JawaPos.com - Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) selenggarakan Fintech Lending Days (FLD) 2026 pada 20–21 Agustus 2026 di Bali.
FLD 2026 mempertemukan lebih dari 200 peserta dari ekosistem Pindar dan mitra strategis melalui rangkaian strategic forum, business matching, networking session, hingga industry showcase.
Forum ini menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai perspektif, membangun jejaring, dan membuka peluang kolaborasi yang dapat mendukung perkembangan industry sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat dan pelaku usaha di berbagai daerah.
Baca Juga: Soroti Asumsi ICP USD 75 per Barel, Eks Menteri BUMN Ungkap Ancaman Beban Fiskal
Salah satu perusahaan yang mengikuti kegiatan tersebut KrediOne terus memperkuat komitmen mendukung pertumbuhan ekosistem layanan keuangan digital dan pelaku UMKM di Bali.
Partisipasi itu juga menjadi bagian dari langkah perusahaan untuk memperluas konektivitas dengan regulator Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Asosiasi, mitra strategis, serta pelaku usaha sekaligus menghadirkan kontribusi yang lebih nyata bagi perkembangan ekosistem layanan keuangan digital di daerah.
CEO KrediOne Kuseryansyah menyatakan, keterlibatan dalam FLD 2026 bukan sekadar kehadiran dalam agenda industri, tetapi bagian dari upaya untuk membangun kolaborasi yang lebih dekat antara industri Pindar dengan kebutuhan ekonomi di tingkat daerah.
Baca Juga: Menteri BUMN Era Megawati Laksamana Sukardi Soroti Defisit RAPBN 2027 dan Risiko Ekonomi
”Fintech Lending Days menjadi ruang penting untuk melihat perkembangan industri Pindar tidak hanya dari perspektif bisnis, tetapi juga dari bagaimana industri dapat mengambil peran dalam menjawab kebutuhan masyarakat dan pelaku usaha,” papar Kuseryansyah.
”Bali memiliki karakter ekonomi yang kuat dengan potensi UMKM yang besar. Karena itu, kami melihat forum ini sebagai kesempatan untuk mempertemukan industri dengan kebutuhan nyata di lapangan sekaligus membuka ruang kolaborasi yang lebih luas,” sambung dia.
Hingga Juli 2026, lanjut Kuseryansyah, pihaknya telah menyalurkan pendanaan Rp 19 triliun secara nasional, dengan Rp 572 miliar di antaranya disalurkan di Provinsi Bali.
Capaian tersebut mencerminkan kontribusi dalam memperluas akses pendanaan digital sekaligus mendukung aktivitas ekonomi masyarakat dan pelaku usaha di berbagai daerah.
Menurut Kuseryansyah, perluasan akses keuangan harus berjalan beriringan dengan peningkatan literasi.
Karena itu, dalam rangkaian FLD 2026, pihaknya turut melakukan kegiatan literasi keuangan bagi pelaku UMKM dan kelompok tani di Bali, sebagai bagian dari upaya mendorong pemanfaatan layanan keuangan digital secara lebih bijak dan bertanggung jawab.
Baca Juga: BPS Tegaskan Desil Kesejahteraan Bukan Ukuran Tunggal Ekonomi, Ini Penjelasannya
”Akses dan literasi merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Kami ingin memastikan bahwa ketika akses terhadap pendanaan semakin terbuka, masyarakat dan pelaku UMKM juga memiliki pemahaman yang cukup untuk menentukan kebutuhan pembiayaan, mengelola penggunaannya, dan mengambil keputusan keuangan secara bertanggung jawab. Bagi kami, di situlah makna inklusi keuangan yang sesungguhnya,” ujar Kuseryansyah.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara KrediOne dengan Kelompok Tani Jambu Kristal Tabanan, Bali, pada kegiatan FLD 2026.
Penandatanganan MoU dengan Kelompok Tani Jambu Kristal Tabanan merupakan bentuk konkret dukungan kepada UMKM dalam FLD 2026.
Baca Juga: 44,86 Juta Merchant Terima Pembayaran Pakai QRIS, 96,68 Persennya UMKM
”Kami tidak ingin kolaborasi berhenti pada forum dan diskusi, tetapi dapat diwujudkan menjadi kerja sama yang memiliki manfaat nyata bagi pelaku usaha. Kami berharap kerja sama ini dapat mendukung pengembangan usaha sekaligus membuka peluang pertumbuhan yang lebih berkelanjutan bagi masyarakat di daerah,” tandas Kuseryansyah.
Rangkaian Fintech Lending Days 2026 turut dihadiri sejumlah pemangku kepentingan, di antaranya Ketua Komisi XI DPR RI M. Misbakhun, Gubernur Bali I Wayan Koster, Kepala Eksekutif Pengawas OJK Agusman, Ketua Umum AFPI Entjik S. Djafar, serta pelaku industri pindar hingga komunitas dan pelaku UMKM.
FLD 2026 menjadi momentum untuk menegaskan bahwa pertumbuhan industri Pindar perlu berjalan seiring dengan perluasan akses, peningkatan literasi, serta kolaborasi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan pelaku usaha.
Baca Juga: Kendaraan KDKMP Boleh Digunakan sebelum Koperasi Beroperasi
Sekaligus menjaga pertumbuhan bisnis yang selaras dengan terciptanya ekosistem keuangan digital yang sehat dan berkelanjutan