← Beranda
Harga Emas Dunia Terjun Bebas ke USD 4.013 per Ons Gara-gara Minyak
Djati Waluyo• Sabtu, 24 Oktober 2026 | 00.46 WIB
Ilustrasi emas batangan. (Istimewa).

JawaPos.com - Harga emas dunia kembali melemah pada perdagangan Jumat (23/10) dan menuju penurunan mingguan terdalam, alias terjun bebas dalam lebih dari empat bulan terakhir.

Dilansir dari Reuters, Kenaikan harga minyak yang tinggi memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga akan bertahan di level tinggi lebih lama, sementara investor menantikan pertemuan kebijakan Federal Reserve (The Fed) pekan depan.

Kondisi ini membuat harga emas terus tertekan. Harga emas di pasar spot turun 0,3 persen menjadi USD 4.013,34 per ons pada pukul 08.15 GMT.

Penurunan sedikit mereda setelah harga emas sempat menyentuh level terendah sejak 20 Juli pada awal perdagangan.

Baca Juga: Harga Emas Antam di Pegadaian Turun Rp 4.000, Cek Daftar Terbaru

Sepanjang pekan ini, harga emas telah merosot 3,6 persen dan berada di jalur penurunan mingguan terdalam sejak Juni.

Sebagai informasi, harga emas dunia sempat menyentuh USD 4.489 per troy ons pada 2 Juni 2026. Terpaut cukup jauh dibandingkan dengan level harga saat ini.

Bahkan, bila ditarik lebih jauh, harga emas dunia sempat menyentuh USD 5.081 per troy ons pada Januari 2026.

Sementara, kontrak berjangka emas Amerika Serikat (AS) untuk pengiriman Desember turun 0,8 persen menjadi USD 4.028 per ons.

Kepala Riset Pasar Capital.com, Monte Safieddine, mengatakan jika harga emas menembus level tersebut secara meyakinkan, hal itu akan menandakan bahwa pasar tidak lagi memperhitungkan pelonggaran suku bunga.

Baca Juga: Harga Emas Antam di Pegadaian Turun Rp 20 Ribu, Cek Daftar Terbaru

“Melainkan mulai mengantisipasi inflasi yang persisten, imbal hasil obligasi yang tinggi, dan penguatan dolar AS,” ujar Monte.

Harga minyak naik pada Jumat (23/10) setelah serangan kelompok Houthi di Arab Saudi memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi lebih lanjut dari kawasan Timur Tengah.

Harga energi yang tinggi memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga di level tinggi lebih lama.

Kondisi ini meningkatkan peluang pemegang emas batangan tidak akan mendapatkan imbal hasil bunga.

“Eskalasi lebih lanjut dalam situasi geopolitik berisiko mendorong harga minyak semakin tinggi. Kenaikan harga minyak kembali memicu kekhawatiran inflasi, mendorong kenaikan imbal hasil, dan menunda pelonggaran kebijakan The Fed. Kombinasi ini menjadi tantangan bagi emas,” ujarnya.

Baca Juga: Harga Emas Antam di Pegadaian Naik Rp 9.000, Kini Dibanderol Rp 2,613 Juta

Perhatian pasar kini tertuju pada pertemuan kebijakan The Fed pada 27–28 Oktober dan data Personal Consumption Expenditures (PCE) yang akan dirilis pekan depan.

Data tersebut menjadi salah satu indikator penting karena merupakan ukuran inflasi yang menjadi acuan utama bank sentral AS untuk mencapai target inflasi 2 persen.

Para pedagang secara umum memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga tidak berubah pada pekan depan. Namun, ekspektasi kenaikan suku bunga pada Desember masih berada di level 80 persen.

Sementara itu, analis HSBC memangkas proyeksi rata-rata harga platinum dan paladium untuk 2026 dalam catatan riset pada Kamis.

Keputusan tersebut didasarkan pada perubahan fundamental pasar dan aksi likuidasi investor.

Baca Juga: Harga Emas Antam di Pegadaian Naik Rp 4.000, Cek Daftar Terbaru 16 Oktober

Di pasar logam mulia lainnya, harga perak di pasar spot turun 1,2 persen menjadi USD 53,85 per ons.

Sementara, harga platinum melemah 0,7 persen menjadi USD 1.559,76 per ons, sedangkan paladium stabil di level USD 1.053,41 per ons.

EDITOR: Bayu Putra