JawaPos.com – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih menjadi instrumen penting untuk memangkas rantai pasok hasil pertanian, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
Lewat distribusi yang lebih pendek, keuntungan yang selama ini dinikmati rantai perantara diyakini dapat kembali ke petani dan menggerakkan ekonomi desa.
Menurut Amran, selama ini rantai distribusi komoditas pertanian terlalu panjang sehingga mengurangi nilai yang diterima petani.
Dengan keberadaan Kopdes Merah Putih, jalur distribusi akan dipangkas menjadi lebih sederhana, yakni dari petani ke koperasi, kemudian langsung kepada masyarakat.
Baca Juga: 94 Persen Kopdes Merah Putih di Mojokerto Dilaporkan Sudah Gelar RAT
"Di sektor pertanian, fungsi utama koperasi adalah memotong supply chain atau rantai pasok dari delapan mata rantai menjadi tiga. Yakni petani, koperasi, lalu masyarakat," kata Amran dalam Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) Kopdes Merah Putih yang dipimpin Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan di Jakarta, Selasa (28/7).
Kementan dalam hal ini telah menghitung bahwa pada sembilan komoditas utama, keuntungan yang selama ini dinikmati tengkulak mencapai sekitar Rp 313 triliun.
Jika koperasi mengambil sebagian kecil peran tersebut, maka manfaat ekonomi yang jauh lebih besar dapat kembali kepada petani.
"Kalau koperasi memperoleh Rp 50 triliun saja, berarti masih ada sekitar Rp263 triliun yang bisa dinikmati petani. Dampaknya harga di tingkat petani meningkat, daya beli masyarakat ikut naik, uang berputar di desa, dan ekonomi kerakyatan tumbuh. Itu yang diinginkan Bapak Presiden Prabowo," ujarnya.
Selain memangkas rantai pasok, Amran mengatakan Kopdes Merah Putih juga akan mendekatkan berbagai layanan pertanian kepada petani.
Baca Juga: Menkeu Purbaya Sebut Penyaluran Bansos dan Subsidi Bakal Lewat Kopdes Merah Putih
Distribusi pupuk bersubsidi akan lebih mudah dijangkau karena tersedia di tingkat desa. Begitu pula penjualan gabah tidak lagi bergantung pada gudang yang lokasinya jauh dari sentra produksi.
"Kalau setiap desa memiliki koperasi, petani tidak perlu lagi menempuh jarak yang jauh untuk mendapatkan pupuk atau menjual gabah. Perputaran uang terjadi di desa, rantai pasok menjadi lebih pendek, daya beli masyarakat meningkat, dan kesejahteraan petani ikut naik," jelasnya.
Amran juga menegaskan koperasi akan berperan sebagai offtaker sekaligus distributor berbagai komoditas pertanian.
Menurut dia, sistem ini akan membantu mengatasi persoalan anjloknya harga saat panen raya di satu daerah, sekaligus memastikan distribusi pangan antardaerah berjalan lebih baik.
"Selama ini kita sering melihat tomat, cabai, atau sayuran dibuang karena harga jatuh di daerah tertentu, padahal di daerah lain harganya tinggi. Melalui Agrinas Pangan sebagai pelaksana, koperasi akan mengorganisasi distribusi dari Sabang sampai Merauke sehingga komoditas dapat terserap dan tersalurkan dengan lebih baik," terangnya.