← Beranda
Perempuan Desa Jadi Tulang Punggung Pangan, Akses Modal Masih Jadi Tantangan
Rian Alfianto• Selasa, 20 Oktober 2026 | 00.24 WIB
Ilustrasi ibu-ibu di desa mengolah rumput laut. (Istimewa)

 

JawaPos.com - Perempuan di perdesaan memegang peran penting dalam menjaga ketahanan pangan Indonesia, mulai dari mengolah lahan pertanian hingga membudidayakan hasil laut.

Namun, kontribusi mereka masih dihadapkan pada sejumlah kendala, terutama keterbatasan modal usaha, akses pasar, literasi digital, dan dampak perubahan iklim yang memengaruhi hasil produksi serta pendapatan keluarga.

Data menunjukkan, sekitar 14,8 juta perempuan Indonesia bekerja di sektor pertanian hingga Februari 2025.

Baca Juga: Total 4,52 Juta Industri Kecil dan Menengah Hadapi Tantangan Transformasi Industri Hijau

Mereka terlibat dalam berbagai kegiatan, mulai dari budidaya tanaman pangan, hortikultura, hingga perkebunan.

Secara global, perempuan menyumbang sekitar 41 persen tenaga kerja pertanian, menurut Food and Agriculture Organization (FAO) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Besarnya jumlah perempuan yang bekerja di sektor pangan memperlihatkan bahwa peran mereka tidak hanya penting bagi ketersediaan bahan pangan, tetapi juga bagi keberlangsungan ekonomi rumah tangga dan masyarakat perdesaan.

Baca Juga: Ratusan Ribu Keluarga Desil 1 Belum Tersentuh Program Pengentasan Kemiskinan

Meski demikian, perempuan yang menggantungkan hidup dari pertanian dan usaha berbasis sumber daya alam masih menghadapi tantangan untuk mengembangkan usaha.

Keterbatasan modal, misalnya, dapat menghambat peningkatan kapasitas produksi, sedangkan perubahan cuaca membuat hasil panen dan pendapatan sulit diprediksi.

Akses Modal Menentukan Keberlanjutan Usaha Perempuan Desa

Persoalan permodalan menjadi salah satu tantangan yang dihadapi perempuan pelaku usaha di perdesaan.

Padahal, dukungan pembiayaan dan pendampingan dapat membantu mereka mempertahankan usaha, meningkatkan produksi, hingga membuka lapangan kerja bagi warga sekitar.

Founder dan CEO Amartha Financial Andi Taufan mengatakan, akses permodalan perlu disertai pendampingan dan kesempatan memperluas pasar agar usaha perempuan di perdesaan dapat berkembang secara berkelanjutan.

“Melihat potensi yang ada, kami konsisten memperkuat ekosistem UMKM melalui akses permodalan, pendampingan, serta memberikan kesempatan untuk memperluas akses pasar bagi para perempuan di perdesaan," ungkap Andi Taufan.

Baca Juga: Harga Emas Antam di Pegadaian Naik Rp 9.000, Kini Dibanderol Rp 2,613 Juta

"Dukungan permodalan dan pendampingan yang kami lakukan berhasil mendukung hampir 99.000 mitra di perdesaan untuk membuka lapangan kerja baru, di mana 97 persen dari total lapangan kerja baru tersebut diisi oleh perempuan,” sambung dia melalui keterangannya. 

Menurut data perusahaan, sepanjang 2025 hampir 30 persen mitranya bergerak di sektor pertanian dan peternakan.

Angka tersebut menunjukkan besarnya keterkaitan usaha mikro di perdesaan dengan sektor pangan.

Baca Juga: Gubernur HB X Tunggu Kepastian Gaji ASN lewat Koperasi, DPRD DIY Minta Pemerintah Batalkan Rencana

Salah satu momentum untuk kembali menyoroti persoalan ini adalah Hari Perempuan Perdesaan Internasional yang diperingati setiap 15 Oktober.

Peringatan tersebut menjadi pengingat pentingnya memperkuat akses perempuan terhadap sumber daya ekonomi, termasuk pembiayaan, teknologi, dan pasar.

Tantangan tersebut tergambar dalam perjalanan Sumarni, petani palawija dari Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.

Baca Juga: IHSG Terjun Bebas ke 5.185, Terburuk Sejak Krisis Moneter 1998 

Selama lebih dari tujuh tahun, dia mengandalkan usaha pertanian untuk memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus membiayai pendidikan anaknya.

Sebelum menekuni palawija, Sumarni pernah menanam melon.

Namun, keterbatasan modal membuatnya kesulitan mengembangkan usaha tersebut.

Dia kemudian beralih mengandalkan tanaman palawija dan bergabung sebagai mitra Amartha sekitar lima tahun lalu untuk memperoleh dukungan pembiayaan.

Baca Juga: Kemenhub Catat 2.458 Penerbangan Terdampak Asap Karhutla

Modal tersebut digunakan untuk menjaga keberlanjutan usahanya. Hasil panen kemudian dipasarkan kepada pembeli yang sebagian besar tinggal di sekitar rumahnya.

“Berkat bantuan modal saya bisa lebih leluasa mengembangkan usaha palawija ini. Kebanyakan pembeli tinggal di sekitar rumah, jadi mereka bisa langsung membeli hasil panen. Saya bisa mendapat penghasilan hingga Rp 500.000 setiap dua hari, terutama saat harga sedang bagus,” kata Sumarni.

Peran perempuan dalam rantai pangan tidak terbatas pada sektor pertanian darat.

Baca Juga: Bertemu Deputi I PM Rusia, Airlangga Sebut Perdagangan RI-Rusia capai USD 4,84 Miliar

Di Kota Bau-Bau, Sulawesi Tenggara, Mariani mengembangkan usaha budi daya rumput laut yang menjadi sumber penghasilan keluarga.

Dia memulai usaha sekitar empat tahun lalu dengan menjemur rumput laut dalam jumlah kecil di belakang rumah.

Namun, pendapatannya tidak selalu stabil karena produksi sangat bergantung pada cuaca, pasang surut, dan kondisi laut.

Baca Juga: Celios Ungkap 2 Biang Kerok yang Bikin MSCI Ancam Turunkan Status Pasar Saham Indonesia

Setelah bergabung sebagai mitra Amartha, Mariani memperoleh pembiayaan dan pendampingan untuk memperluas area budidaya.

Perluasan tersebut membantu meningkatkan produksi sekaligus pendapatan usahanya.

“Usaha rumput laut ini membantu saya menyekolahkan anak-anak, bekal masa depan mereka. Pembiayaan dan pendampingan membuat produksi usaha saya bisa terus berkembang dan pendapatan meningkat,” jelas Mariani.

Dampak usahanya juga dirasakan masyarakat sekitar.

Baca Juga: Potensi Industri Data Center, Instalasi Konstruksi Cepat dan Tenaga Teknik Kompeten Diperlukan

Mariani kini melibatkan sejumlah tetangga, yang sebagian besar merupakan ibu rumah tangga, untuk membantu proses pemanenan dan penjemuran rumput laut.

Ketahanan Pangan Perdesaan Juga Bergantung pada Pemulihan Infrastruktur

Selain dukungan kepada pelaku usaha, ketahanan pangan masyarakat perdesaan juga ditentukan oleh kondisi infrastruktur pertanian dan kemampuan komunitas menghadapi bencana.

Salah satu persoalan yang membutuhkan perhatian adalah pemulihan lahan pertanian setelah banjir bandang di Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Baca Juga: Karhutla Ganggu Penerbangan, Kerugian Maskapai hingga Penumpang Membengkak

Bencana dapat mengganggu saluran irigasi, merusak lahan, serta menghambat kegiatan produksi dan distribusi pangan.

Melalui program Amartha Empower, yang merupakan portal penggalangan donasi dan zakat di bawah Amartha.org, dilakukan upaya pemulihan ketahanan pangan masyarakat terdampak bencana tersebut.

Dukungan yang diberikan mencakup pemulihan saluran irigasi yang mengairi lahan pertanian bagi lebih dari 900 kepala keluarga atau hampir 3.000 jiwa.

Baca Juga: 2 Tahun Prabowo-Gibran, IKAPPI Ingatkan Ketahanan Pangan Tak Cukup hanya Andalkan Cadangan Beras

Program itu juga mencakup pemberian sapi untuk mendukung produksi kompos.

“Dengan pulihnya irigasi, lahan pertanian mulai kembali produktif. Kami berharap upaya ini dapat memulihkan perekonomian sekaligus meningkatkan kepercayaan diri masyarakat untuk bangkit kembali,” kata Andi Taufan.

Pemulihan tidak hanya dilakukan melalui perbaikan sarana pertanian.

Kelompok tani dan UMKM yang terdampak bencana juga mendapatkan pelatihan tata kelola organisasi, manajemen keuangan, produksi, dan pemasaran.

Baca Juga: Indonesia Diusulkan Turun Status oleh MSCI, BEI Beberkan Kekuatan Pasar Modal RI

Pelatihan tersebut ditujukan untuk membantu masyarakat membangun kembali kegiatan ekonomi sekaligus meningkatkan kemampuan mengelola usaha setelah bencana.

Kisah petani palawija dan pembudi daya rumput laut memperlihatkan bagaimana usaha perempuan perdesaan berkaitan langsung dengan pemenuhan kebutuhan keluarga, pendidikan anak, dan penciptaan lapangan kerja lokal.

Namun, keberlanjutan usaha tidak cukup hanya mengandalkan tambahan modal.

Baca Juga: Pekan Depan Rupiah Berpotensi Melemah ke Rp 18.200, Ini Pemicunya

Akses pasar, pendampingan usaha, kemampuan mengelola keuangan, pemanfaatan teknologi, serta kesiapan menghadapi perubahan iklim dan bencana juga menentukan kemampuan perempuan mempertahankan penghasilannya.

Andi Taufan mengatakan, pemberdayaan perempuan perdesaan perlu dibangun melalui ekosistem yang mendukung kemandirian ekonomi dalam jangka panjang.

"Melalui ekosistem layanan keuangan digital yang dikembangkan Amartha, kami akan terus hadir mendukung perempuan di perdesaan agar terus berdaya, mandiri, dan menciptakan dampak positif bagi lingkungan sekitarnya,” tutur Andi.

Baca Juga: Harga Logam Mulia Bisa Meroket ke Rp 2,86 Juta, Ini Prediksinya

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah