JawaPos.com - Perbaikan sistem steam trap dan meningkatkan pengembalian kondesat menjadi kunci untuk menekan biaya produksi sekaligus mengurangi emisi karbon pada pabrik kelapa sawit.
Ketua Perkumpulan Praktisi Profesional Perkebunan Indonesia (P3PI), Edward Silalahi, mengatakan efisiensi energi harus menjadi perhatian utama pengelola pabrik kelapa sawit.
Pasalnya, proses pengolahan tandan buah segar (TBS) menjadi crude palm oil (CPO) dan palm kernel membutuhkan berbagai sumber daya, mulai dari energi, air, biaya operasional hingga tenaga kerja.
“Jadi kita perlu memakai steam itu sehemat mungkin,” ujar Edward dalam panel pada acara Pekan Riset Sawit Indonesia (Perisai) 2026, Jakarta, Selasa (21/7).
Edward mengatakan, selama ini energi di pabrik kelapa sawit relatif murah karena bersumber dari biomassa berupa serat dan cangkang yang dimanfaatkan sebagai bahan bakar boiler.
Dimana, nantinya uap yang dihasilkan kemudian digunakan untuk menggerakkan turbin pembangkit listrik sekaligus memenuhi kebutuhan energi proses produksi.
Kondisi tersebut, membuat sebagian pabrik kurang memperhatikan efisiensi penggunaan energi karena biaya bahan bakarnya relatif rendah dibandingkan industri hilir yang masih bergantung pada batu bara atau bahan bakar fosil.
“Karena harga relative murah, sehingga kadang-kadang di pabrik itu orang careless atau kurang begitu memperhatikan efisiensi energi ini, pembakaran ini kurang diperhatikan,” ujarnya.
Edward mengatakanm selain dapat menekan biaya operasional, efisiensi energi juga berkontribusi terhadap pengurangan emisi karbon. Semakin banyak biomassa yang dibakar, semakin besar pula emisi karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan.
Dia menjelaskan stasiun sterilisasi atau perebusan menjadi proses yang paling banyak mengonsumsi energi di pabrik kelapa sawit. Konsumsinya mencapai sekitar 40 persen dari total kebutuhan energi pabrik.
Karena itu, perusahaan perlu melakukan audit energi untuk mengetahui tingkat konsumsi uap maupun listrik di setiap tahapan produksi. Sebagai acuan, penggunaan uap yang tergolong baik berada pada kisaran 250 hingga 300 kilogram per ton tandan buah segar. Sementara konsumsi listrik ideal sekitar 15 hingga 18 kilowatt hour (kWh) per ton TBS.
Ia menambahkan, perbaikan steam trap menjadi langkah cepat (quick win) yang dapat segera diterapkan. Perangkat tersebut harus dipastikan bekerja dengan baik agar uap tidak ikut terbuang bersama kondensat.
Selain itu, tingkat pengembalian kondensat juga perlu ditingkatkan hingga sekitar 80 persen agar air panas hasil kondensasi dapat dimanfaatkan kembali sebagai air umpan boiler. Langkah tersebut tidak hanya menghemat energi, tetapi juga mengurangi konsumsi air bersih.
“kalau bisa sampai 80% harus di return dia, digunakan lagi sebagai air. Selain daripada hemat energi, hemat air seperti yang kita ketahui kan kita sekarang krisis air bersih dan lain-lain ya,” ungkapnya.