JawaPos.com - Bank Dunia (World Bank) mencatat sebanyak 64,2 persen penduduk Indonesia berada di bawah garis kemiskinan tahun 2026.
Angka itu didapat bila diukur menggunakan parameter kemiskinan berdasarkan garis negara berpendapatan menengah atas.
Ukurannya berasal dari Macro Poverty Outlook edisi April 2026, dan merupakan proyeksi untuk tahun 2026 menggunakan garis kemiskinan sebesar USD 8,30 per kapita per hari berdasarkan Purchasing Power Parity (PPP) 2021.
Artinya, berdasarkan parameter ini, Bank Dunia menganggap sebanyak 183,6 juta penduduk Indonesia masuk kategori miskin.
Baca Juga: RUU Perampasan Aset Dinilai Tak Tepat Atur Ancaman Hukuman Mati, Tapi Langkah Miskinkan Koruptor
Karena berpendapatan kurang dari USD 8,30 per kapita per hari atau di bawah Rp 4,39 juta per kapita per bulan.
Meski demikian, angka tersebut turun dibandingkan dengan catatan tahun 2025, di mana Bank Dunia menganggap 65,2 persen penduduk Indonesia miskin berdasarkan parameter tersebut.
Namun, bila menggunakan parameter garis negara berpendapatan menengah bawah, bank Dunia mencatat jumlah penduduk miskin Indonesia mencapai 46,9 juta jiwa.
Parameternya adalah pendapatan kurang dari USD 4,20 per kapita per hari berdasarkan paritas daya beli (PPP) 2021.
Bank Dunia mencatat tingkat kemiskinan berdasarkan garis tersebut turun 3,4 poin persen menjadi 16,4 persen pada Maret 2026.
Baca Juga: Kejagung Sita Aset Rp 338 Miliar Hasil Korupsi, Sahroni: Miskinkan Koruptor!
Dalam catatannya, Bank Dunia menyebut stimulus pemerintah turut menopang konsumsi rumah tangga berpendapatan rendah.
Kenaikan upah pada sektor berkeahlian rendah yang mencapai 6 persen secara tahunan hingga Februari 2025 turut mendukung penurunan kemiskinan.
Hal itu berkontribusi terhadap penurunan tingkat kemiskinan pada ambang USD 4,20 menurut PPP 2021.
Jika menggunakan parameter kemiskinan internasional, yakni pendapatan kurang dari USD 3,00 per kapita per hari berdasarkan PPP 2021, persentase penduduk miskin Indonesia sebesar 3,6 persen, turun dibandingkan 2025 yang mencapai 4,0 persen.
Dalam laporan tersebut, Bank Indonesia mencatat Perekonomian tumbuh 5,1 persen pada 2025.
Baca Juga: Tak Gampang Jatuh Miskin, 5 Shio Ini Punya Naluri Kuat Mengelola Keuangan
Hal itu ditopang oleh peningkatan investasi dan kenaikan ekspor yang didorong oleh pengiriman produk manufaktur lebih awal (front-loaded shipments) serta meningkatnya permintaan komoditas global.
Pertumbuhan konsumsi melambat menjadi 4,7 persen, dari 5,3 persen pada 2024, meskipun terdapat stimulus fiskal sebesar 0,5 persen dari PDB.
Sektor jasa dan pertanian, terutama kelapa sawit, menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi.
Konflik di Timur Tengah turut memengaruhi pertumbuhan ekonomi pada 2026. Hingga Maret, inflasi umum meningkat menjadi 3,5 persen, atau berada di batas atas kisaran target Bank Indonesia.
Kenaikan tersebut dipengaruhi oleh berakhirnya subsidi listrik sementara, penyesuaian tarif air, serta kenaikan harga pangan.
Baca Juga: BPS Sebut Penduduk Miskin di Indonesia Kini 22,93 Juta Orang
Inflasi pangan mencapai 3,3 persen, didorong oleh kondisi cuaca yang kurang mendukung dan meningkatnya permintaan akibat program makan bergizi gratis (MBG).