← Beranda
Gasifikasi Batu Bara di Kaltim Hasilkan Metanol Ekonomis
Djati WaluyoSelasa, 1 September 2026 | 14.50 WIB
Ilustrasi aktivitas di area tambang batubara. (The Guardian)

 

JawaPos.com - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melakukan peletakan batu pertama atau groundbreaking Proyek Strategis Nasional (PSN) Gasifikasi Batu bara atau Coal to Methanol di Kalimantan Timur.

Proyek yang dilaksanakan oleh PT Bumi Etam Chemical (BEC), perusahaan patungan PT Arutmin Indonesia (Arutmin) dan PT Kaltim Prima Coal (KPC), dibangun di kawasan industri Batuta Chemical Industrial Park (BCIP), Bengalon, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.

Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, mengatakan proyek gasifikasi batu bara menjadi metanol ini merupakan langkah nyata pemerintah dalam mempercepat hilirisasi industri mineral dan batu bara (minerba).

Langkah ini juga meningkatkan nilai tambah sumber daya batu bara nasional, tambahnya.

“Dengan adanya groundbreaking ini, berarti kita sudah memulai langkah besar untuk menempatkan hilirisasi di sektor batu bara,” ujar Yuliot dalam acara groundbreaking Gasifikasi Batu bara atau Coal to Methanol di Kalimantan Timur, Senin (31/8).

Baca Juga: Kecanduan Alkohol Dapat Menyebabkan Kebutaan, Akibat Metanol sebagai Bahan Campuran Miras Oplosan

Yuliot mengatakan, proyek tersebut dirancang memanfaatkan sekitar 7,70–7,78 juta ton batu bara per tahun dengan kalori rendah, yakni sekitar 3.300–3.400 kcal/kg.

Ia menjelaskan, dengan adanya proyek tersebut, batu bara yang selama ini memiliki nilai ekonomi relatif rendah akan diolah melalui proses gasifikasi menjadi metanol berkualitas komersial tinggi dengan spesifikasi IMPCA Grade.

“Kalau kita lihat untuk karakteristik untuk low rank calorie (kalori rendah) ini, justru kami melihat kalau ini kita jual, ini kebutuhan energi di pasar industri, di pasar domestik, ini nilai ekonominya sangat rendah,” ujarnya.

Presiden Direktur BEC Rio Supin mengatakan proses penyiapan lahan dan tahapan Front-End Engineering Design (FEED) saat ini berjalan secara paralel.

Langkah tersebut dilakukan agar proyek dapat bergerak secara terukur menuju tahap konstruksi.

Baca Juga: Bartender Jadi Tersangka Kasus Kematian Tiga Personel Band di Surabaya, Sengaja Tambahkan Metanol agar Miras Semakin Kuat

“Penyiapan lahan untuk pembangunan proyek dan tahapan FEED sedang berlangsung secara paralel, sehingga proyek dapat bergerak secara terukur menuju tahap konstruksi.

Kami menyampaikan apresiasi atas dukungan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah yang konsisten mendorong percepatan program hilirisasi batu bara nasional,” ujar Rio.

Sebelumnya, BEC telah memulai tahapan engineering dengan penyusunan FEED serta Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning (EPCC) Framework Agreement.

Pekerjaan tersebut dilakukan melalui kerja sama dengan PT Istana Karang Laut (IKL) dan China National Chemical Engineering Co., Ltd. (CNCEC) yang dimulai sejak 29 Juli 2026 di Jakarta.

Rio mengatakan, pengembangan PSN Gasifikasi Batubara Kutai Timur dengan total nilai investasi mencapai USD 2,3 miliar atau setara dengan Rp 41,4 triliun dapat berjalan sesuai tahapan yang telah direncanakan.

“Dengan pekerjaan penyiapan lahan dan FEED yang dilakukan secara paralel, pabrik ditargetkan memasuki tahap commissioning pada 2029,” ujarnya.

Ia melanjutkan, nantinya jika telah beroperasi penuh, fasilitas tersebut akan memanfaatkan sekitar 7,8 juta ton batu bara per tahun untuk menghasilkan sekitar 2 juta ton metanol.

Dengan kapasitas tersebut, rasio konversi yang digunakan berada di kisaran 3,5–4 ton batu bara untuk menghasilkan 1 ton metanol.

Kebutuhan batu bara tersebut tidak seluruhnya dikonversi menjadi produk metanol karena sebagian digunakan sebagai feedstock atau bahan baku proses sekaligus untuk kebutuhan pembangkitan listrik fasilitas.

“Jadi total batu bara 7,8 juta ton itu dapat 2 juta ton metanol. Rate konversinya sekitar 3,5–4 ton batu bara menjadi 1 ton metanol, untuk feed dan untuk electricity,” jelas Rio.

EDITOR: Ilham Safutra