JawaPos.com – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman meluapkan kekesalannya di hadapan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian terkait dugaan praktik permainan harga dan kecurangan beras.
Amran bahkan menilai rapat pengendalian inflasi tidak ada gunanya jika praktik tersebut terus berlangsung di luar pengawasan pemerintah.
Hal itu disampaikan Amran saat rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah tahun 2026 di Kantor Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Senin (12/10).
"Tapi enggak tahu sudah ditangkap belum itu. Ini enggak percuma kita rapat, maaf, percuma kita rapat gini terus-terus, tapi yang main orang di luar," kata Amran.
Dia kemudian menyinggung dugaan permainan harga yang disebutnya dapat menghasilkan keuntungan hingga ratusan miliar rupiah dalam sehari hanya dengan menaikkan harga Rp 1.000.
“Dia satu kali itu ambil uang, aku buka saja, seribu rupiah dinaikkan, dia dapat Rp200 miliar satu hari,” ujarnya.
Amran juga mengungkit persoalan beras oplosan yang sebelumnya menjadi perhatian pemerintah. Dia menyebut potensi kerugian akibat praktik tersebut mencapai puluhan hingga Rp 100 triliun.
“Dulu kan beras oplos. Merugikan Rp100 triliun, Rp90 triliun, kemarin Rp89 triliun, dia cuma pindah (modus),” ungkapnya.
Menurut Amran, dugaan praktik tersebut kini beralih ke beras fortifikasi. Dia mengaku telah melaporkan persoalan itu kepada Presiden Prabowo Subianto, sekaligus menyinggung hasil pemeriksaan laboratorium terhadap kandungan vitamin dalam produk beras yang dimaksud.
“Jadi dulu dia di sini main di premium. Ini reda, pindah fortifikasi. Apa itu fortifikasi? Dikasih vitamin B12. Vitamin B dikasih, ternyata tidak ada vitaminnya. Kami periksa di lab,” tuturnya.
Amran mempertanyakan tujuan beras fortifikasi apabila kandungan vitamin yang seharusnya menjadi bagian dari produk tersebut tidak ditemukan berdasarkan pemeriksaan laboratorium yang dia sampaikan.
Dia juga menyoroti harga jual beras tersebut yang disebut mencapai Rp 50 ribu, padahal beras fortifikasi diperuntukkan bagi masyarakat miskin dan kelompok yang membutuhkan dukungan pemenuhan gizi.
“Ini fortifikasi untuk orang miskin. Stunting. Tapi dijual Rp50 ribu. Kan enggak pernah ketemu. Kan orang miskin cari beras murah,” tegas Amran.
Amran turut menyebut bahwa pihaknya telah mengumumkan merek-merek yang diduga terlibat dalam persoalan tersebut. Dia juga menyinggung adanya pelaku yang disebut pernah melakukan pelanggaran serupa.
“Ini kelakuannya mereka nih. Ini mereknya semua. Kami sudah munculkan merek, kemarin kita umumkan langsung mereknya semua. Yang melakukan dulu ini sudah residivis,” katanya.
Amran kembali meluapkan kekesalan atas dugaan permainan tersebut. Dia menilai upaya pemerintah mengendalikan inflasi tidak akan memberikan hasil optimal jika praktik di lapangan tidak ditindaklanjuti.
“Jadi maaf Pak, jujur, kalau melihat ini sudah sangat kesel saya lihat ini permainan-permainan ini semua. Enggak, sampai kami jangankan satu periode, 10 periode enggak selesai ini masalah,” tandasnya.