JawaPos.com - Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS berpotensi melemah pada perdagangan Kamis (20/8), setelah sebelummya ditutup menguat 22 poin menjadi Rp 17.840 per dollar AS pada perdagangan Rabu (19/8).
Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pergerakan rupiah pada hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen dalam negeri.
"Untuk perdagangan (20/8) mata uang Rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 17.840-Rp 17.900," ujar Ibrahim dalam keterangan yang diterima, Kamis (20/8).
Baca Juga: Gempa M 5,8 Guncang Manggarai NTT Pagi Ini, BMKG: Tidak Berpotensi Tsunami
Ibrahim mengatakan, salah satu sentimen yang memengaruhi pergerakan rupiah berasal dari keputusan Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75 persen.
Keputusan tersebut diambil dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI periode 18-19 Agustus 2026. Pjs. Gubernur BI Destry Damayanti menyampaikan keputusan itu dalam pengumuman hasil RDG Agustus 2026, Kamis (20/8).
Selain mempertahankan BI Rate, bank sentral juga menahan suku bunga Deposit Facility dan Lending Facility masing-masing di level 4,75 persen dan 6,50 persen.
Kebijakan tersebut dinilai konsisten dengan upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian dan gejolak pasar keuangan global akibat perang di Timur Tengah.
Bank Indonesia juga berupaya menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran 2,5±1 persen yang ditetapkan pemerintah, sekaligus memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional.
Selain kebijakan suku bunga, BI memperluas kebijakan insentif serta menempuh sejumlah langkah lain untuk meningkatkan aliran masuk investasi portofolio asing.
Langkah tersebut diarahkan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah, meningkatkan likuiditas, mengurangi segmentasi likuiditas di pasar uang dan perbankan, serta mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valuta asing.
Meski demikian, Ibrahim memperkirakan sentimen kebijakan moneter tersebut belum sepenuhnya mampu menahan tekanan terhadap rupiah.
“Pasar masih mencermati perkembangan ekonomi global dan ketidakpastian geopolitik yang berpotensi mendorong penguatan dollar AS,” ucapnya.