JawaPos.com - Harga minyak mentah dunia bergerak fluktuatif di perdagangan Jumat (4/9) pagi, di tengah aksi saling serang antara AS dan Iran.
Kondisi ini berisiko membalikkan pemulihan terbaru dalam volume minyak yang melintasi Selat Hormuz
Melansir Investing pada pukul 07:35 WIB, kontrak berjangka minyak mentah Brent turun 0,21 poin atau 0,22 persen ke level USD 95,61 per barel.
Lebih tinggi jika dibandingkan dengan perdagangan Kamis (3/9) pagi sebesar USD 95,21 per barel.
Baca Juga: Manfaatkan Sumur Rakyat dan Lapangan Minyak Tua, Pakar ITB Yakin Target Lifting 2027 Tercapai
Sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik 0,21 poin atau 0,22 persen ke level USD 91,50 per barel.
Lebih tinggi jika dibandingkan dengan perdagangan Kamis (3/9) pagi sebesar USD 90,71 per barel.
Dilansir dari Bloomberg, Militer Iran pada Kamis mengatakan telah menargetkan pangkalan AS di Kuwait dan Uni Emirat Arab (UEA), menurut kantor berita pemerintah Islamic Republic News Agency.
Kuwait mengatakan pihaknya merespons ancaman rudal dan drone, sementara UEA belum mengumumkan adanya insiden.
Harga minyak kemudian melemah setelah Arab Saudi mempertahankan harga minyak mentah andalannya untuk bulan depan.
Baca Juga: Ekonom Taksir Pertamax Harusnya Dijual Rp 16.800, Pertimbangkan Harga Minyak dan Nilai Tukar Rupiah
Hal ini mengindikasikan bahwa kondisi pasokan di pasar tidak seketat yang diperkirakan sebagian investor.
Senior commodity strategist di TD Securities, Ryan McKay, mengatakan, kembali berkobarnya permusuhan antara AS dan Iran terus menunjukkan rapuhnya setiap kesepakatan yang tidak konkret maupun de-eskalasi jangka pendek.
“Iran tidak mundur dari upayanya mengendalikan Selat Hormuz, yang pada akhirnya membuat kemungkinan eskalasi tetap tinggi ketika AS memfasilitasi pelayaran kapal melalui jalur Oman,” ujar Ryan.
Selain itu, Israel juga telah mengisyaratkan untuk siap kembali bertempur jika diperlukan, dan bahwa serangan Iran terhadap negara Yahudi tersebut akan membebaskan Israel dari segala pembatasan yang ada saat ini.
“Kami akan menyerang seluruh infrastruktur nasional, militer, dan sipil — termasuk infrastruktur energi — dan mengembalikan Iran jauh ke zaman batu,” kata Menteri Pertahanan Israel Israel Katz.
Baca Juga: Iran Serang Sekutu AS di Teluk, Harga Minyak Melonjak dan Risiko Perang Besar Mengintai
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump, ketika ditanya berapa lama pengeboman AS yang kembali digelar dapat berlangsung, mengatakan, “Saya rasa tidak akan terlalu lama,” sembari menambahkan bahwa “kami siap melakukannya lagi.”
Serangan baru AS tersebut terjadi setelah beberapa pekan relatif tenang, dengan Iran membalas dengan menargetkan pangkalan-pangkalan Amerika di berbagai wilayah Timur Tengah.