JawaPos.com - Harga minyak mentah dunia dunia kompak turun pada perdagangan Kamis (13/8) seiring dengan Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) menurunkan proyeksi pertumbuhan minyak dunia untuk 2026.
Melansir Investing, kontrak berjangka minyak mentah Brent turun 0,31 poin atau 0,35 persen ke level 88,06 dollar per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik 0,98 poin atau 1,16 persen ke level USD 82,28 per barel.
Dilansir Reuters analis menurunkan proyeksi permintaan minyak global untuk 2026 akibat gangguan yang ditimbulkan oleh perang AS-Israel terhadap Iran. Namun, keterbatasan pasokan akibat konflik tersebut tetap menjadi faktor yang menahan penurunan harga di pasar.
Selain itu, Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) pada Rabu menurunkan proyeksi pertumbuhan permintaan minyak dunia untuk 2026 menjadi 580.000 barel per hari dalam laporan pasar minyak bulanannya.
Pada hari yang sama, Badan Energi Internasional (IEA) mengatakan pihaknya memperkirakan konsumsi minyak akan mengalami kontraksi sebesar 1,6 juta barel per hari tahun ini.
Angka tersebut lebih besar dibandingkan proyeksi kontraksi sebesar 1 juta barel per hari pada bulan sebelumnya. Penurunan tersebut disebabkan oleh terbatasnya pasokan bahan bakar dan kenaikan harga akibat perang AS-Israel terhadap Iran yang telah menekan permintaan.
Harga minyak juga berada di bawah tekanan setelah persediaan minyak mentah komersial AS secara mengejutkan meningkat. Persediaan tersebut mencatat kenaikan mingguan terbesar sejak Januari 2023 pada pekan lalu akibat penurunan ekspor, menurut data Badan Informasi Energi AS (EIA) pada Rabu.
Persediaan minyak mentah meningkat sebesar 17,4 juta barel menjadi 424,4 juta barel pada pekan yang berakhir 7 Agustus, sekaligus mencapai level tertinggi sejak 5 Juni. Angka tersebut berbanding terbalik dengan ekspektasi analis dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan persediaan akan turun sebesar 1,4 juta barel.
Meski demikian, kebuntuan dalam perundingan antara Iran dan AS untuk mengakhiri perang di kawasan Teluk membuat harga minyak tetap berada pada level yang tinggi.
Seorang sumber senior Iran mengatakan pada Rabu bahwa belum terdapat kemajuan dalam pembicaraan untuk menghidupkan kembali kesepakatan sementara yang dicapai pada Juni serta menentukan jangka waktu pelaksanaannya.
Serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb pada Selasa, yang merupakan dua jalur penting bagi ekspor minyak dan gas dari Timur Tengah, menunjukkan bahwa risiko terhadap pasokan minyak mentah dari kawasan tersebut masih tinggi.
"Situasi keamanan untuk pelayaran di perairan ini semakin memburuk, sehingga memaksa kapal-kapal mematikan sinyal mereka. Kondisi tersebut mengurangi transparansi pelayaran dan membuat pasar semakin sulit melacak serta menilai tingkat pasokan yang sebenarnya," kata analis Haitong Futures dalam sebuah catatan.
Sementara itu, kreator konten teknologi asal Nigeria, Cyril Okoi, menilai keputusan membeli kendaraan listrik (EV) memberikan keuntungan baginya ketika kenaikan harga bahan bakar terbaru di Nigeria mulai diberlakukan.