← Beranda
DEN: Ketahanan Energi dan Transisi Energi Harus Berjalan Bersamaan
Ilham SafutraJumat, 5 Juni 2026 | 21.48 WIB
Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN) Dadan Kusdiana. (Dok. JawaPos.com/Nurul Fitriana)

JawaPos.com - Kebutuhan energi domestik terus meningkat. Peningkatan ini harus diiringi dengan ketahanan energi yang berkelanjutan. 

Menurut Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN) Dadan Kusdiana ketidakseimbangan ketahanan energi dengan peningkatan kebutuhan energi domestik menunjukkan agenda transisi menuju energi bersih harus dipercepat. 

Langkah itu merupakan bagian dari strategi jangka panjang menuju target net zero emission 2060. Tantangannya, menjaga pasokan energi tetap aman, terjangkau, sekaligus lebih ramah lingkungan.

“Sekarang masanya bukan memilih antara ketahanan energi atau transisi energi. Dua-duanya harus dilakukan secara bersamaan. Kita harus memastikan energi di Indonesia tetap secure dan resilient, tetapi di saat yang sama juga semakin bersih,” kata Dadan dalam sebuah forum diskusi baru-baru ini.

Baca Juga: Ketahanan Energi Jadi Fokus Pengelolaan Industri Kelapa Sawit

Lebih lanjut Dadan menjelaskan, kondisi global yang penuh ketidakpastian membuat setiap negara kini berupaya memperkuat kemandirian energinya masing-masing. Tak terkecuali Indonesia yang juga harus terus mempercepat berbagai langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor energi, khususnya bahan bakar minyak (BBM).

DEN mencatat konsumsi minyak nasional saat ini mencapai sekitar 1,52 juta barel per hari. Sementara, produksi domestik masih berada di kisaran 610 ribu barel per hari. Selisih tersebut membuat Indonesia masih harus melakukan impor energi dalam jumlah besar.

“Kalau kebutuhan impor mencapai sekitar satu juta barel per hari dan harga minyak berada di level 100 dolar AS per barel, artinya setiap hari kita membutuhkan sekitar 100 juta dolar AS untuk membeli minyak mentah. Ini menjadi tantangan besar bagi ketahanan energi nasional,” kata Dadan.

Baca Juga: Hadiri KTT ke-48 ASEAN, Prabowo Tegaskan Ketahanan Energi Masalah Mendesak

Alumnus Kyoto University itu menambahkan, sektor transportasi masih menjadi penyumbang konsumsi BBM terbesar di Indonesia. Dengan jumlah sepeda motor mencapai sekitar 140 juta unit dan mobil penumpang lebih dari 20 juta unit, kebutuhan energi berbasis fosil masih sangat tinggi.

Dadan juga mendorong percepatan elektrifikasi transportasi, termasuk melalui program konversi sepeda motor BBM menjadi motor listrik serta pengembangan infrastruktur kendaraan listrik nasional.

Selain elektrifikasi, pemerintah juga mempercepat pengembangan energi baru terbarukan, salah satunya panas bumi. Menurut Dadan, panas bumi menjadi energi strategis karena mampu menyediakan pasokan listrik yang stabil dan berkelanjutan.

Baca Juga: Bahlil Klaim Indonesia Peringkat Kedua Negara dengan Ketahanan Energi Terbaik di Dunia

“Panas bumi diposisikan sebagai salah satu energi utama dalam bauran energi nasional. Keberhasilannya sudah terbukti selama puluhan tahun dan ini menjadi modal penting untuk memperkuat ketahanan energi Indonesia,” ujarnya.

EDITOR: Ilham Safutra