← Beranda
Pengamat Lihat Potensi Positif Kinerja BUMN di Bawah Danantara
AntaraKamis, 13 Agustus 2026 | 00.27 WIB
Ilustrasi Danantara. (Salman Toyibi/Jawa Pos)

 

JawaPos.com - Program konsolidasi dan transformasi BUMN yang dijalankan Danantara mulai menunjukkan hasil yang konkret. Hal ini tercermin dari lonjakan laba bersih di hampir seluruh sektor strategis BUMN.

Managing Partner BUMN Research Group Lembaga Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Toto Pranoto menilai kinerja positif BUMN di bawah Danantara berpotensi semakin meroket. Terlebih dengan streamlining BUMN yang mendorong efisiensi jumlah perusahaan negara akan semakin efektif dan efisien.

"Harapan saya supaya proses streamlining BUMN bisa dipercepat sehingga perbaikan kinerja bisa lebih cepat dilaksanakan," ujar Toto dilansir dari Antara di Jakarta, Rabu (12/8).

Baca Juga: Pertamina Lubricants Perluas Pasar Ekspor, Produk Pelumas Tembus 16 Negara

Menurut Toto, kinerja positif sejumlah BUMN sepanjang semester pertama 2026 menjadi salah satu prestasi yang paling disorot dari pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

"Menurut saya kinerja solid masih ditunjukkan BUMN blue chips yang sedari dulu menjadi motor penggerak revenue dan profit total BUMN. Misal kinerja Himbara di sektor perbankan, sektor mineral dan hasil tambang, sektor telco dan Pertamina," ujar Toto.

Berdasar laporan keuangan Semester I 2026 yang dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, PT Timah mencatatkan pertumbuhan laba paling dramatis di antara BUMN lainnya.

Baca Juga: HBKN dan Libur Sekolah Belum Cukup, Penjualan Ritel Juni 2026 Masih Terkontraksi

Perusahaan tambang pelat merah itu membukukan laba bersih Rp 2,71 triliun, melonjak 804,7 persen dari sebelumnya hanya Rp 300 miliar.

Lonjakan tersebut menjadi sinyal kuat bahwa perusahaan yang sempat diragukan kinerjanya kini benar-benar bangkit di bawah arahan transformasi Danantara.

Tak kalah signifikan, PT Pupuk Indonesia turut mencatatkan kinerja gemilang dengan laba bersih Rp 8,51 triliun, tumbuh 253 persen dibandingkan Rp 2,41 triliun pada semester I 2025.

Di sektor semen, PT Semen Indonesia mencatat kenaikan laba 196,5 persen, dari Rp 65,24 miliar menjadi Rp 193,46 miliar, memberi sinyal positif bagi keberlanjutan sektor konstruksi dan infrastruktur nasional.

Sementara itu, Toto Pranoto mengatakan, PT Agrinas Palma Nusantara tumbuh 150 persen dengan laba mencapai Rp 890 miliar, mengonfirmasi keberhasilan konsolidasi sektor perkebunan strategis yang kini berada di bawah pengelolaan BUMN.

Pertumbuhan solid juga terlihat di sektor jasa keuangan dan logistik. PT Pegadaian membukukan kenaikan laba 84,6 persen menjadi Rp 6,59 triliun, disusul PT Pelindo yang tumbuh 60,4 persen menjadi Rp 2,57 triliun.

Baca Juga: Indeks Keyakinan Konsumen BI Turun pada Juli 2026, Kelompok Usia di Atas 41 Tahun Paling Pesimis!

PTPN IV PalmCo mencatatkan kenaikan 54 persen menjadi Rp 3,23 triliun, sementara Bank Tabungan Negara (BTN) tumbuh 40,8 persen menjadi Rp 2,40 triliun.

Bank Mandiri, sebagai salah satu bank pelat merah terbesar di Tanah Air, turut mencatatkan pertumbuhan laba 24,3 persen menjadi Rp30,41 triliun.

Catatan itu, lanjutnya, menunjukkan bahwa transformasi tidak hanya dirasakan BUMN berskala kecil-menengah, tetapi juga institusi keuangan raksasa yang sudah mapan sekalipun.

Baca Juga: Konkretkan Skema Ekspor Satu Pintu, Jangan Sampai Petani Sawit Terdampak

Adapun PT Pertamina Geothermal Energy mencatatkan pertumbuhan laba 15,5 persen menjadi 79,61 juta dolar AS, memperkuat posisi Indonesia dalam pengembangan energi bersih.

"Yang tak kalah penting, sejumlah BUMN yang sebelumnya merugi berhasil membalikkan keadaan pada semester ini," ujar Toto Pranoto.

PT Krakatau Steel, yang lama menjadi simbol beban di sektor BUMN karya dan industri berat, berhasil keluar dari kerugian sekitar Rp 1,74 triliun menjadi laba sekitar Rp 150 miliar hingga Rp 185 miliar.

Baca Juga: Misi Dagang Jatim-Kalbar 2026 Catatkan Transaksi Rp 2,5 Triliun, Investasi Rp 885 Miliar

Hal serupa terjadi pada PT Kimia Farma, yang berbalik dari rugi Rp 135,61 miliar menjadi laba Rp 54,07 miliar.

Kedua turnaround itu dinilai penting secara simbolis, mengingat keduanya kerap dianggap sebagai representasi persoalan struktural yang membelit BUMN selama bertahun-tahun.

Rangkaian capaian tersebut memberikan modal ekonomi yang kuat menjelang tahun kedua pemerintahan Presiden Prabowo.

Pemerintah dinilai memiliki bukti konkret bahwa reformasi struktural terhadap BUMN, mulai dari konsolidasi ratusan entitas di bawah satu payung Danantara hingga penegakan disiplin operasional dan tata kelola, bukan sekadar wacana, melainkan kebijakan yang telah menunjukkan hasil terukur.

Baca Juga: Temukan Perusahaan yang Syaratkan Batas Usia hingga Good Looking? Laporkan!

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah