JawaPos.com - Ekonom Centre of Reform on Economics (CORE) Indonesia menilai kondisi perekonomian nasional saat ini sudah memasuki fase yang layak menjadi alarm menuju krisis, seiring melemahnya tiga penopang utama pertumbuhan ekonomi, yakni konsumsi rumah tangga, investasi, dan net ekspor.
Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengatakan bahwa kondisi tersebut tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan merupakan akumulasi tekanan pada berbagai sektor yang kini terjadi secara bersamaan.
Baca Juga: Dilema Kelas Menengah di Antara Bunga dan Rupiah
"Menurut saya kondisi ini layak menjadi alarm, bukan karena fundamental ekonomi sedang menuju krisis, tetapi karena ruang untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi semakin sempit," ujar Yusuf kepada JawaPos.com Sabtu (4/7).
Yusuf mengatakan, dalam struktur produk domestik bruto (PDB), pelemahan net ekspor seharusnya dapat ditopang oleh konsumsi atau investasi. Namun, kedua komponen tersebut saat ini juga berada dalam tekanan.
Selain itu, konsumsi rumah tangga melemah akibat inflasi yang meningkat, sementara investasi menghadapi tantangan karena kebijakan suku bunga yang harus tetap tinggi untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi.
"Masalahnya, konsumsi sedang tertekan oleh inflasi yang meningkat, sementara investasi juga menghadapi tantangan karena suku bunga harus tetap tinggi untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi," ujarnya.
Baca Juga: Inflasi Juni 2026 Tembus 0,44 Persen, Dipicu Kenaikan BBM dan Bahan Pangan
Di sisi lain, sektor manufaktur masih berada dalam fase kontraksi, sementara tekanan di pasar tenaga kerja belum menunjukkan perbaikan yang signifikan.
Yusuf mengatakan, ketika tiga mesin utama pertumbuhan ekonomi melemah secara bersamaan, maka pencapaian target pertumbuhan ekonomi menjadi semakin sulit dicapai.
Untuk itu, Ia mendorong pemerintah agar kebijakan ekonomi ke depan tidak hanya perlu berfokus pada stabilitas jangka pendek, tetapi juga pada perbaikan struktural, terutama di sektor minyak dan gas (migas) serta penguatan basis industri manufaktur.
“Kebijakan seharusnya tidak hanya menjaga stabilitas jangka pendek, tetapi juga memperbaiki persoalan struktural di sektor migas dan memperkuat basis manufaktur agar pelemahan rupiah benar benar dapat diterjemahkan menjadi peningkatan daya saing ekspor,” ungkapnya.