← Beranda
Anak Menkeu Ungkap 7 Oligarki Kontrol Politik, Celios: Bukan Hal Baru, Harusnya Tolak Proyeknya
Djati WaluyoRabu, 19 Agustus 2026 | 01.57 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. (Salman Toyibi/Jawa Pos)

 

JawaPos.com - Anak Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa, kembali menjadi soroton setelah mengunggah 7 oligarki yang mengontrol politik dalam negeri.

Berdasarkan postingan Yudo Sadewa melalui akun @bc.8a41121a, anak Menkeu menuliskan terdapat 7 orang yang mengontrol politik nasional. Selain itu, ia juga menulis bahwa terdapat salah satu 9 naga dan ada yang jauh lebih kaya namun sembunyi dibalik layar.

Menanggapi hal tersebut, Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menilai pernyataan yang disampaikan Yudo sebenarnya bukan sesuatu yang baru.

"Terkait postingan Yudho sih tidak ada yang baru, karena publik juga sudah tahu ada 9 Naga dan 9 Haji. Tapi yang saya lihat, dia ingin membela bapaknya dengan cara mencari penyebab masalah politik ekonomi di Indonesia,” ujar Nailul kepada JawaPos.com, Selasa (18/8).

Nailul mengatakan, jika persoalan yang diangkat berkaitan dengan pengaruh kelompok tertentu terhadap perekonomian dan politik, seharusnya Menteri Keuangan dapat mengambil peran untuk menyelesaikan persoalan tersebut melalui kewenangan yang dimilikinya.

“Seharusnya, Bapak dia (Yudo) selaku Menkeu, menyelesaikan masalah ekonomi di pemerintahan kita. Dengan pembelaan ini justru kita bertanya, jika memang tidak mampu “mengurung” naga dan haji di luar istana, ya lebih baik tidak jadi Menkeu,” ujarnya.

Ia menilai Menteri Keuangan memiliki posisi strategis karena mengelola keuangan negara. Menurutnya, kewenangan tersebut semestinya dapat digunakan untuk memastikan kebijakan dan proyek pemerintah tidak hanya memberikan keuntungan kepada kelompok tertentu.

“Menkeu sebagai pemegang dana, harusnya bisa menolak proyek-proyek yang hanya menguntungkan oligarki saja. Tapi tidak dilakukan oleh Purbaya yang artinya, ya sama saja Purbaya di bawah kendali 9 naga dan 9 haji,” ucapnya.

Oligarki Selalu Mengambil Keuntungan

Nailul melanjutkan, , oligarki dinilai kerap mengambil keuntungan dari kondisi sulit yang dihadapi masyarakat dengan menguasai sejumlah program maupun proyek pemerintah.

Menurutnya, kelompok oligarki dapat memperoleh rente dari berbagai kebijakan dan proyek yang dijalankan pemerintah, mulai dari sektor impor hingga program pembangunan sawah.

“Mulai dari impor hingga program pembangunan sawah, oligarki ini selalu diuntungkan. Ini yang membuat uang Indonesia yang begitu banyak tidak menetes ke bawah. Mereka mengandap di oligarki tadi,” ungkapnya.

Selain menguasai sektor ekonomi, Nailul menilai pengaruh oligarki juga dapat masuk ke ranah politik dan proses pengambilan kebijakan pemerintah.

“Peran mereka di politik kebijakan kita juga besar di mana mereka bisa mengarahkan keputusan politik pemerintah. Di mana proyek A dibangun, di mana proyek B dilakukan, itu semua diatur oleh oligarki ini,” jelasnya.

Nailul mengatakan kuatnya pengaruh oligarki juga berkaitan dengan minimnya kemauan pemerintah untuk mendengarkan kritik dan masukan dari masyarakat.

Ia menilai, pemerintah berisiko hanya menerima informasi dari kelompok yang memiliki kepentingan tertentu apabila tidak melakukan verifikasi dengan sumber informasi lain, termasuk suara publik.

“Pada akhirnya, kebijakan yang diambil ya hanya menguntungkan ologarki ini. Pemerintah sebenarnya punya cara menghentikan ologarki dengan mulai mendengarkan suara dari publik,” pungkasnya.

 

EDITOR: Kuswandi