← Beranda
Gunungan Sampah Bantargebang Tembus 55 Juta Ton, Pramono Kebut Proyek PSEL
Ryandi ZahdomoRabu, 1 April 2026 | 04.32 WIB
Alat berat memindahkan sampah di TPA Bantar gebang, Bekasi, Jawa Barat. (Salman Toyibi/Jawa Pos)

 

JawaPos.com - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung bergerak cepat merespons instruksi Presiden Prabowo Subianto terkait darurat sampah di ibu kota. Lahan di TPST Bantargebang kini telah disiapkan untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) guna mengurai gunungan sampah yang mencapai puluhan juta ton.

Kondisi TPST Bantargebang saat ini dinilai sudah sangat kritis. Akumulasi sampah yang menumpuk selama bertahun-tahun membuat beban lahan di sana tidak lagi ideal untuk menampung pembuangan konvensional.

Pramono Anung mengakui bahwa proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) adalah langkah mendesak. Ia menyebutkan telah menjalin komunikasi intens dengan Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, untuk memastikan kesiapan lahan.

"Saya tadi komunikasi langsung dengan Pak Menko Pangan dan beliau meminta untuk lahan di Bantar Gebang yang dipersiapkan untuk pembangkit listrik tenaga sampah sudah kami persiapkan. Sebenarnya kami sudah berkirim surat kepada Bapak Menko Pangan," ujar Pramono di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (31/3).

Target Tiga Pembangkit Listrik Tenaga Sampah di Jakarta

Menurut Pramono, Jakarta tidak hanya mengandalkan satu titik. Rencananya, akan ada tiga fasilitas PLTSa yang dibangun untuk mengatasi persoalan sampah secara sistematis. Hal ini selaras dengan visi pemerintah pusat dalam mempercepat transisi energi berbasis limbah.

"Memang saya setuju dengan Pak Menko, Bantargebang ini kan sudah terlalu lama sekali, bebannya terlalu berat. Di sana sudah ada sampah 55 juta tanpa bermaksud menyalahkan siapa pun, ini sudah peristiwa yang dari waktu ke waktu," kata Pramono.

Ia menambahkan bahwa Pemprov DKI Jakarta telah mengirimkan surat resmi kepada kementerian terkait untuk menindaklanjuti arahan Presiden. "Arahan Bapak Presiden untuk pembangkit listrik tenaga sampah termasuk di dalamnya di Bantargebang, kami segera tindak lanjuti dan Jakarta untuk pembangkit listrik tenaga sampah akan ada tiga," ucapnya.

Prabowo Instruksikan Sampah di Jakarta Jadi Listrik

Diketahui, Presiden Prabowo Subianto menggelar pertemuan dengan Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BPI Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, beserta jajaran menteri lainnya di Hambalang, Bogor, Rabu (25/3).
 
Dalam pertemuan itu, Prabowo ingin percepatan dalam mengatasi krisis sampah di kota-kota besar Indonesia. Melalui skema Waste to Energy (WTE), tumpukan sampah yang selama ini membebani daerah ingin disulap menjadi sumber energi listrik yang bermanfaat.

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengungkapkan, fokus utama program ini adalah wilayah-wilayah dengan volume sampah tinggi. Target utamanya mencakup DKI Jakarta, Tangerang, Bandung, hingga Bali.

"Kepala Danantara Bapak Rosan Roeslani melaporkan perkembangan program Waste To Energy (WTE) atau program pengelolaan Sampah menjadi Energi di seluruh Indonesia, khususnya yang berada di kota-kota besar dan padat penduduk seperti DKI Jakarta, Tangerang, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, Bali, dan kota lainnya di Indonesia," ujar Seskab Teddy dalam keterangannya.

Presiden Prabowo tidak ingin penanganan sampah dilakukan setengah-setengah. Ia menekankan perlunya integrasi antara pemerintah pusat dan daerah agar persoalan lingkungan ini segera tuntas sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Seskab Teddy menegaskan keinginan Kepala Negara agar tumpukan sampah lama segera dieksekusi menggunakan teknologi modern.

“Presiden Prabowo menginginkan Pemerintah Pusat segera mengelola sampah-sampah yang telah lama tidak tertangani dengan baik di daerah untuk segera dibersihkan, dihilangkan, dan dimanfaatkan untuk menjadi energi terutama energi listrik,” imbuh Seskab Teddy.

Program hilirisasi sampah ini diharapkan menjadi solusi "dua arah". Selain membersihkan kota dari polusi sampah, proyek ini akan menciptakan lapangan kerja baru dan mendorong kemandirian energi yang lebih ramah lingkungan.

Dengan pengelolaan yang terintegrasi, kota-kota di Indonesia kini bersiap menuju masa depan yang lebih bersih, berkelanjutan, dan memiliki nilai ekonomi tinggi dari limbah domestik.

EDITOR: Estu Suryowati