← Beranda
Harga Minyak Mentah Melonjak 3 Persen di Tengah Isu Jeda Serangan AS-Iran
Djati WaluyoRabu, 29 Juli 2026 | 15.39 WIB
Ilustrasi minyak mentah dunia.

 

JawaPos.com - Harga minyak mentah dunia dunia kompak naik pada perdagangan Rabu (29/7) setelah sempat melemah signifikan pada perdagangan Selasa (28/7) ditengah meningkatnya harapan bahwa jeda serangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dapat membuka perundingan untuk mengakhiri perang.

Melansir Investing, kontrak berjangka minyak mentah Brent naik 3,02 poin atau 3,70 persen ke level 84,86 dollar per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik 3,03 poin atau 3,82 persen ke level 82,35 dollar per barel.

Dilansir Reuters pasar tetap berhati-hati karena penghentian serangan sebelumnya hanya berlangsung sementara dan belum mampu menyelesaikan konflik yang mengganggu pasokan minyak global.

Pasalnya, ketegangan masih tinggi dan belum ada penyelesaian atas sengketa yang menyebabkan efektif tertutupnya Selat Hormuz, jalur yang sebelum perang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Baca Juga: 70 Persen Depot Air Isi Ulang Tak Higienis, Kemendag Soroti Rendahnya Kepatuhan Pelaku Usaha

Iran juga membantah tengah berupaya melanjutkan perundingan dengan AS, bertolak belakang dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengeklaim pembicaraan dengan Teheran berlangsung positif.

"Pasar memahami situasinya masih kacau dan harga diperdagangkan lebih rendah karena kedua pihak yang bertikai, yaitu AS dan Iran, tidak saling menyerang dalam beberapa hari terakhir," ujar Direktur Energy Futures, Mizuho Bob Yawger.

Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Mike Waltz, mengatakan Presiden AS Donald Trump saat ini memutuskan menghentikan sementara serangan AS untuk memberikan lebih banyak waktu bagi upaya diplomasi.

"Harapan semakin besar bahwa jalur diplomatik yang nyata mulai terbuka. Kembali ke nota kesepahaman (MoU) 14 poin dengan kejelasan yang lebih baik mengenai pengendalian Selat Hormuz akan menjadi langkah awal yang baik," tulis Analis pasar IG Tony Sycamore Sycamore dalam catatanya dikutip Reuters, Senin (27/7).

Meski begitu, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz belum sepenuhnya pulih. Data perusahaan pelacakan kapal Kpler menunjukkan kurang dari 10 kapal pengangkut komoditas melintasi selat tersebut setiap hari selama akhir pekan.

Selain itu, lalu lintas kapal di Selat Bab el-Mandeb juga menurun pada Minggu (26/7/2026) usai kelompok Houthi di Yaman menyerang fasilitas minyak Arab Saudi di pesisir Laut Merah. Meski demikian, sebuah supertanker ketiga asal China dilaporkan berhasil keluar melalui jalur tersebut.

Baca Juga: Prediksi IHSG 29 Juli dan Rekomendasi Saham ADMR, DSNG, ICBP, TPIA

"Pemulihan arus pelayaran melalui Selat Hormuz kemungkinan akan berlangsung lambat dan hanya sebagian, karena banyak perusahaan pelayaran masih berhati-hati dan membutuhkan keyakinan lebih besar terhadap keamanan sebelum kembali mengirim lebih banyak kapal kosong ke selat tersebut," ujar Analis MST Marquee, Saul Kavonic.

 

EDITOR: Sabik Aji Taufan