← Beranda
Laporan Terbaru IEA: Indonesia jadi Penyumbang Emisi Metana Terbesar Kedua di Asia Tenggara
Nanda PrayogaKamis, 7 Mei 2026 | 19.34 WIB
Ilustrasi aktivitas pertambangan batu bara dan pengolahan migas jadi pemicu emisi metana. Data IEA sebut Indonesia kontributor terbesar emisi metana di Asia Selatan dan Asia Tenggara. (Antara)

 

JawaPos.com - Indonesia tercatat sebagai salah satu kontributor utama emisi metana dari sektor energi fosil di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara. Sepanjang 2025, emisi metana dari sektor ini mencapai lebih dari 3 juta ton, dengan porsi terbesar berasal dari aktivitas pertambangan batu bara, disusul oleh minyak dan gas bumi.

Dalam laporan terbaru International Energy Agency (IEA) bertajuk Global Methane Tracker 2026, disebutkan bahwa sektor bahan bakar fosil secara global menyumbang sekitar 35 persen dari total emisi metana.

Tingginya kontribusi ini sejalan dengan rekor produksi minyak, gas, dan batu bara pada 2025. Secara keseluruhan, emisi metana dari sektor tersebut diperkirakan mencapai 124 juta ton per tahun, dengan batu bara menyumbang sekitar 43 juta ton.

Secara global, Tiongkok menjadi penghasil emisi metana energi fosil terbesar dengan angka mencapai 25 juta ton. Indonesia berada di posisi kedelapan dunia, namun di tingkat kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara menempati posisi kedua setelah India yang emisinya hampir menyentuh 4 juta ton.

Baca Juga: Luput dari Perhatian, Dampak Emisi Gas Metana dari Tambang Batu Bara terhadap Pemanasan Global Lebih Besar Dibanding Karbon Dioksida

“Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai negara dan perusahaan telah meningkatkan ambisi mereka terkait metana, sehingga isu ini menjadi prioritas utama dalam agenda kebijakan. Namun, penetapan target pengurangan hanyalah langkah awal, dan penting untuk memastikan target tersebut didukung oleh kebijakan, rencana implementasi, dan tindakan nyata,” kata Tim Gould, Kepala Ekonom Energi IEA dalam keterangannya, dikutip Kamis (7/5).

Di kawasan ini, tambang batu bara menjadi sumber utama emisi metana dengan kontribusi lebih dari 60 persen dari total 13 juta ton emisi pada 2025.

Sementara itu, Senior Analis Iklim dan Energi untuk Indonesia dari EMBER, Dody Setiawan, mengungkapkan bahwa data emisi metana tambang batu bara (Coal Mine Methane/CMM) yang dilaporkan pemerintah masih sangat terbatas. Berdasarkan temuan IEA, Indonesia bahkan menempati posisi ketiga sebagai penghasil emisi metana dari tambang batu bara, setelah Tiongkok dan Rusia.

Baca Juga: Di COP29 Azerbaijan, Pertamina Beberkan Upaya Menekan Emisi Metana di Indonesia

“Berdasarkan pelacakan, intensitas metana Indonesia 12,5 kali lebih tinggi daripada faktor emisi yang saat ini digunakan oleh pemerintah. Untuk meningkatkan akurasi inventaris emisi dan mendorong akuntabilitas di tingkat perusahaan, Indonesia harus mulai mengukur emisi tambang batu bara dan mengembangkan faktor emisi spesifik wilayah,” ungkap Dody.

Meski Indonesia bersama beberapa negara seperti Nigeria dan Tiongkok telah memiliki regulasi terkait emisi metana dan praktik flaring, pelaksanaannya masih menghadapi berbagai kendala. Di antaranya keterbatasan teknologi verifikasi, kurangnya pelatihan dalam deteksi emisi, serta sistem pengumpulan data perusahaan yang belum memadai.

Padahal, menurut IEA, sekitar 70 persen emisi metana dari sektor bahan bakar fosil sebenarnya bisa ditekan dengan teknologi yang sudah tersedia. Di sektor tambang batu bara, pengurangan dapat dilakukan dengan menangkap dan memanfaatkan metana, atau menghilangkannya melalui pembakaran maupun oksidasi.

Sementara pada sektor minyak dan gas, penggunaan teknologi seperti vapour-recovery units memungkinkan penangkapan metana bertekanan rendah yang sebelumnya terbuang.

Baca Juga: Tekan Emisi Metana, MedcoEnergi Terapkan Teknologi Nitrogen di Blok Corridor

Lebih lanjut, laporan tersebut juga menyebutkan bahwa lebih dari 35 juta ton emisi metana dapat dikurangi tanpa biaya tambahan, terutama di sektor minyak dan gas. Hal ini dimungkinkan karena biaya pengurangan emisi lebih rendah dibandingkan nilai ekonomi gas yang berhasil ditangkap dan dimanfaatkan. Nilai tersebut bahkan semakin meningkat seiring kenaikan harga bahan bakar fosil.

“Ini bukan hanya masalah iklim, ada juga manfaat besar bagi keamanan energi yang dapat diperoleh dari mengatasi emisi metana dan pembakaran gas berlebih, terutama pada saat dunia sangat membutuhkan pasokan tambahan di tengah krisis saat ini,” tukas Tim Gould.

EDITOR: Estu Suryowati