← Beranda
Jaring Investor untuk Aset BPR-BPRS Sebesar Rp 2,3 Triliun, LPS Gandeng Kadin DKI Jakarta
Banu AdikaraJumat, 4 September 2026 | 18.48 WIB
Ilustrasi investasi berkelanjutan (Freepik)

 

JawaPos.com – Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menggandeng Kadin DKI Jakarta untuk menjaring investor yang berminat mengambil alih aset BPR (Bank Perekonomian Rakyat) dan BPRS (Bank Perekonomian Rakyat Syariah) dengan nilai hampir Rp 2,3 triliun.

Kerja sama yang ditandai pada Kamis (3/9) kemarin tersebut diharapkan dapat diperluas melalui jejaring Kadin di 38 provinsi. Langkah ini sekaligus menjadi upaya memperkuat proses penyehatan dan penguatan industri BPR-BPRS.

Anggota Dewan Komisioner LPS Bidang Penjaminan Simpanan dan Resolusi Bank Doddy Zulverdi dalam keterangan tertulisnya mengatakan, jejaring Kadin dapat membantu mempertemukan LPS dengan lebih banyak calon investor.

Baca Juga: LPS Segera Bayar Simpanan Nasabah BPR Citra Bersada Abadi, Ini Batas Waktunya

“Baik itu Kadin Jakarta secara spesifik tapi juga kami berharap bisa diperluas melalui support dari Kadin Indonesia, untuk memperkuat sinergi kita dalam menjaga ketahanan perbankan,” ujar Doddy.

Data LPS mencatat, sepanjang Januari-Agustus 2026 terdapat 13 BPR dan BPRS yang ditangani. Sebanyak 11 bank masuk proses likuidasi akibat kondisi keuangan, sementara dua lainnya masih dalam proses, termasuk salah satunya yang tengah diambil alih investor.

Nilai buku aset yang masih dalam proses likuidasi mencapai hampir Rp 2 triliun.

Baca Juga: UMKM Tergoda Pinjol dan Bank Titil, BPR Tawarkan Strategi yang Lebih Menarik

“Nah, itu nilai asetnya yang masih dalam proses likuidasi itu hampir Rp 2 triliun. Itu adalah aset-aset yang tentu saja sangat bervariasi mengenai kualitasnya,” jelas Doddy.

Selain itu, terdapat aset hasil likuidasi senilai hampir Rp 300 miliar yang telah dialihkan kepada LPS untuk dikelola.

“Ini pun merupakan sebuah potensi bagi para pengusaha atau calon investor untuk membeli atau mengalihkannya,” tambah Doddy.

Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie menilai peluang tersebut dapat dimanfaatkan pengusaha untuk memperkuat ekosistem bisnis sekaligus mendukung sektor perbankan.

“Kalau misalnya anggota Kadin bisa menjadi investor bank, tentu pemikirannya bagaimana membantu pengusaha-pengusaha di dalam lingkungan kami untuk bisa maju,” ucapnya.

Menurut Anindya, penguatan BPR-BPRS penting karena kestabilan sektor keuangan turut menopang aktivitas ekonomi.

Baca Juga: OJK: Total Aset BPR-BPRS Tumbuh 3,70 persen Capai Rp236,69 T per Maret

“Karena LPS ini mempunyai tugas yang sangat mulia, terutama untuk menyehatkan BPR-BPRS. Dan ini penting sekali karena kestabilan ekonomi itu mulai dari kestabilan finansial,” kata Anindya.

Doddy menegaskan, penjaringan investor bukan hanya ditujukan untuk aset yang tersedia saat ini. LPS dan Kadin juga menyiapkan kerja sama jangka panjang seiring kebutuhan penyehatan industri perbankan.

“Jadi ini kami tentu saja kerjasama untuk jangka panjang karena kan proses penyehatan dan penguatan perbankan membutuhkan proses panjang,” pungkasnya.

EDITOR: Banu Adikara