← Beranda
Rupiah Diprediksi Melemah Hari Ini, Dibayangi Inflasi AS dan Sentimen Domestik
Djati Waluyo• Jumat, 16 Oktober 2026 | 14.48 WIB
Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Dolar Asia, Jakarta. (Salman Toyibi/Jawa Pos)

JawaPos.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan akan kembali melemah pada perdagangan Jumat (16/10), setelah sebelummya ditutup melemah sebesar 35 poin menjadi Rp 17.938 per dolar AS pada perdagangan Kamis (15/10).

Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pergerakan rupiah pada hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen dalam dan luar negeri.

"Untuk perdagangan (16/10) mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 17.930 - Rp 18.990,” ujar Ibrahim keterangan yang diterima, Jumat (16/10).

Ibrahim mengatakan, sentimen eksternal yang akan mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah adalah rilis Indeks Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat (AS) bulan September naik 0,6 persen secara bulanan, sesuai ekspektasi dan meningkat dari kenaikan 0,4 persen pada bulan Agustus. 

Inflasi utama tahunan naik menjadi 3,7 persen dari 3,4 persen, melampaui perkiraan 3,6 persen. Sementara CPI inti, yang tidak mencakup harga makanan dan energi, naik 0,3 persen secara bulanan, melampaui ekspektasi 0,2 persen dan menyamai laju bulan Agustus. 

Tingkat inflasi inti tahunan juga naik menjadi 2,6 persen dari 2,4 persen, juga di atas perkiraan 2,5 persen.

Ibrahim mengatakan, kenaikan harga bensin, solar, dan pangan mendorong inflasi utama, semenatar CPI inti naik akibat peningkatan biaya tempat tinggal, sewa setara pemilik (owner-equivalent rent), rekreasi, dan pendidikan, serta lonjakan harga mobil dan truk bekas. 

"Fokus pasar hari ini adalah rilis Indeks Harga Produsen (PPI), data Penjualan Ritel, klaim awal tunjangan pengangguran, serta sejumlah pidato lanjutan dari pejabat The Fed,” ujarnya.

Sementara itu, dari dalam negeri Pasar saham indonesia menghadapi tekanan menjelang evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada November 2026. 

Bobot Indonesia dalam MSCI Emerging Markets diperkirakan hanya sekitar 0,43 persen pada akhir September, sementara investor mencermati risiko penurunan klasifikasi pasar, kelanjutan pembekuan saham, dan perkembangan reformasi pasar modal. 

"Keputusan ini akan bergantung pada bukti bahwa reformasi pasar modal Indonesia berjalan efektif,” ujarnya.

Selain itu, implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) dalam dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran dinilai belum memberikan hasil yang memuaskan. 

Di sisi lain, biaya dan risikonya justru dikhawatirkan semakin mengancam keuangan negara. Sementara itu, Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai lembaga pengelola MBG maupun pihak terkait lain, tidak mempublikasikan data kepada publik mengenai dampak MBG terhadap penurunan stunting, sebagaimana tujuan utamanya.

"Alih-alih membuktikan melalui penelitian sendiri, pemerintah memilih meminjam penelitian-penelitian lain untuk meyakinkan bahwa skema memberikan makan gratis mampu menurunkan angka stunting.  Pemerintah mungkin kesulitan melakukan evaluasi terhadap gizi anak-anak yang mengonsumsi MBG. Namun, saat bersamaan, terdapat biaya dan risiko yang harus dibayar mahal,” pungkasnya.  

EDITOR: Dony Lesmana Eko Putra