← Beranda
Minyak Brent Meroket ke USD 108, Konflik Iran Terus Tekan Pasokan Global
Djati WaluyoJumat, 11 September 2026 | 14.43 WIB
Harga minyak dunia.

 

JawaPos.com - Harga minyak mentah dunia kompak melampaui USD 100 per barel pada perdagangan Jumat (11/9) pagi seiring dengan turunya stok minyak global yang cepat.

Kondisi ini dipengaruhi akibat terganggunya pasokan dari Timur Tengah dalam perang Iran yang masih berlangsung.

Melansir Investing pada pukul 07:25 WIB, kontrak berjangka minyak mentah Brent turun 0,74 poin atau 0,67 persen ke level 108,23 dollar per barel atau lebih tinggi jika dibandingkan dengan perdagangan Kamis (10/9) pagi sebesar 101,75 dollar per barel.

Sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik 0,80 poin atau 0,79 persen ke level 103,26 dollar per barel atau lebih tinggi jika dibandingkan dengan perdagangan Kamis (10/9) pagi sebesar 97,13 dollar per barel.

Baca Juga: IHSG Berpotensi Melanjutkan Koreksi Hari Ini, Intip 4 Rekomendasi Saham MNC Sekuritas

Dilansir Reuters, Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran mengambil alih kendali Pelabuhan Mocha di Yaman pada Kamis. Kondisi ini menambah ancaman terhadap lalu lintas kapal di Laut Merah.

Sementara itu, lalu lintas pelayaran di kawasan Teluk masih terbatas akibat gangguan di Selat Hormuz, seiring serangan terhadap kapal tanker di kawasan tersebut meningkat dalam beberapa hari terakhir.

“Serangan dari Yaman terhadap fasilitas energi Arab Saudi menimbulkan sumber risiko baru bagi pasar, memperluas kekhawatiran yang sebelumnya hanya berpusat pada Iran dan Selat Hormuz,” kata Simon-Peter Massabni, Head of Business Development XS.com.

Menurutnya, ancaman tersebut tidak lagi terbatas pada satu titik sempit jalur pelayaran, tetapi berpotensi mengganggu jalur ekspor regional, lokasi produksi minyak, serta infrastruktur energi lainnya.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa AS mungkin menyerang Pickaxe Mountain milik Iran, yang berada di dekat fasilitas pengayaan uranium Natanz yang mengalami kerusakan parah.

Trump juga mengatakan perang tersebut kemungkinan akan berlangsung hingga melewati pemilihan umum paruh waktu (midterm elections) pada November.

Iran mengatakan telah menyerang 10 kapal di sekitar selat tersebut pada Rabu, setelah AS menyerang lima kapal tanker minyak Iran. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengatakan akan meningkatkan respons terhadap serangan lebih lanjut.

“Dengan meredupnya prospek penyelesaian definitif konflik Iran dan harga minyak mentah Brent yang baru-baru ini menembus USD 100 per barel untuk pertama kalinya sejak Juli, pasar minyak mentah kini memasuki kondisi normal baru yang berkepanjangan, dengan risiko gangguan yang bersifat terus-menerus, bukan lagi sesekali,” demikian analisis terbaru S&P Global Energy.

China Jadi Penentu

Analis mengatakan keberlanjutan reli harga minyak akan bergantung pada China, negara importir minyak mentah terbesar di dunia.

Baca Juga: 2 Sentimen Pengaruhi Rupiah Melemah ke Rp 17.590 terhadap Dolar AS Hari Ini

Analis ING dalam sebuah catatan mengatakan China meningkatkan pembelian minyak dalam beberapa pekan terakhir setelah permintaan yang lesu selama berbulan-bulan. Kondisi tersebut turut mendorong penguatan pasar minyak mentah fisik.

Jika pembelian China terus pulih, kondisi tersebut dapat memperbesar dampak dari setiap gangguan pasokan dan mendorong harga minyak lebih tinggi. Sebaliknya, penurunan impor China dapat meredam penguatan harga.

“Selama berbulan-bulan, skenario bearish bertumpu pada lemahnya permintaan China,” kata David Jorbenaze, Global Oil Market Lead pada penyedia informasi komoditas ICIS.

Sementara itu, persediaan minyak mentah AS turun 391.000 barel menjadi 424,1 juta barel pada pekan lalu. Administrasi Informasi Energi AS (Energy Information Administration/EIA) mengatakan aktivitas kilang terus menunjukkan penguatan. Analis sebelumnya memperkirakan persediaan akan turun 1,55 juta barel.

Di sisi lain, OPEC pada Kamis memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak dunia pada 2026 menjadi 380.000 barel per hari. Berdasarkan salinan laporan bulanannya, revisi tersebut menjadi penurunan proyeksi untuk kelima kalinya secara berturut-turut.

Produksi minyak OPEC juga turun 640.000 barel per hari pada Agustus, berdasarkan survei Reuters. Penurunan tersebut terjadi setelah ekspor Arab Saudi kembali menghadapi gangguan akibat perang Iran, sementara blokade AS memangkas pengiriman minyak Iran.

 

EDITOR: Sabik Aji Taufan