← Beranda
Pertamina Paparkan Strategi Transformasi dan Digitalisasi saat Terima Kunjungan Delegasi Swedia
Edy PramanaSenin, 14 September 2026 | 23.11 WIB
Pertamina memaparkan Dual Growth Strategy untuk menjaga ketahanan energi sekaligus mendorong transisi energi dan bisnis rendah karbon. (Istimewa)

JawaPos.com - PT Pertamina (Persero) memaparkan strategi perusahaan dalam menjaga keseimbangan antara ketahanan energi, keterjangkauan energi, dan keberlanjutan melalui Dual Growth Strategy.

Strategi tersebut menempatkan penguatan bisnis eksisting atau legacy business dan pengembangan bisnis rendah karbon sebagai dua pilar yang berjalan bersamaan. Langkah ini diarahkan untuk menjaga pertumbuhan perusahaan sekaligus mendukung agenda transisi energi.

Hal tersebut disampaikan Pertamina saat menerima kunjungan delegasi Swedia di Pertamina Digital Hub, Grha Pertamina, Jakarta Pusat, Kamis (10/9).

Kunjungan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat hubungan Indonesia dan Swedia sekaligus membuka peluang kolaborasi di bidang keberlanjutan, transisi energi, inovasi teknologi, dan transformasi digital.

Senior Vice President (SVP) Business Sustainability Pertamina Wenny Ipmawan mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terus berkembang membutuhkan keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan energi dan keberlanjutan.

Menurutnya, transisi energi tidak semestinya dipandang sebagai pilihan antara mempertahankan bisnis energi konvensional atau beralih sepenuhnya ke bisnis hijau. Kedua sektor tersebut justru perlu dikembangkan secara beriringan.

Baca Juga: Urai Antrean, Pertamina Tambah 3 SPBU Modular dan Terapkan Ganjil Genap di Makassar

“Bagi Indonesia, keberlanjutan dan pertumbuhan ekonomi tidak seharusnya dipandang sebagai dua tujuan yang bertentangan. Keduanya harus dapat berjalan secara beriringan. Hal tersebut kemudian kami terjemahkan ke dalam strategi Pertamina melalui Dual Growth Strategy,” papar Wenny.

Pada pilar pertama, Pertamina mengoptimalkan bisnis eksisting melalui peningkatan produksi sektor hulu. Upaya tersebut mencakup penguatan eksplorasi, pengeboran, perawatan, hingga intervensi sumur.

Di sektor hilir, perusahaan juga memperkuat bisnis pengolahan dan sejumlah kegiatan strategis untuk mendukung ketahanan serta keterjangkauan energi nasional.

Sementara pilar kedua diarahkan pada pengembangan bisnis rendah karbon. Sejumlah langkah yang dilakukan antara lain memperkuat ekosistem biofuel dan mengembangkan energi panas bumi.

Pertamina saat ini memiliki kapasitas panas bumi sekitar 727 megawatt (MW). Kapasitas tersebut ditargetkan meningkat menjadi 1 gigawatt pada 2028 dan 1,9 gigawatt pada 2038.

Selain pengembangan energi rendah karbon, Pertamina juga menjalankan berbagai inisiatif dekarbonisasi untuk mendukung target net zero emissions 2060 atau lebih cepat.

Pertamina memaparkan Dual Growth Strategy untuk menjaga ketahanan energi sekaligus mendorong transisi energi dan bisnis rendah karbon. (Istimewa)
Pertamina memaparkan Dual Growth Strategy untuk menjaga ketahanan energi sekaligus mendorong transisi energi dan bisnis rendah karbon. (Istimewa)

Wenny menambahkan, transformasi digital menjadi salah satu kapabilitas penting untuk memastikan strategi tersebut dapat diterapkan dalam operasional perusahaan.

Melalui Pertamina Digital Hub, pemanfaatan data, teknologi, dan inovasi digital diintegrasikan untuk mendukung pengambilan keputusan, meningkatkan visibilitas operasional, serta menghasilkan solusi bagi berbagai lini bisnis.

Pertamina Digital Hub juga menjadi pusat pengembangan dan orkestrasi solusi digital perusahaan. Kapabilitasnya mencakup pemantauan operasional secara digital, pengembangan produk dan solusi melalui digital factory, serta orkestrasi teknologi dan inovasi untuk mendukung kolaborasi di seluruh rantai bisnis.

Sementara itu, Kepala Delegasi Swedia sekaligus Head of Strategy PMO, Business Sweden, Anna Liberg, mengatakan kunjungan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat hubungan dan memperdalam kerja sama antara Swedia dan Indonesia.

Menurut Anna, terdapat kesesuaian antara kompetensi Swedia dalam bidang keberlanjutan, energi hijau, transportasi, pertambangan, digitalisasi, kehutanan, dan kesehatan dengan portofolio Pertamina.

“Kami sangat mengapresiasi kesempatan ini. Kami meyakini terdapat kesesuaian yang sangat baik antara berbagai bidang kerja sama Swedia dan Indonesia dengan portofolio Pertamina,” kata Anna.

Swedia, lanjut Anna, terbuka untuk berbagi pengalaman dalam pengembangan energi hijau, kebijakan karbon, serta upaya memisahkan pertumbuhan ekonomi dari peningkatan emisi karbon.

Peluang kerja sama juga terbuka dalam pengembangan bahan bakar hijau, termasuk pemanfaatan used cooking oil atau minyak jelantah sebagai salah satu bahan baku.

“Kolaborasi antara Swedia dan Indonesia tidak terbatas pada sektor energi. Saya melihat hal ini sangat sesuai dengan portofolio Pertamina, karena kerja sama kami juga mencakup sektor transportasi, pertambangan, digitalisasi, kehutanan, dan kesehatan,” kata Anna.

Pertemuan tersebut diharapkan dapat mengidentifikasi peluang kerja sama yang lebih konkret untuk mendukung agenda transisi energi dan pembangunan berkelanjutan.

VP Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron mengatakan Pertamina terus membuka kolaborasi dengan berbagai pihak dalam menjalankan Dual Growth Strategy.

"Kolaborasi ini bertujuan untuk mendukung ketahanan energi nasional," tutup Baron.

EDITOR: Edy Pramana