← Beranda
Boom Kebutuhan LNG PLN Sampai 2034, Proyeksi Tumbuh 4,5 Persen per Tahun
Nanda PrayogaKamis, 14 Mei 2026 | 14.07 WIB
PLN EPI prediksi kebutuhan LNG melonjak hingga 2034 dengan pertumbuhan 4,5 persen per tahun. (ANTARA)

 

JawaPos.com - PT PLN Energi Primer Indonesia memperkirakan kebutuhan gas untuk pembangkit listrik akan terus meningkat hingga 4,5 persen per tahun sejalan dengan pertumbuhan konsumsi listrik nasional dan masifnya elektrifikasi di berbagai sektor.

"Hingga 2034, kebutuhan gas PLN diperkirakan tumbuh sekitar 4,5 persen per tahun, dengan liquefied natural gas (LNG) menjadi tulang punggung dalam mendukung transisi energi Indonesia," ujar Direktur Utama PLN EPI, Rakhmad Dewanto seperti dikutip dari Antara, Rabu (13/5).

Menurut Rakhmad, sektor ketenagalistrikan diproyeksikan menjadi motor utama pertumbuhan kebutuhan energi nasional dalam beberapa tahun mendatang.

Berdasarkan proyeksi McKinsey dan Rencana Umum Ketenagalistrikan (RUKN) 2025, kontribusi listrik terhadap total kebutuhan energi primer nasional diperkirakan meningkat dari 28 persen pada 2025 menjadi 38 persen pada 2035. Peningkatan tersebut didorong oleh elektrifikasi di sektor industri, transportasi, rumah tangga, hingga pusat data.

“Power sector diproyeksikan tumbuh paling tinggi sekitar 4,6-5,4 persen per tahun, didorong elektrifikasi di sektor transportasi, industri, residensial, hingga pertumbuhan data center,” kata Rakhmad saat menjadi pembicara dalam 11th Annual LNG Supply, Transport & Storage Forum 2026 di Bali.

Forum internasional tersebut menjadi ajang pertemuan para pelaku industri gas global untuk membahas perkembangan rantai pasok LNG di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara.

PLN memperkirakan produksi listrik nasional akan melonjak hampir dua kali lipat dari 283,7 TWh pada 2024 menjadi sekitar 581-584 TWh pada 2034.

Rakhmad menjelaskan, meskipun porsi energi baru terbarukan meningkat signifikan, batu bara dan gas bumi masih akan memegang peranan penting dalam menjaga keandalan sistem ketenagalistrikan nasional.

Pada 2034, batu bara diperkirakan masih menyumbang sekitar 47 persen terhadap produksi listrik nasional. Sementara itu, kebutuhan gas diproyeksikan meningkat 2,3 hingga 2,7 kali lipat menjadi 132,3 TWh atau setara 18-23 persen dari bauran pembangkit listrik nasional, meski energi terbarukan tumbuh hingga 4,8-5,6 kali lipat.

PLN EPI juga memperkirakan kebutuhan gas PLN meningkat dari 1.748 BBTUD pada 2026 menjadi 2.490 BBTUD pada 2034. Peningkatan tersebut terutama akan ditopang LNG seiring berkurangnya pasokan gas pipa domestik.

“Kebutuhan LNG akan terus meningkat untuk menutup penurunan produksi gas domestik melalui pipa dan memenuhi pertumbuhan permintaan listrik,” jelasnya.

Sejalan dengan itu, kebutuhan kargo LNG diproyeksikan naik 4,5 persen per tahun dari 103 kargo pada 2026 menjadi 214 kargo pada 2034. Di sisi lain, volume kontrak gas pipa PLN diperkirakan turun dari 757 BBTUD menjadi 667 BBTUD dalam periode yang sama.

Untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan tersebut, PLN EPI terus memperkuat pasokan melalui kontrak jangka panjang, termasuk kerja sama gas pipa dengan Conrad dan Mubadala yang ditandatangani tahun lalu.

Selain penguatan kontrak, PLN EPI juga mempercepat pembangunan infrastruktur gas dan LNG nasional melalui berbagai proyek midstream, seperti floating storage regasification unit (FSRU), LNG carrier, onshore receiving unit (ORU), hingga pembangunan pipa WNTS-Pemping.

Sejumlah proyek yang tengah dikembangkan mencakup FSRU Jawa Barat 1 dan 2, FSRU Jawa Timur, FSRU Bali, serta FSRU Cilegon. Pengembangan klaster LNG di Sumatera-Kalimantan, Sulawesi-Maluku, Papua Utara, hingga Nusa Tenggara juga terus dilakukan untuk mendukung program gasifikasi pembangkit di wilayah kepulauan.

Secara keseluruhan, PLN EPI menargetkan kapasitas regasifikasi mencapai 3.850 MMSCFD dengan kapasitas penyimpanan hingga 1,2 juta meter kubik.

“Ini bukan lagi pilihan. Infrastruktur gas dan LNG harus dibangun untuk mendukung ketahanan energi dan transisi energi Indonesia,” tutur Rakhmad.

EDITOR: Estu Suryowati