← Beranda
Pengamat Internasional Puji Transformasi BUMN, Danantara Jadi Jembatan Pemerintah-Investor
AntaraJumat, 18 September 2026 | 18.37 WIB
Danantara jadi jembatan pemerintah-Investor. (Salman Toyibi/Jawa Pos)

 

JawaPos.com - Indonesia’s Head of Research DBS Group Research William Simadiputra mengatakan Danantara dapat berperan menjadi jembatan antara pemerintah dengan investor.

”Sebenarnya Danantara bisa dibilang menjadi bridge sebagai Sovereign Wealth Fund di Indonesia, di mana sebagai suatu badan pengelola investasi yang memiliki mandat investasi, Danantara bisa menjadi seperti suatu entitas yang menjembatani antara Pemerintah Indonesia dengan investor,” ujar William dilansir dari Antara.

Menurut dia, Danantara sebagai badan pengelola investasi akan melakukan mandat sebagai investor secara profesional sebagai co-investor.

Baca Juga: Harga Emas Antam di Pegadaian Meroket Hingga Rp 26 Ribu Pada Jumat Ini

Misalnya di proyek energi terbarukan, proyek-proyek tertentu, di mana ini juga memberikan jaminan (assurance) bahwa untuk aktivitas investasi dari mata investor swasta nasional maupun luar negeri itu dilakukan secara profesional, secara B2B antara investor dan investor.

”Jadi itu sama saja seperti kita berinvestasi bersama perusahaan investasi yang mungkin dikelola oleh swasta. Mungkin itu jadi salah satu poin plus atau nilai tambah kehadiran Danantara, di mana ini memberikan perpanjangan tangan pemerintah untuk melakukan investasi secara profesional,” terang dia.

Terkait dengan tata kelola, sebagai badan pengelola investasi sebenarnya hal yang paling selalu dicari adalah bagaimana menciptakan shareholder value.

Baca Juga: Turun Lagi! Harga Minyak Dunia Tertekan Konflik dan Langkah Arab Saudi

Sementara itu, media internasional The Telegraph menyoroti kebijakan Presiden Prabowo Subianto dalam melakukan restrukturisasi besar-besaran terhadap badan usaha milik negara (BUMN) Indonesia.

Langkah tersebut dinilai menunjukkan keberanian mengambil keputusan sulit yang dapat menjadi pelajaran bagi para pemimpin politik di negara-negara Barat.

Penilaian itu disampaikan Rovshan Ibrahimov, Profesor Departemen Hubungan Internasional Webster University, dalam analisis yang dimuat The Telegraph.

Ibrahimov membahas kebijakan ekonomi Prabowo atau yang disebutnya sebagai Prabowonomics, khususnya melalui pembentukan Danantara Indonesia.

”Untuk mencabut struktur yang telah berakar kuat, diperlukan tangan yang cukup tegas,” kata Ibrahimov dikutip dari The Telegraph, Jumat (18/9).

Menurut dia, restrukturisasi terhadap struktur BUMN yang telah berkembang selama puluhan tahun membutuhkan keberanian untuk menghadapi berbagai kepentingan yang telah mengakar.

Baca Juga: Rupiah Berisiko Melemah Hari Ini, Tertekan Suku Bunga The Fed dan Ketegangan Moneter Global

Ibrahimov membandingkan langkah Prabowo tersebut dengan kondisi politik di negara-negara Barat, termasuk Inggris dan Amerika Serikat.

Dia menilai pemerintah di negara-negara tersebut selama bertahun-tahun menghadapi kesulitan ketika harus memangkas struktur negara atau mengambil keputusan yang berpotensi menimbulkan resistensi.

Ibrahimov menyoroti skala restrukturisasi BUMN Indonesia di bawah Danantara.

Baca Juga: Pantau Potensi Underinvoicing, DSI Pakai 8 'Use Case Analytics'

Presiden Prabowo sebelumnya memperkirakan terdapat sekitar 300 hingga 400 entitas, tetapi setelah dilakukan pemetaan jumlahnya ternyata mencapai 1.074 entitas.

Struktur tersebut, menurut Ibrahimov, berkembang melalui pembentukan anak perusahaan hingga entitas turunan yang membuat lapisan organisasi semakin kompleks.

Kondisi itu dinilai dapat memperlemah akuntabilitas, menciptakan fungsi yang tumpang tindih, serta meningkatkan potensi pemborosan.

Baca Juga: Anggaran MBG Terserap 63,89 Persen per September 2026, Sisa Rp 79 Triliun sampai Akhir Tahun

Hingga Agustus 2026, Danantara disebut telah menghapus 290 entitas melalui merger, likuidasi, dan divestasi.

Sementara itu, target yang ditetapkan Prabowo adalah melakukan restrukturisasi terhadap 300 entitas hingga akhir tahun.

Ibrahimov juga membahas kritik terhadap Danantara yang dinilai memiliki kekuasaan ekonomi sangat besar dan berada di bawah pertanggungjawaban kepada Presiden.

Selain itu, mandat Danantara dinilai lebih luas dibandingkan model sovereign wealth fund konvensional yang umumnya berorientasi pada investasi dan keuntungan finansial jangka panjang.

Baca Juga: Indef: Gaji PPPK Dialihkan ke APBN, Ruang Fiskal Daerah Lebih Longgar

Menurut Ibrahimov, Danantara juga diarahkan untuk menggunakan dividen dan aset BUMN dalam mendukung prioritas pembangunan nasional.

Salah satu agenda yang disorot adalah peningkatan pengolahan bahan mentah di dalam negeri yang diharapkan menciptakan nilai tambah sekaligus lapangan pekerjaan.

”Dan mungkin di sinilah letak inti Prabowonomics: Presiden meyakini bahwa kekayaan nasional Indonesia harus digunakan secara lebih terarah demi kemakmuran rakyatnya,” ujar Ibrahimov.

Baca Juga: Dongkrak PAD Jatim, Kawasan Industri Didorong Tingkatkan Kinerja

Dia membandingkan model Danantara dengan pengalaman sejumlah negara Asia yang menggunakan peran negara untuk mendorong industrialisasi.

Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan, disebut pernah mengorganisasikan modal serta kebijakan negara untuk mendukung pembangunan industri ketika berada dalam fase pertumbuhan pesat.

Ibrahimov secara khusus menyinggung pengalaman Korea Selatan di bawah Presiden Park Chung-hee.

Baca Juga: RUU Perlindungan Ketenagakerjaan Dibahas, Buruh Ingatkan PHK Tetap Ada Walaupun Upah Murah  

Menurut dia, negara tersebut menggunakan rencana pembangunan ekonomi serta dukungan negara untuk mendorong perusahaan-perusahaan yang kemudian berkembang menjadi konglomerasi besar atau chaebol.

Karena itu, Ibrahimov menilai mandat Danantara yang luas tidak serta-merta dapat dipandang sebagai penyimpangan dari fungsi sovereign wealth fund.

”Keberhasilan tidak mungkin diraih tanpa risiko ataupun pilihan-pilihan yang sulit,” kata Ibrahimov.

Dia menyebut inti dari Prabowonomics adalah keyakinan bahwa kekayaan nasional harus digunakan secara lebih terarah untuk meningkatkan kemakmuran masyarakat.

Baca Juga: 3 Menkeu dalam 2 Tahun, CORE Indonesia Ungkap Kekhawatiran Pasar dan Nasib APBN

Menurut Ibrahimov, Danantara menjadi instrumen untuk menggerakkan aset negara agar dapat digunakan bagi peningkatan produktivitas rakyat Indonesia.

”Danantara merupakan upaya Prabowo untuk menggerakkan neraca keuangan negara bagi kepentingan mereka yang pada hakikatnya merupakan pemiliknya: rakyat Indonesia,” kata Ibrahimov

Menurut dia, kebijakan Prabowo menunjukkan bahwa perubahan besar membutuhkan keberanian mengambil risiko dan membuat pilihan-pilihan sulit, sesuatu yang disebutnya dapat menjadi pelajaran bagi kepemimpinan politik di negara-negara Barat.

Baca Juga: Pembangunan Infrastruktur Papua Dimatangkan AHY, Konektivitas Jadi Prioritas Utama

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah