← Beranda
Cetuskan 'Kebun Energi', Agro Investama Beri Solusi Cegah Penolakan Hasil Panen Petani Sawit
Djati WaluyoSelasa, 21 Juli 2026 | 22.33 WIB
Ilustrasi petani kelapa sawit. (Istimewa)

 

JawaPos.com - Direktur Utama PT Agro Investama, Petrus Tjandra, mengusulkan agar tandan buah segar (TBS) sawit milik petani dialokasikan sebagai bahan baku energi yang telah dicanangkan oleh pemerintah.

Petrus menilai, dengan menggunakan skema tersebut maka akan mengurangi kekhawatiran petani terhadap penolakan buah karena kualitas, sementara produksi minyak goreng dan produk turunan sawit lainnya tetap difokuskan oleh perusahaan besar dan BUMN.

“Jadi kita katakan, saya mengusulkan suatu kata, kebun kita, kebun energi,” ujar Petrus dalam panel pada acara Pekan Riset Sawit Indonesia (Perisai) 2026, Jakarta, Selasa (21/7).

Petrus mengatakan, dengan strategi tersebut maka petani sawit tidak lagi takut buahnya ditolak karena terlalu matang atau busuk. Pasalnya, untuk diproses menjadi energi atau biodiesel yang diperlukan adalah minyaknya, Dimana buah yang yang lebih matang justru mengandung minyak lebih banyak.

Ia mengatakan, sejak adanya Perkebunan kelapa sawit kawasan perkebunan sudah ditetapkan peruntukannya: ada kebun untuk energi, ada kebun untuk pangan dan ada untuk kebutuhan lainnya.

“Jadi, sejak awal kita bicara sama Kementan, kebun ini untuk energi, kebun ini untuk cooking oil, dan sebagainya. Sehingga petani tidak pernah lagi ada reject buah busuk,” ujarnya.

Sebagaimana diketahui, Implementasi mandatori Biodiesel B50 membutuhkan tambahan pasokan Crude Palm Oil (CPO) sekitar 1,74 juta ton hingga akhir tahun. Secara total, program yang diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto ini menargetkan alokasi sekitar 5,3 juta ton CPO untuk diserap sebagai bahan baku energi domestic.

Presiden Prabowo Subianto, mengatakan implementasi B50 menjadi bukti bahwa Indonesia mampu memanfaatkan kekayaan alamnya sendiri untuk kepentingan rakyat.

“Saudara-saudara sekalian, dengan diluncurkan program ini, Indonesia resmi menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan mandatori biodiesel B50,” ujar Prabowo dalam peluncuran B50, Kamis (9/7).

Prabowo mengatakan, hadirnya program membuat Indonesia memimpin dalam mengurangi emisi karbon yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor. Ia menjelaskan, dengan adanya program B50 maka Indonesia setidaknya akan mengurangi emisi karbon hingga 44 juta ton karbondioksida equivalent (CO2e).

“Kita leading mereka tahu kita punya program B50 tadi emisi kita hemat 44 juta Ton karbon dioksida equivalen,” ujarnya.

EDITOR: Estu Suryowati