← Beranda
Trump Ancam Balas Iran 'Dengan Keras', Harga Minyak Mentah Dunia Makin Panas!
Djati WaluyoSelasa, 1 September 2026 | 16.58 WIB
Donald Trump (The Guardian)

 

JawaPos.com - Harga minyak mentah dunia kembali menguat pada pembukaan perdagangan Selasa (1/9) pagi seiringsetelah Amerika Serikat (AS) bersikeras untuk kembali menyerang Iran dalam waktu dekat.

Melansir Investing pada pukul 07:49 WIB, kontrak berjangka minyak mentah Brent naik atau 0,36 poin atau 0,41 persen ke level 91,11 dollar per barel atau naik jika dibandingkan dengan perdagangan Senin (31/8) pagi sebesar 90,21 dollar per barel.

Sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik 0,88 poin atau 1,03 persen ke level 86,64 dollar per barel atau naik jika dibandingkan dengan perdagangan Rabu pagi sebelumnya sebesar 85,31 dollar per barel.

Melansir Reuters, Presiden AS Donald Trump dikutip menjanjikan akan "menghantam mereka dengan keras" setelah Iran meluncurkan rudal pada malam hari ke dua pangkalan udara AS di Yordania sebagai respons atas serangan terhadap Pulau Larak, Iran.

"Kami akan menghantam mereka dengan keras. Akan ada respons," kata seorang reporter Fox News mengutip pernyataan Trump kepada stasiun televisi tersebut.

Pada Minggu, Trump mengatakan melalui unggahan di media sosial bahwa pusat energi Iran di Pulau Kharg sedang "dihancurkan berkeping-keping". Namun, tidak ada bukti yang menunjukkan pulau tersebut sedang diserang.

Unggahan tersebut menyertakan video yang dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI), tetapi tidak memberikan rincian lebih lanjut. Iran membantah Pulau Kharg sedang diserang dan menyatakan kegiatan operasi minyak tetap berjalan.

Pada Senin, Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan bahwa unggahan Trump tersebut merupakan pesan yang ditujukan kepada Iran.

Para mediator saat ini berupaya mencapai kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur yang sebelum perang dimulai pada akhir Februari dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Namun, proses tersebut mengalami kebuntuan.

Data pelayaran menunjukkan jumlah kapal komoditas yang terlihat melintasi Selat Hormuz selama akhir pekan turun menjadi sekitar lima kapal per hari.

"Sebagian minyak dari kawasan Teluk masih dapat bergerak melalui selat tersebut sehingga membatasi kenaikan harga. Namun, pertukaran serangan militer langsung pertama dalam sebulan memaksa para pedagang kembali memperhitungkan premi pasokan jangka pendek yang signifikan," tulis analis Gelber & Associates dalam sebuah catatan.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan, kepada CNBC dalam sebuah wawancara pada Senin bahwa tujuan sanksi AS terhadap Iran adalah "menciptakan kondisi yang membuat mereka ingin kembali ke meja perundingan".

Di sisi lain, kekhawatiran terhadap pasokan berpotensi mereda setelah Trump mengatakan pada Minggu bahwa minyak yang diperoleh berdasarkan kesepakatan dengan Venezuela akan digunakan untuk mengisi kembali Strategic Petroleum Reserve (SPR) AS.

Cadangan minyak strategis tersebut telah turun mendekati level terendah dalam 44 tahun. Sejumlah perusahaan energi, termasuk Chevron dan GE Vernova dari AS, ONGC dari India, Eni dari Italia, serta GeoPark dari Kolombia, disebut tengah berada dalam tahap akhir untuk menandatangani kesepakatan dengan Venezuela.

Empat sumber yang mengetahui persiapan tersebut mengatakan kesepakatan final terkait sejumlah proyek energi di negara anggota OPEC itu diharapkan segera ditandatangani setelah melalui proses negosiasi selama berbulan-bulan.

EDITOR: Estu Suryowati