtoru dirancang menghasilkan energi sekitar 2.124 gigawatt jam (GWh) per tahun. 

Penggenangan Waduk Jadi Penentu Sebelum Operasi Komersial

Presiden Direktur PT NSHE Ye Ling menegaskan, perusahaan akan menindaklanjuti persyaratan dan arahan, termasuk ketentuan grid code yang harus dipenuhi agar pembangkit dapat terhubung dan beroperasi sesuai standar jaringan PLN.

Baca Juga: MedcoEnergi Akuisisi 10 Persen Hak Partisipasi di Empat Blok Migas Kalimantan Timur

Penggenangan waduk menjadi tahap penting karena diperlukan untuk menguji berbagai fasilitas pembangkit dalam kondisi yang sesuai dengan rancangan operasionalnya.

Sebagai Proyek Strategis Nasional, PLTA Batangtoru diharapkan menjadi tambahan penting bagi kapasitas pembangkitan di Sumatera.

Namun, manfaatnya terhadap keandalan pasokan baru dapat dinilai secara nyata setelah pembangkit menyelesaikan seluruh pengujian dan mulai beroperasi.

Karena itu, penyelesaian proyek ini menjadi bagian penting dari upaya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan kebutuhan listrik dan ketersediaan pasokan energi di Sumatera.

Baca Juga: Siapa Isla Energy? Perusahaan yang Bakal Kelola SPBU Shell di Indonesia

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah