← Beranda
Menkop Mau Rebranding Koperasi Merah Putih Agar Dipahami Gen Z
Dimas Choirul• Selasa, 22 September 2026 | 04.55 WIB
Ilustrasi koperasi desa merah putih (KDMP). (Dokumentasi Jawa Pos)

JawaPos.com - Kementerian Koperasi (Kemenkop) bakal melakukan rebranding koperasi untuk mengubah citra agar lebih dikenal dan dipahami generasi muda, khususnya kalangan milenial dan Gen Z.

Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono mengatakan, langkah tersebut menjadi salah satu gerak cepat yang dilakukan Kemenkop untuk memperkuat kembali koperasi di tengah perubahan zaman.

Terlebih pemahaman generasi muda terhadap koperasi saat ini dinilai mulai berkurang.

"Yang pertama rebranding koperasi, karena memang koperasi sudah banyak yang kurang paham lagi terutama di kalangan generasi muda, milenial dan Gen-Z," ujar Ferry dalam konferensi pers nasional Perkebunan Rakyat II di Kantor Kemenkop, Jakarta, Senin (21/9).

Selain rebranding, Kemenkop mendorong digitalisasi koperasi, termasuk pembenahan sistem informasi dan data di lingkungan kementerian.

Ferry mengatakan, data yang sebelumnya bersifat statis akan diarahkan menjadi lebih dinamis.

Selain itu, pembenahan juga menyasar tata kelola koperasi. Kemenkop ingin menggeser fokus yang sebelumnya lebih berat pada aspek kelembagaan menjadi pengembangan bisnis.

"Tata kelola ini penting di Kementerian Koperasi sebelumnya itu memang lebih banyak heavy-nya atau bobotnya tentang kelembagaannya. Nah sekarang kita mau dorong bobotnya itu ke pengembangan bisnisnya," ujar Ferry.

Menurut dia, koperasi pada dasarnya merupakan badan usaha sehingga pengembangan bisnis perlu menjadi perhatian utama.

Ia mencontohkan koperasi di sektor perkebunan sawit yang didorong memiliki pabrik CPO serta koperasi peternak sapi perah yang diarahkan memiliki industri pengolahan susu.

"Karena koperasi itu adalah sesungguhnya sama dengan teman-teman GAPKI. Koperasi itu adalah badan usaha dan bobot atau heavy dengan bisnisnya itu yang sekarang kita dorong," katanya.

Ferry juga mengingatkan bahwa koperasi pernah memiliki peran besar dalam perekonomian Indonesia sebelum 1998. Sejumlah koperasi pada masa itu bahkan memiliki fasilitas produksi dan jaringan pergudangan.

"Gabungan Koperasi Batik Indonesia itu punya pabrik tekstil, punya pabrik garmen. Koperasi punya gudang hampir di 6.000 kecamatan," tuturnya.

Ia menambahkan, gudang milik Koperasi Unit Desa (KUD) turut berperan dalam mendukung swasembada beras pada masa tersebut.

Selain memiliki pabrik dan gudang, Ferry menyebut koperasi juga pernah memiliki lembaga perbankan sendiri. Menurut dia, sejumlah aset dan institusi koperasi tersebut kini telah mengalami perubahan kepemilikan.

"Koperasi punya bank, namanya Bank Umum Koperasi Indonesia, Bank Kesejahteraan Ekonomi. Nah cuma sayang sekarang dibiarkan terdelusi saham mayoritasnya dimiliki oleh salah satu bank di salah satu negara di Asia," pungkasnya.

EDITOR: Dony Lesmana Eko Putra