JawaPos.com - Kementerian Pertanian (Kementan) menggandeng Universitas Negeri Surabaya (Unesa) untuk mengembangkan bibit kedelai berkualitas unggul.
Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan memorandum of understanding (MoU) antara Kementan dan Fakultas Ketahanan Pangan Unesa.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan, kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat produksi kedelai dalam negeri sekaligus mewujudkan swasembada pangan sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
Baca Juga: PSS Sleman Kalahkan Kendal Tornado FC, Pieter Huistra Belum Puas dengan Performa Tim
Dalam kerja sama itu, Kementan menyiapkan lahan kedelai seluas 100 hektare. Kementan juga memberikan bantuan berupa bibit dan alat mesin pertanian (alsintan) secara gratis.
“Kami tinggal lanjutkan kedelai. Punya lahan 100 hektare. Kami berikan bibit gratis, tadi traktor untuk empat (unit) itu gratis. Diolah, dosen-dosen nanti meneliti,” kata Amran, usai menghadiri wisuda ke 121 Unesa, Rabu (13/8).
Dia menargetkan produktivitas kedelai yang dikembangkan bersama Unesa dapat mencapai 3,5 hingga 5 ton per hektare. Hasil panen nantinya akan dibeli oleh Kementan sebagai offtaker.
“Kalau produksinya insyaallah bisa 4 ton, 5 ton, minimal 3,5 ton per hektare. Semua bibit yang 56 hektare kami beli. Offtaker-nya Kementerian. Sesudah itu, ini diberikan gratis pada masyarakat Jawa Timur,” ujarnya.
Baca Juga: Kuota Internet Cepat Habis? Cek 7 Pengaturan Android Ini
Amran menegaskan, pola tersebut akan dilakukan secara berkelanjutan. Hasil pengembangan bibit di perguruan tinggi diharapkan dapat dimanfaatkan masyarakat untuk memperkuat produksi pangan di daerah.
“Terus-menerus seperti itu. Karena Bapak Presiden minta, kita swasembada kedelai diminta,” imbuhnya.
Menurut Amran, kerja sama dengan perguruan tinggi tidak hanya dilakukan dengan UNESA.
Kementan juga telah menjalin kolaborasi dengan sejumlah perguruan tinggi lain untuk mengembangkan komoditas pertanian sesuai keahlian masing-masing.
“Kami sudah anggarkan Rp250 miliar. Kemudian ITS, kemarin bibit jagung itu Rp10 miliar. Sudah beli, sudah jadi. Mudah-mudahan empat bulan ke depan ini jadi,” jelasnya.
Dia menyebut pembagian komoditas dilakukan berdasarkan kemampuan dan fokus riset masing-masing perguruan tinggi.
Baca Juga: OPEC dan IEA Pangkas Proyeksi Permintaan, Harga Minyak Mentah Dunia Tertekan
Kementan juga telah menjalin MoU dengan kementerian yang membidangi pendidikan tinggi agar kampus yang berminat mengembangkan komoditas maupun peralatan pertanian dapat langsung bekerja sama.
Amran mendorong perguruan tinggi menghasilkan inovasi pertanian yang dapat digunakan di dalam negeri sehingga ketergantungan terhadap produk luar negeri bisa dikurangi.
“Kita harus bangga dengan produk-produk perguruan tinggi. Kalau triple helix dijalankan dengan baik, pemerintah sebagai regulator, industri adalah pengusaha, kemudian akademisi sebagai menciptakan inovasi baru, ini negara ini kuat. Sangat kuat,” tegasnya.
Selain penelitian dan pengembangan komoditas, Amran mengatakan mahasiswa juga berpeluang dilibatkan dalam program magang di sektor pertanian. Kementan saat ini memiliki sejumlah alat dan mesin pertanian yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengelolaan lahan sekaligus memberikan pengalaman praktik kepada mahasiswa.
Dia juga menekankan pentingnya transformasi pertanian tradisional menuju pertanian modern. Menurut Amran, penggunaan mesin pertanian dapat meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya produksi.
Baca Juga: Korea Utara Siapkan Tambahan Pasukan ke Rusia, Total Bisa Capai 50.000
“Jadi, kita bertransformasi dari pertanian tradisional, mencangkul pakai kerbau, macam-macam, menuju pertanian modern,” kata Amran.
Pertanian modern, lanjut dia, dilakukan dengan memanfaatkan mesin dalam proses pengolahan tanah hingga panen. Dengan cara tersebut, indeks pertanaman atau planting index ditargetkan meningkat dari satu kali menjadi dua hingga tiga kali dalam setahun.
“Tujuannya apa? Planting index-nya dua kali, tiga kali. Satu kali menjadi tiga kali. Kemudian produktivitas naik dan biayanya bisa turun sampai 60 persen. Itulah pertanian modern,” pungkasnya.