JawaPos.com - Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, mendorong transformasi perdagangan domestik yang modern, komprehensif, struktural, dan adaptif dalam merespons perkembangan ekonomi serta perubahan perilaku masyarakat.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan salah satu peluang yang terus dioptimalkan adalah pengembangan wisata belanja sebagai motor pertumbuhan baru, seiring dengan meningkatnya aktivitas pariwisata dan potensi konsumsi masyarakat di dalam negeri.
“Tentu di berbagai negara, tujuan dari wisatawan sebagian adalah kuliner dan belanja. Jadi ini tentu perlu didorong supaya mereka belanja di Indonesia saja. Dan kita berharap bahwa ini juga bisa memanfaatkan wisata belanja sebagai motor pertumbuhan baru,” ujar Airlangga dalam keterangan tertulis yang diterima, Kamis (27/8).
Baca Juga: Aturan Baru BGN: Tiga Pimpinan SPPG Tak Hadir, Dapur MBG Dilarang Masak
Airlangga menjelaskan, potensi wisata belanja semakin besar seiring dengan meningkatnya mobilitas wisatawan. Pada Januari-Juni 2026, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 7,45 juta kunjungan, meningkat 5,71 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya atau year on year (yoy).
Sementara itu, perjalanan wisatawan nusantara mencapai 630,41 juta perjalanan atau tumbuh 2,71 persen (yoy).
Di sisi lain, terdapat potensi besar dari pengeluaran masyarakat Indonesia yang melakukan perjalanan ke luar negeri. Berdasarkan data Bank Indonesia, sepanjang Semester I 2026 terdapat sekitar 4,46 juta perjalanan wisatawan nasional ke luar negeri dengan pembayaran jasa perjalanan wisatawan Indonesia di luar negeri mencapai sekitar USD6,7 miliar.
“Kondisi tersebut menunjukkan ruang yang besar untuk meningkatkan daya tarik wisata belanja di dalam negeri,” ujarnya.
Airlangga mengatakan, penguatan perdagangan domestik juga perlu dilakukan dengan memperluas jangkauan ekosistem ritel hingga ke wilayah pedesaan.
Baca Juga: Ada Demo AMPB Pati di DPR, Ini 11 Rute Transjakarta yang Dialihkan dan Dihentikan Sementara
Pemerintah mendorong Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) untuk menjadi bagian dari ekosistem tersebut, sehingga akses masyarakat terhadap barang kebutuhan ritel dapat semakin luas sekaligus membuka jalur pemasaran bagi produk yang dihasilkan masyarakat daerah.
“Bapak Presiden juga mendorong agar retail ini tidak hanya di kota-kota besar ataupun di urban, tetapi masuk juga di pedesaan. Oleh karena itu pemerintah mendorong Koperasi Merah Putih agar barang retail yang disubsidi pemerintah juga bisa tersedia di lapangan. Sekaligus mempunyai tugas sebagai agen untuk membeli barang-barang hasil pertanian ataupun perikanan di daerah masing-masing,” ucapnya.
Ia melanjutkan, integrasi antara ritel dan produksi dalam negeri juga menjadi bagian penting dalam transformasi perdagangan. Pemerintah mendorong agar peningkatan aktivitas perdagangan tidak hanya memperkuat sisi konsumsi, tetapi sekaligus menciptakan permintaan bagi barang yang diproduksi di dalam negeri.
“Dan terus pemerintah mendorong sinergi antara retail, dan harapannya tentu barang yang didorong di retail itu juga barang yang diproduksi di dalam negeri,” ungkapnya.
Sebagaimana diketahui, penguatan perdagangan domestik juga sejalan dengan peran konsumsi sebagai salah satu penopang pertumbuhan ekonomi nasional.
Pada Triwulan II 2026, konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 5,06 persen (yoy) dan berkontribusi 53,32 persen terhadap PDB. Sementara itu, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Juli 2026 berada di level 116,8, tetap di atas ambang optimistis 100.
Baca Juga: Prediksi Skor Red Bull Salzburg vs Mjallby AIF: Magis Die Rotten Bullen Masih Ada?
Transformasi perdagangan juga terus didukung oleh perkembangan sistem pembayaran digital. Hingga Juni 2026, QRIS telah digunakan oleh 65,77 juta pengguna dan diterima oleh 44,86 juta merchant, dengan 96,68 persen di antaranya merupakan pelaku UMKM.
Digitalisasi tersebut menjadi salah satu fondasi untuk membangun ekosistem perdagangan yang semakin efisien dan inklusif.