← Beranda
Tumbuh 11,82 persen, Industri Furnitur Indonesia Masih Hadapi Tantangan
Dimas Choirul• Jumat, 25 September 2026 | 04.32 WIB
Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto/(Istimewa).

JawaPos.com – Industri furnitur Indonesia tumbuh 11,82 persen pada kuartal II-2026, dan mencatat surplus sejak 2021. Meski naik, penguatan daya saing industri ini masih menjadi tantangan. 

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, kondisi tersebut masih menyimpan ruang ekspansi ekspor, terutama di Amerika Serikat baru mencapai 0,77 persen.

"Indonesia penghasil lebih dari 80 persen rotan dunia, peluang untuk naik kelas dari peringkat ke-25 eksportir furniture dunia masih sangat terbuka,” kata Airlangga saat pembukaan International Hardware Fair Indonesia (IHF Indonesia) dan IFFINA+ di NICE, PIK 2, Jakarta, lewat video conference, Kamis (24/9).

Menurut dia, tantangan sekaligus peluang tersebut perlu dijawab dengan penguatan struktur industri nasional.

Pasalnya, sektor furnitur Indonesia masih didominasi industri kecil dan menengah (IKM) yang mencapai 99,79 persen dari total unit usaha.

“Pemerintah hadir dengan dukungan konkret berupa insentif fiskal, akses pembiayaan padat karya, restrukturisasi mesin, hingga penguatan SVLK untuk mendorong nilai tambah di dalam negeri,” ujarnya.

Airlangga menambahkan, penguatan daya saing industri juga menjadi penting di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Menurutnya, pameran seperti IFFINA+ dapat menjadi sarana memperluas akses pasar sekaligus mempertemukan pelaku industri dengan pembeli internasional.

Ketua Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (ASMINDO) Dedy Rochimat mengatakan, peningkatan daya saing furnitur tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri.

Industri membutuhkan ekosistem yang terhubung mulai dari bahan baku, efisiensi produksi, teknologi, desain, logistik, hingga akses pasar.

“Ketika bahan baku kuat, industri efisien, teknologi berkembang, desain baik, logistik kompetitif, dan akses pasar terbuka, produk furnitur Indonesia akan semakin mampu bersaing di pasar dunia,” kata Dedy.

Dia menilai Indonesia memiliki modal yang kuat untuk mengembangkan industri furnitur, mulai dari sumber daya alam hingga kemampuan sumber daya manusia.

“Indonesia punya modal besar, sumber daya, craftsmanship yang tidak dimiliki banyak negara, serta desainer dan entrepreneur kreatif,” ujarnya.

Sementara itu, Managing Director dan Regional President Asia-Pacific Koelnmesse Pte Ltd Mathias Kuepper mengatakan penyelenggaraan IHF Indonesia dan IFFINA+ tahun ini menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem industri yang lebih terintegrasi di Indonesia.

Dia mengatakan fokus penyelenggaraan tahun ini tidak hanya pada jumlah peserta, tetapi juga kualitas dan kesiapan struktur industri untuk membangun relevansi di tingkat regional.

“Fokus kami tahun ini adalah pada kualitas dan kesiapan struktural, sebagai landasan bagi relevansi regional dalam jangka panjang,” katanya.

International Hardware Fair Indonesia (IHF Indonesia) dan IFFINA+ powered by imm cologne resmi dibuka pada 24 September 2026 dan berlangsung hingga 27 September 2026 di NICE, PIK 2, Jakarta.

Bersama dengan pameran lainnya, gelaran tersebut menghadirkan lebih dari 500 exhibitor. Dirancang sebagai destinasi business-to-business (B2B) yang mempertemukan rantai industri mulai dari material, komponen, hardware, hingga furnitur jadi.

EDITOR: Dony Lesmana Eko Putra