JawaPos.com - Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diperkirakan akan kembali melemah pada perdagangan Selasa (22/9), setelah ditutup melemah 89 poin menjadi Rp 17.847 per dollar AS pada perdagangan Senin (21/9).
Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan, pergerakan rupiah pada hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen luar dan dalam negeri.
"Untuk perdagangan (22/9) mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp.17.840-Rp.17.900,” ujar Ibrahim keterangan yang diterima, Selasa (22/9).
Ibrahim mengatakan, perhatian pasar terhadap Indonesia tengah tertuju pada kebijakan teknis dari keputusan pemerintah membentuk bursa komoditas untuk mengendalikan harga.
Baca Juga: Rupiah Berpotensi Ambles Hari Ini, Sentimen The Fed dan El Nino jadi Pemicu
Kebijakan tersebut selanjutnya akan diatur oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yang akan menentukan produk apa yang diperdagangkan serta tahapan perdagangan melalui aturan tersendiri.
"Beberapa hal yang dipertimbangkan OJK di antaranya adalah kesiapan infrastruktur, stabilitas keuangan, dan integritas pasar," lanjutnya.
Melalui kebijakan tersebut, OJK juga akan mengambil alih pengaturan bursa tersebut dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) mulai 1 Januari tahun depan.
Di sisi lain, pasar juga akan mencermati keputusan Bank Indonesia (BI) di tengah dinamika nilai tukar rupiah, inflasi, serta kebijakan bank sentral global yang terfragmentasi.
Sebagian bank sentral mengambil sikap hawkish, sementara sebagian lainnya masih memiliki ruang untuk melakukan pelonggaran dengan mempertahankan posisi suku bunga acuan.
Baca Juga: Rupiah Berpotensi Tertekan hingga Rp18.000 per Dolar AS, Ini Biang Keroknya
"Namun, melihat situasi inflasi global yang tinggi, kemungkinan Gubernur Bank Indonesia dalam rapat hari Rabu akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin," ucapnya.
Selain kebijakan moneter, pasar juga kembali mencermati angka defisit anggaran yang berada di bawah batas aman 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Angka tersebut kerap dijadikan salah satu tolok ukur utama kesehatan fiskal dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN).
Meski berfungsi sebagai pagar disiplin fiskal, Ibrahim menilai angka defisit belum menjamin ketahanan ekonomi nasional apabila tidak diimbangi dengan kualitas belanja yang memadai.
Dalam rancangan postur RAPBN 2027, pemerintah menargetkan pendapatan negara sebesar Rp 3.426 triliun dan belanja negara Rp 4.097,2 triliun.
Baca Juga: Rupiah Berisiko Melemah Hari Ini, Tertekan Suku Bunga The Fed dan Ketegangan Moneter Global
Dengan demikian, defisit anggaran diproyeksikan mencapai 2,40 persen terhadap PDB.
“Defisit di bawah tiga persen sering diperlakukan seperti stempel kesehatan fiskal. Angkanya memang penting karena memberi pagar bagi disiplin anggaran. Tetapi pagar bukan rumah,” pungkasnya.