← Beranda
Ketua OJK-Dirut BEI Didesak Mundur Imbas Ancaman MSCI
Dimas Choirul• Sabtu, 17 Oktober 2026 | 22.11 WIB
bursa saham indonesia

JawaPos.com - Direktur Eksekutif Center of Economics and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira mendesak Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) mengundurkan diri.

Desakan itu menyusul langkah Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang berencana menurunkan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. 

Menurut Bhima, pemerintah dan otoritas bursa dinilai belum menunjukkan perbaikan tata kelola, transparansi, serta perlindungan investor yang memadai.

"Bahkan bursa di Burkina Faso lebih baik posisinya sebagai frontier market. Karena gagal dan posisi bursa saham makin terancam, sebaiknya Ketua OJK dan direktur BEI mengundurkan diri," kata Bhima kepada JawaPos.com, Sabtu (17/10).

Baca Juga: Celios Benarkan Akuisisi Saham BYAN Salah Satu Sebab Pasar Saham RI Terancam Downgrade

Dia mengingatkan, peringatan MSCI ini bukan lagi sekadar persoalan administrasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) semata.

Menurut Bhima, sejak kebijakan pembekuan sementara MSCI pada 27 Januari 2026, perubahan di aturan bursa hanya dilakukan secara administratif, sementara praktiknya makin jauh dari ideal.

Aksi akuisisi saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN), misalnya, disebut Bhima sebagai salah satu indikator bahwa transparansi dan perlindungan investor minoritas di Indonesia bukan menjadi prioritas utama.

"Tidak ada punishment atau sanksi yang berat buat perusahaan yang melakukan praktik terlarang di bursa," kata Bhima.

Selain itu, lanjut Bhima, Danantara yang ingin membeli saham BEI dalam konteks demutualisasi bursa juga menambah beban penilaian independensi bursa saham.

Baca Juga: Kadin Minta MSCI Lebih Objektif dalam Menilai Pasar Modal Indonesia

Padahal, kata dia, Danantara merupakan entitas pencadang yang didukung oleh negara. "Danantara bagaimanapun state backup entity," kata dia.

Peringatan ini juga akan berefek pada tekanan kurs rupiah yang cukup panjang lantaran investor global tidak melihat kelayakan investasi di indeks Indonesia.

"Biaya kebutuhan pokok akan naik tajam, peluang pekerjaan formal berkurang terutama di industri. Jadi jangan dikira peringatan MSCI tidak ada hubungannya ke kehidupan sehari-hari," pungkasnya.

 

EDITOR: Bayu Putra