← Beranda
Ekonom sebut Target Pertumbuhan Ekonomi 6 Persen di 2027 Tidak Realistis
Djati WaluyoSelasa, 18 Agustus 2026 | 02.13 WIB
Pertumbuhan ekonomi Indonesia (Dok. JawaPos.com)

JawaPos.com - Target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6 persen pada 2027 dinilai terlalu optimistis, di tengah kondisi perekonomian global dan nasional yang masih menghadapi berbagai tekanan.

Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda mengingatkan, mesin pertumbuhan ekonomi dari sisi pengeluaran pemerintah, yang sebelumnya jadi salah satu pengungkit pertumbuhan sudah banyak digunakan pada 2025–2026.

Kondisi tersebut membuat ruang bagi pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi pada 2027 semakin terbatas.

“Target pertumbuhan ekonomi 6 persen saya nilai terlalu optimistis di tengah kondisi ekonomi global dan nasional seperti saat ini. Mesin pertumbuhan ekonomi dari sisi pengeluaran pemerintah pun sudah “habis” digunakan di tahun 2025-2026. Artinya tidak ada lagi mesin pengungkit pertumbuhan ekonomi tahun depan,” ujar Nailul dalam catatannya, dikutip Senin (17/8).

Baca Juga: Prabowo: S&P hingga Lianhe Akui Fundamental Ekonomi Indonesia Kokoh dan Layak Investasi

Nailul menilai pertumbuhan ekonomi pada tahun 2027 paling tinggi berada di angka 4,7 persen.

Penyebabnya terutama adalah berbagai kondisi seperti kenaikan PHK di tahun 2026, juga inflasi yang diprediksi akan meningkat dari sisi biaya produksi, sehingga dari sisi konsumsi rumah tangga bisa tertekan.

Dari sisi pengeluaran pemerintah, akan ada tekanan terhadap belanja negara dengan adanya normalisasi program MBG dengan pemotongan anggaran yang cukup signifikan.

Selain itu, pembangunan dari sisi program Kopdes Merah Putih juga sudah tidak ada lagi yang dapat dijadikan faktor pengungkit dari sisi sektor bangunan.

“Yang ada adalah kemampuan pemerintah desa untuk memutarkan Dana Desa berkurang untuk membayar cicilan utang Kopdes Merah Putih kepada bank Himbara. Akibatnya, daya ungkit dari desa akan tergerus secara signifikan di tahun 2027,” jelasnya.

Baca Juga: RAPBN 2027: Target Pertumbuhan Ekonomi 6 persen, Asumsi Kurs Rp 17.500 per Dolar AS

Selain itu, iInflasi yang ditargetkan 2,5 persen plus minus 1 persen juga sangat tidak realistis dan tidak mempertimbangkan faktor kenaikan harga pangan ke depan.

Faktor El Nino Godzilla hingga adanya imported inflation terlihat tidak dianggap signifikan oleh pemerintah.

“Inflasi pada tahun 2027 diprediksi bisa mencapai 5,74 persen dengan berbagai kondisi, seperti adanya El-Nino Godzilla di akhir tahun 2026 hingga tahun 2027,” ucapnya.

Menurut dia, hal tersebut bisa menyebabkan kenaikan harga pangan secara nasional, termasuk harga beras dan komoditas penting lainnya.

Sementara itu, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar di angka Rp 17.500 per USD juga masih sangat optimistis, di mana saat ini pun nilai tukar rupiah sudah di rentang Rp 17.800-18.100 per USD.

Baca Juga: Pemerintah Optimis Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tembus 6 Persen, Ini Strateginya!

Dengan begitu, maka dapat dikatakan bahwa tidak ada kemungkinan rupiah kembali ke angka Rp 17.500 per USD.

Nailul meproyeksikan nilai tukar rupiah berada di level Rp 18.400 per USD, lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi saat ini.

Nilai tukar rupiah yang melemah ini disebabkan oleh faktor kepercayaan investor yang masih rendah, di mana masih terjadi capital outflow apabila pengelolaan fiskal tidak prudent.

“Selain itu, dari dalam negeri masih terjadi penurunan ketidakpercayaan dengan tingginya penukaran rupiah terhadap valuta asing, terutama Dolar US,” ungkapnya.

Baca Juga: Prabowo: Indikator Ekonomi RI Tetap Terjaga di Tengah Tekanan Global

EDITOR: Bayu Putra