← Beranda
Jepang Mulai Bernapas, Tanker Minyak Kedua Berhasil Tinggalkan Selat Hormuz
Dhimas GinanjarJumat, 15 Mei 2026 | 17.54 WIB
Kapal di Selat Hormuz, dekat Bandar Abbas, Iran (Al-Jazeera)

 
JawaPos.com – Jepang mulai mendapat sedikit kelegaan di tengah ancaman krisis energi. Tanker minyak kedua yang menuju Jepang akhirnya berhasil melewati Selat Hormuz.

Seperti dilansir Kyodo, Jumat (15/5), kapal tanker tersebut milik grup Eneos Holdings Inc.. Kapal bernama Eneos Endeavor itu kini melanjutkan perjalanan menuju Jepang.

Keberhasilan ini penting karena Selat Hormuz menjadi jalur vital pasokan energi global. Jepang sendiri sangat bergantung pada minyak mentah dari Timur Tengah.

Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi mengatakan kapal itu melintas tanpa membayar biaya kepada Iran. Di dalam kapal terdapat empat awak berkewarganegaraan Jepang.

Pemerintah Jepang mengaku terus menekan jalur diplomatik agar kapal-kapal terkait Jepang bisa keluar. Saat ini masih ada 39 kapal yang terhubung dengan Jepang di Teluk Persia.

“Kami akan terus mengerahkan seluruh upaya diplomatik,” kata Motegi. Fokusnya memastikan kapal lain juga bisa segera melintas.

Presiden Eneos, Tomohide Miyata, menyebut pihaknya lega kapal berhasil keluar dengan aman. Namun, ia tidak membeberkan detail waktu pelayaran.

Kapal itu diperkirakan tiba di Jepang antara akhir Mei hingga awal Juni. Berdasarkan data pelacakan kapal, tujuan akhirnya adalah Pelabuhan Kiire di Prefektur Kagoshima.

Ini menjadi tanker kedua tujuan Jepang yang berhasil melewati jalur tersebut sejak perang AS-Israel melawan Iran pecah. Sebelumnya, kapal milik anak usaha Idemitsu Kosan Co. juga berhasil melintas.

Ketegangan di kawasan telah mengguncang pasar energi. Kekhawatiran gangguan pasokan membuat harga minyak mentah melonjak.

Di saat yang sama, Eneos justru memperkirakan laba bersih tahun fiskal 2026 naik menjadi 415 miliar yen (sekitar Rp46,1 triliun). Kenaikannya sekitar 1,6 kali lipat dibanding tahun sebelumnya.

Perusahaan juga memprediksi laba operasional mencapai 610 miliar yen (sekitar Rp67,7 triliun). Penjualan diperkirakan naik menjadi 12,85 triliun yen (sekitar Rp1.426 triliun).

Namun Eneos tetap bersiap menghadapi skenario lebih buruk. Perusahaan mulai bekerja sama dengan pemerintah untuk mencari pasokan alternatif dari AS dan Asia Tengah, termasuk opsi menghindari Selat Hormuz.

EDITOR: Dhimas Ginanjar