← Beranda
Rosan: Proyek HPAL Sambalagi Perkuat Ekosistem Industri Baterai
AntaraJumat, 24 Juli 2026 | 20.20 WIB
Rosan Perkasa Roeslani menyampaikan proyek High Pressure Acid Leaching (HPAL) Sambalagi di Morowali, Sulawesi Tengah, memperkuat ekosistem industri baterai kendaraan listrik (EV) nasional. (ANTARA)

 

JawaPos.com - Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Perkasa Roeslani menyampaikan proyek High Pressure Acid Leaching (HPAL) Sambalagi di Morowali, Sulawesi Tengah, memperkuat ekosistem industri baterai kendaraan listrik (EV) nasional.

Rosan mengatakan proyek HPAL Sambalagi menunjukkan bahwa hilirisasi mineral Indonesia telah memasuki tahap yang lebih maju.

Menurutnya, dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis, proyek tersebut tidak hanya menciptakan nilai tambah mineral, tetapi juga membangun ekosistem industri baterai kendaraan listrik yang terintegrasi, kompetitif, dan berkelanjutan.

"Sambalagi HPAL menetapkan standar baru, bukan sekadar mengikuti standar yang sudah ada. Proyek ini adalah bukti nyata bahwa kolaborasi Indonesia, Korea Selatan, dan Tiongkok dapat berjalan selaras dengan kepentingan nasional, yaitu membangun kedaulatan sumber daya, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat," ujar Menteri Rosan.

Keyakinan tersebut disampaikan Rosan seiring kedatangan autoclave, peralatan utama proyek HPAL Sambalagi, pada 22 Juli 2026. Proyek ini merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) pengembangan industri nikel terintegrasi yang berlokasi di Indonesia Green Industrial Park (IGIP), Morowali.

Autoclave yang terpasang memiliki kapasitas 1.268 meter kubik dan disebut sebagai generasi terbaru. Berdasarkan data GEM Co., Ltd. selaku pelaksana konstruksi, unit tersebut merupakan fasilitas dengan kapasitas terbesar yang pernah diterapkan pada proyek HPAL.

Proyek HPAL Sambalagi dikembangkan oleh PT Bahodopi Nickel Smelting Indonesia (BNSI), hasil kerja sama PT Vale Indonesia Tbk, GEM Co. Ltd. asal Tiongkok, dan EcoPro dari Korea Selatan.

Fasilitas ini akan mengolah bijih limonit menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), yaitu bahan baku utama industri baterai kendaraan listrik, dengan kapasitas produksi sekitar 90.000 ton kandungan nikel per tahun.

Dari sisi penyerapan tenaga kerja, proyek tersebut diproyeksikan menyerap sekitar 6.000 pekerja selama masa konstruksi dan sekitar 3.600 tenaga kerja saat beroperasi, termasuk untuk kegiatan penambangan dan fasilitas pengolahan.

Rosan menegaskan pembangunan fasilitas HPAL Sambalagi menjadi bagian dari strategi pemerintah melengkapi rantai nilai industri nikel nasional, mulai dari produksi MHP, nickel sulfate, precursor, cathode active material, hingga baterai kendaraan listrik.

Dengan demikian, Indonesia diharapkan tidak lagi hanya menjadi eksportir bahan mentah, tetapi menjadi pemain penting dalam rantai pasok global kendaraan listrik.

“Klaster industri hijau sudah kita rancang dari hulu ke hilir, dan HPAL adalah gerbang pertamanya," ujarnya.

Selain memperkuat hilirisasi nikel, proyek ini juga dirancang dengan prinsip keberlanjutan. Fasilitas HPAL Sambalagi diproyeksikan menuju Net Zero Emissions sejak tahap perencanaan melalui pemanfaatan sistem waste heat recovery dan energi surya untuk mendukung operasional rendah karbon.

Pemerintah juga mengapresiasi komitmen perusahaan dalam memberikan manfaat bagi masyarakat melalui pembangunan infrastruktur, fasilitas sosial, pelatihan tenaga kerja lokal, serta pembangunan HPAL Research Center untuk memperkuat kemandirian teknologi nasional.

"Kita sedang membangun ekosistem hilirisasi yang lengkap dan masa depan yang lebih baik bagi masyarakat Sulawesi Tengah dan Indonesia. Inilah makna sesungguhnya dari hilirisasi, yaitu menciptakan nilai, menciptakan kesempatan, dan menciptakan harapan," kata Menteri Rosan.

EDITOR: Estu Suryowati