JawaPos.com - Sejumlah akademisi dari berbagai perguruan tinggi menyoroti hasil pemantauan ilmiah terkait kondisi ekosistem laut dalam di wilayah Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NBT). Temuan ini berasal dari Studi Rekolonisasi yang dilakukan di area operasional PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), yang menunjukkan adanya indikasi kemampuan adaptasi biota laut terhadap lingkungan sekitarnya.
Studi tersebut bertujuan untuk menguji kemampuan pemulihan alami ekosistem laut melalui pendekatan eksperimental. Dalam pelaksanaannya, wadah terkontrol ditempatkan di dasar laut untuk memantau bagaimana organisme laut merespons dan tumbuh kembali di atas material tailings yang berada di area tersebut.
Dr. M. Mukhlis Kamal dari Institut Pertanian Bogor (IPB) menyampaikan bahwa dalam program rekolonisasi bentos di substrat tailing milik AMNT, hasil pengamatan menunjukkan ditemukannya berbagai organisme dasar perairan pada sampel yang diteliti.
Baca Juga: AMMAN Ungkap Kinerja 2025: Tahun Transisi Berat, tapi Berhasil Tembus Target Produksi
"Kemunculan organisme seperti udang, cacing laut, dan kerang ternyata berlangsung lebih cepat dari perkiraan awal. Hal ini mengindikasikan bahwa proses adaptasi dan pemulihan alami komunitas bentos di atas substrat tailing berjalan dengan sangat baik," jelasnya dalam laporan tertulis, dikutip Selasa (21/4).
Ia juga menambahkan bahwa temuan mengenai keberhasilan rekolonisasi bentos ini sejalan dengan sejumlah studi serupa yang sebelumnya dilakukan oleh AMMAN di lokasi yang sama pada periode tahun 2002, 2005, dan 2009.
"Konsistensi data selama lebih dari dua dekade tersebut memberikan dasar ilmiah yang kuat bahwa operasional AMMAN yang dilakukan dengan standar ketat memungkinkan biota laut, khususnya organisme bentos, untuk kembali tumbuh dan hidup secara alami di atas lapisan endapan tailing," lanjutnya.
Pandangan serupa disampaikan oleh Prof. Joni Safaat Adiansyah, Ph.D., akademisi lingkungan hidup dari Universitas Muhammadiyah Mataram. Menurutnya, pendekatan berbasis pemantauan ilmiah dapat memberikan informasi penting dalam memahami interaksi antara aktivitas industri dan kondisi lingkungan.
Baca Juga: AMMAN Kantongi Izin Ekspor Konsentrat Tembaga 480 Ribu dmt hingga April 2026
"Data yang tersedia dapat menjadi salah satu referensi dalam menilai bagaimana pengelolaan lingkungan dilakukan serta dampaknya terhadap ekosistem. Perlindungan keanekaragaman hayati yang dijalankan perusahaan secara berkala merupakan langkah nyata dalam menjaga potensi ekonomi maritim bagi masyarakat Nusa Tenggara Barat untuk jangka panjang," ujar Prof. Joni.
Kolaborasi Riset
Selain studi rekolonisasi, AMMAN secara rutin melakukan studi laut dalam (deep sea study) yang melibatkan kolaborasi lintas institusi. Program pemantauan ini melibatkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kementerian ESDM, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Pertahanan, serta Politeknik Ahli Usaha Perikanan (KKP).
Keterlibatan berbagai institusi negara dan akademisi independen ini bertujuan untuk memastikan bahwa seluruh proses pemantauan lingkungan yang dilakukan AMMAN—mulai dari pengambilan data, analisis, hingga evaluasi—berjalan secara transparan, akuntabel, dan memenuhi standar ilmiah internasional.