JawaPos.com - Gangguan listrik berupa pemadaman berskala besar atau blackout menjadi salah satu peristiwa yang menyita perhatian masyarakat di dua tahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Gangguan listrik terjadi di sejumlah wilayah, mulai dari Bali pada 2025 hingga Sumatera, Jawa, dan Kepulauan Riau pada 2026.
Dampak pemadaman tersebut tidak hanya dirasakan rumah tangga, tetapi juga aktivitas ekonomi, transportasi, layanan publik, hingga konektivitas digital. Meski sama-sama berkaitan dengan gangguan pasokan listrik, setiap peristiwa memiliki penyebab dan cakupan yang berbeda.
Berikut 5 peristiwa blackout dan pemadaman listrik berskala luas yang menjadi sorotan selama dua tahun awal pemerintahan Prabowo-Gibran!
1. Blackout Bali pada Mei 2025, Listrik Padam hingga Bandara Terdampak
Pulau Bali mengalami pemadaman listrik secara luas pada Jumat, 2 Mei 2025, sekitar pukul 16.00 WITA. Gangguan tersebut berdampak pada berbagai wilayah, termasuk Denpasar dan kawasan sekitarnya.
Pada awal kejadian, PLN menyampaikan indikasi gangguan pada PLTU Celukan Bawang Unit 2. Namun, penjelasan lanjutan PLN menyebut gangguan pada sistem penyaluran listrik, termasuk kabel bawah laut yang menghubungkan Jawa dan Bali, menyebabkan pasokan listrik di Bali terganggu.
Akibatnya, sejumlah pembangkit di Bali turut keluar dari sistem kelistrikan. PLN kemudian melakukan pemulihan secara bertahap dengan mengerahkan personel dan mengoptimalkan pasokan dari pembangkit yang tersedia.
Gangguan tersebut juga menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi layanan publik, termasuk operasional Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. PLN melaporkan pasokan listrik bagi pelanggan terdampak telah kembali normal pada Sabtu, 3 Mei 2025.
2. Blackout Sumatera pada Mei 2026, Gangguan Transmisi Picu Pemadaman Massal
Pada Jumat, 22 Mei 2026, sebagian wilayah Sumatera mengalami blackout setelah gangguan pada jaringan transmisi listrik. Pemadaman tersebut berdampak pada sejumlah daerah, termasuk Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, dan sebagian Sumatera Selatan.
PLN menjelaskan gangguan bermula pada jaringan transmisi bertegangan 275 kilovolt di wilayah Jambi. Cuaca buruk berupa hujan lebat dan angin kencang diduga memicu gangguan tersebut, yang kemudian menyebabkan ketidakstabilan sistem kelistrikan.
Gangguan pada jaringan transmisi memicu efek berantai sehingga sejumlah pembangkit listrik keluar dari sistem. Akibatnya, pasokan listrik di beberapa wilayah terganggu secara bersamaan.
Bareskrim Polri bersama PLN melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab kejadian tersebut. Hasil investigasi awal yang diumumkan pada 25 Mei 2026 menyebut tidak ditemukan indikasi sabotase maupun unsur kesengajaan.
3. Pemadaman Bergilir di Jawa pada Juni 2026, Dua PLTU Mengalami Gangguan
Belum genap sebulan setelah blackout Sumatera, sejumlah wilayah di Pulau Jawa mengalami pemadaman bergilir pada Juni 2026. Gangguan tersebut terjadi ketika kemampuan pasokan listrik berkurang akibat masalah pada pembangkit.
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo pada 20 Juni 2026 menjelaskan bahwa dua pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) besar yang dioperasikan mitra swasta mengalami gangguan teknis. Selain itu, persoalan pasokan batu bara berkalori menengah turut memengaruhi kondisi pasokan listrik.
PLN melakukan pengaturan beban secara terbatas dan terukur untuk menjaga keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan listrik. Langkah tersebut dilakukan sambil mempercepat pemulihan pembangkit yang mengalami gangguan.
Berbeda dari blackout Sumatera yang mengganggu sistem kelistrikan di sejumlah wilayah secara luas, peristiwa di Jawa ini diberitakan sebagai pemadaman bergilir akibat keterbatasan kemampuan pasokan.
Kejadian tersebut memunculkan perhatian terhadap keandalan pembangkit dan kesiapan sistem kelistrikan dalam menghadapi gangguan operasional.
4. Blackout Batam dan Bintan pada Oktober 2026, Sempat Dikaitkan dengan Data Center
Pemadaman listrik berskala luas kembali terjadi di Batam dan Bintan, Kepulauan Riau, pada Senin, 12 Oktober 2026. Gangguan tersebut memengaruhi aktivitas masyarakat dan memicu beragam spekulasi di media sosial.
Salah satu isu yang beredar mengaitkan pemadaman dengan pengujian operasional pusat data atau data center di Batam. Namun, Direktur Utama PLN Batam Kwin Fo pada 18 Oktober 2026 menegaskan bahwa pemadaman tersebut tidak berkaitan dengan pengujian pusat data.
PLN Batam menjelaskan bahwa gangguan terjadi pada sistem kelistrikan dan masih ditelusuri. Temuan awal mengarah pada gangguan di sekitar Gardu Induk Sungai Harapan, termasuk dugaan masuknya hewan liar ke area peralatan listrik. Pada 18 Oktober, PLN juga memaparkan temuan terkait trafo, sistem proteksi, dan perangkat pengusir hewan.
Meski demikian, penyebab pasti perlu mengikuti hasil pemeriksaan resmi. Karena itu, spekulasi mengenai pusat data tidak dapat diperlakukan sebagai fakta penyebab blackout.
Peristiwa tersebut kembali menjadi sorotan karena terjadi di tengah perkembangan Batam sebagai kawasan industri dan pusat investasi digital.
5. Pemulihan Listrik Aceh Pascabanjir dan Longsor pada Desember 2025
Gangguan kelistrikan di Aceh pada Desember 2025 juga menjadi perhatian masyarakat setelah banjir bandang dan longsor merusak infrastruktur listrik di sejumlah wilayah.
PLN pada 9 Desember 2025 menyampaikan bahwa pemulihan pasokan listrik belum sepenuhnya selesai. Kerusakan pada jaringan transmisi menjadi salah satu kendala utama, termasuk enam menara transmisi di jalur Bireuen-Arun yang roboh akibat bencana.
Selain kerusakan infrastruktur, proses perbaikan terkendala akses menuju lokasi terdampak yang terputus. PLN bahkan harus mengangkut material berat menggunakan helikopter untuk mendukung perbaikan jaringan.
Berbeda dari blackout akibat gangguan teknis pada sistem kelistrikan, pemadaman di Aceh berkaitan langsung dengan kerusakan infrastruktur akibat bencana alam. Pemulihan pun berlangsung lebih kompleks karena petugas harus memperbaiki jaringan di tengah keterbatasan akses.