← Beranda
Baru 40 % UMKM Indonesia Miliki Kesehatan Finansial Memadai, Perlu Ekosistem yang Lebih Kuat
Nanda Prayoga• Selasa, 29 September 2026 | 01.35 WIB
Pelaku UMKM Batik Kidang Emas asal Rembang memasarkan produk batiknya melalui siaran langsung (live) TikTok dan menjualnya melalui platform Shopee saat mengikuti Pameran UMKM Unggulan Jawa Tengah di kompleks Kantor Gubernur dan DPRD Jawa Tengah, Semarang, Jawa Tengah, Jumat (21/8/2026) (Istimewa)

 JawaPos.com - Riset Amartha terhadap lebih dari 1.800 pelaku UMKM di berbagai wilayah Indonesia menunjukkan masih terbatasnya kemampuan usaha akar rumput dalam mencapai kondisi kesehatan finansial yang memadai. Dari riset tersebut, hanya sekitar empat dari 10 UMKM yang dinilai telah memiliki kesehatan finansial yang cukup.

Temuan itu dipaparkan Head of Secretariat Indonesian Coalition for Financial Health (ICFH) sekaligus Chief Compliance & Sustainability Officer Amartha, Aria Widyanto, dalam forum Indonesian Coalition for Financial Health: The First Step Forward.

Menurut Aria persoalan kesehatan finansial UMKM tidak semata-mata berkaitan dengan ketersediaan akses terhadap layanan keuangan. Kemampuan pelaku usaha dalam mengelola kebutuhan sehari-hari, menghadapi perubahan pendapatan dan kebutuhan mendesak, serta mempertahankan keberlangsungan usaha juga menjadi bagian penting.

“Saat ini hanya empat dari sepuluh UMKM di Indonesia telah mencapai kondisi kesehatan finansial yang memadai. Walaupun akses keuangan dan kepercayaan diri sudah bagus, namun kemampuan UMKM bertahan terhadap goncangan dan memiliki kemampuan bertumbuh masih rendah. Dari bukti empiris ini, intervensi dan kebijakan yang lebih terorkestrasi diperlukan untuk memperkuat ekosistem secara keseluruhan,” kata Aria dalam surelnya Senin (28/9).

Hasil riset tersebut menjadi salah satu dasar bagi Amartha untuk mendorong agenda kesehatan finansial melalui ICFH. Platform ini dibentuk sebagai wadah kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat upaya peningkatan kesehatan finansial masyarakat akar rumput.

Forum perdana ICFH melibatkan 15 institusi dari berbagai sektor. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk membangun pemahaman bersama mengenai kondisi kesehatan finansial sekaligus mendorong intervensi yang lebih terkoordinasi.

 

Persoalan ketahanan finansial juga menjadi perhatian terhadap pelaku UMKM perempuan. Women's World Banking (WWB) menemukan bahwa perluasan akses pembiayaan belum otomatis menghilangkan berbagai hambatan struktural yang dihadapi pengusaha perempuan dalam membangun ketahanan finansial.

 

Agnes Salyanty, Sr. Research Lead Southeast Asia Women's World Banking, menyampaikan, bahwa pola di Indonesia menunjukkan perempuan UMKM adalah pengelola keuangan yang sangat disiplin.

“Namun, tantangan global yang juga terjadi di banyak negara berkembang adalah mayoritas produk keuangan dirancang untuk membiayai, belum melindungi. Kesehatan finansial baru benar-benar terwujud apabila ekosistem mulai dari produk, kebijakan, hingga rantai distribusi mampu memberikan solusi yang menjawab risiko ril harian mereka,” jelas Agnes.

Sejumlah langkah kemudian disiapkan untuk menerjemahkan temuan tersebut ke dalam intervensi di lapangan. Amartha bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) serta Women's World Banking telah menjalankan prototipe market linkage dan formalisasi usaha melalui program “Tumbuhkan Peluang” di Yogyakarta.

Program tersebut selanjutnya disiapkan untuk diperluas ke Palu dan Palembang. Di sisi pembiayaan, Amartha juga menyiapkan fasilitas invoice financing dan export financing bagi UMKM yang mulai berkembang dan memiliki peluang untuk terhubung dengan agregator.

ICFH selanjutnya akan memperluas kolaborasi dengan pemerintah, sektor keuangan, dunia usaha, lembaga riset, akademisi, hingga komunitas. Langkah tersebut diarahkan untuk menghasilkan intervensi yang lebih sesuai dengan kebutuhan UMKM berdasarkan kondisi yang ditemukan di lapangan.

 

-

EDITOR: Diar Candra