← Beranda
IHSG Terjun Bebas ke 5.185, Terburuk Sejak Krisis Moneter 1998 
Djati Waluyo• Senin, 19 Oktober 2026 | 14.31 WIB
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (16/10/2026). IHSG ditutup melemah 678,67 poin atau 11,57 persen ke posisi 5.185,11. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

 

JawaPos.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjerumus hingga 11,57 persen ke level 5.185,11 atau mengalami penurunan harian terdalam sejak krisis yang terjadi pada 8 Januari 1998 sebesar 11,95 persen.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Ardy Irianto Subekti, mengatakan tekanan pada Jumat pekan lalu dipicu pengumuman MSCI yang membuka konsultasi perubahan klasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. 

Pada Jumat tersebut IHSG dibuka melemah sebesar 8,01 persen ke 5.393,92 dan BEI langsung memberlakukan trading halt 30 menit. Sesi I pun ditutup minus 10,76 persen ke 5.233 dan sesi II melanjutkan pelemahan ke 5.185,11.

Pada perdagagangan hari itu, seluruh sektor terkoreksi dipimpin barang baku sebesar 13,37 persen, kesehatan 13,16 persen dan infrastruktur 13,00 persen. 

Sementara itu, saham yang berada pada kelompok LQ45 turun 13,82 persen ke 508,56. Tidak tanggung-tanggung, sebanyak 812 saham melemah dan 11 menguat dengan nilai transaksi sekitar Rp 32 triliun pada Jumat pekan lalu. 

"Investor asing mencatatkan net sell Rp 2,92 triliun di sesi I yang dipimpin BBCA Rp 1,98 triliun, BBRI Rp 631 miliar, BMRI Rp 485 miliar. Total net sell asing dalam sepekan mencapai Rp 3,34 triliun dan YTD Rp 88,19 triliun," ujar Ardy dalam keterangan tertulis yang diterima, Senin (19/10).

Sentimen Global 

Ardy menegaskan pelemahan IHSG secara umum dipengaruhi sentimen global dan terutama domestik. Pasar global pekan lalu didominasi kekhawatiran inflasi AS dan eskalasi geopolitik di Timur Tengah. 

Selain itu, data inflasi menjadi fokus utama karena menjadi acuan utama The Fed dalam menentukan arah suku bunga. Inflasi CPI AS September tercatat 3,7 persen secara tahunan atau year on year (yoy) di atas ekspektasi pasar 3,6 persen, sementara PPI sebagai indikator inflasi di tingkat produsen naik 1,3 persen secara bulanan atau month to month (mom) dan 6,3 persen yoy. 

Kenaikan PPI penting karena menunjukkan tekanan biaya produksi yang pada akhirnya akan diteruskan ke konsumen dan menjaga inflasi tetap tinggi, sehingga memperkuat ekspektasi The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama (higher for longer), bahkan membuka peluang kenaikan lanjutan untuk mengendalikan inflasi.

Sementara itu, pada Wall Street indeks saham S&P 500 turun sebesar 1,11 persen ke 7.718,94 dan Nasdaq turun sebesar 1,88 persen ke 26.692,87 pada Rabu lalu akibat tekanan saham teknologi/AI.

lalu rebound tipis pada Kamis S&P 500 naik sebesar 0,33 persen ke 7.744,06, Nasdaq naik 0,08 persen ke 26.713,03, Dow Jones naik 1,08 persen ke 52.177,69 seiring rotasi ke saham defensif. 

Secara geopolitik, Brent menyentuh USD 110 per barel di hari Jumat setelah Iran meningkatkan serangan di sekitar Selat Hormuz. Jumlah serangan kapal sendiri mencapai rekor tertinggi bulan ini. 

Arus minyak melalui selat turun ke 11,6 juta barrel per hari, hanya 68 persen dari baseline praperang 17,1 juta barel per hari. Setidaknya 12 serangan kapal tercatat dalam sepekan hingga 16 Oktober.

Di Jazirah Arab, Iran menargetkan pangkalan AS, hub energi, dan pelabuhan utama, dengan Arab Saudi, UEA, Qatar, Kuwait, Turki, dan Yordania menghadapi potensi serangan baru. Kelompok Houthi juga menyerang infrastruktur di Arab Saudi. 

"Kondisi ini menjaga harga minyak tetap tinggi yang menjadi sentimen positif untuk emiten energi, namun berisiko menambah tekanan inflasi dan depresiasi Rupiah," ujarnya.

Sentimen Domestik

.Ardy mengatakan, dari domestik fokus sentimennya terkonsentrasi pada pengumuman MSCI. MSCI menilai klasifikasi Emerging Market tidak tepat lagi untuk Indonesia dan Frontier Market belum mencerminkan permasalahan yang ada.

Ia mengatakan, dengan sorotan pada struktur kepemilikan yang kurang transparan, dugaan perdagangan terkoordinasi dan reformasi yang belum konsisten.

Proses masih dalam tahap konsultasi dengan masukan hingga 30 April 2027 dan keputusan final paling lambat 30 Juni 2027 atau pengumuman ini lebih cepat dari ekspektasi November.

"Potensi outflow mencapai Rp105-132 triliun (US$5,8-7,3 miliar) jika reklasifikasi terjadi dengan BBCA, BBRI, BMRI, TLKM, ASII paling rentan terdampak," ujarnya.

Baca Juga: IHSG Ambruk ke 5.185 dan Diprediksi Masih Melemah, Simak Rekomendasi Saham Berikut

Menariknya, sejauh ini OJK telah menjatuhkan denda total Rp2,1 triliun ke pihak terkait perdagangan DSSA sebesar Rp1,5 triliun, BREN sebesar Rp 500 miliar, CUAN sebesar Rp 100 miliar dan menegaskan komitmen reformasi. 

Sejak Januari 2026 OJK telah menindak 835 pihak dengan sanksi lebih dari Rp 390 miliar. BEI akan meminta klarifikasi ke MSCI dan mengimbau investor tetap rasional, sementara Danantara menyatakan siap melakukan akumulasi pada saham fundamental kuat.

EDITOR: Kuswandi