← Beranda
Bukan Untungkan Ekspor, Pelemahan Rupiah Justru Ancam Sektor Manufaktur
Djati WaluyoMinggu, 5 Juli 2026 | 00.14 WIB
Sejumlah pekerja beraktivitas di tempat penyortiran barang ekspor dan impor di sebuah warehouse.

 

JawaPos.com - Ekonom Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda, menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berpotensi membahayakan sektor riil secara keseluruhan di Indonesia.

Nailul menyebut tekanan nilai tukar tidak hanya berdampak pada perdagangan luar negeri, tetapi juga dapat merambat ke neraca perdagangan, neraca pembayaran, hingga sektor industri pengolahan atau manufaktur.

Ia menegaskan kondisi tersebut menjadi sinyal risiko bagi perekonomian nasional apabila tekanan terhadap nilai tukar terus berlanjut dalam jangka waktu yang lebih panjang.

"Pemerintah harus menyadari bahwa nilai tukar yang merosot membahayakan sektor riil. Mulai dari neraca dagang, neraca pembayaran sudah minus, nanti akan merembet kepada sektor manufaktur (industri pengolahan). Jadi ini sebagai pertanda yang berbahaya bagi sektor riil Indonesia," ujar Nailul kepada JawaPos.com, Sabtu (4/6).

Baca Juga: Setelah Surplus 72 Bulan Berturut-turut, Neraca Perdagangan Defisit USD 1,61 Miliar pada Era Prabowo

Nailul mengatakan, keterkaitan antar sektor tersebut menunjukkan bahwa pelemahan rupiah tidak berdiri sendiri, melainkan dapat memicu tekanan berantai pada struktur ekonomi nasional, terutama pada sektor manufaktur yang menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, ia menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tidak memberikan dampak positif otomatis terhadap ekspor Indonesia.

Menurutnya, kondisi struktur industri nasional membuat depresiasi rupiah lebih banyak menambah beban sektor riil dibanding meningkatkan daya saing ekspor.

Ia mengatakan, secara teori pelemahan nilai tukar dapat mendorong ekspor apabila industri dalam negeri memiliki kapasitas produksi yang kuat dan mampu memenuhi kebutuhan domestik tanpa ketergantungan pada impor bahan baku.

Namun, Nailul menegaskan kondisi Indonesia masih menunjukkan ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor, bahkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

"Pertama, tekanan nilai tukar rupiah di Indonesia, tidak mempunyai pengaruh positif kepada ekspor. Secara teori memang bisa, tapi dengan syarat bahwa industri dalam negerinya kuat, bisa mensupply kebutuhan untuk dalam negeri," ujarnya.

Ia melanjutkan, ketika rupiah melemah, biaya impor menjadi lebih mahal, di sisi lain produk yang berorientasi ekspor juga ikut tertekan karena masih bergantung pada bahan baku impor sehingga tidak serta-merta menjadi lebih kompetitif.

"Industri di Indonesia masih banyak mengandalkan bahan baku dari impor. Jadi hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri saja, impor masih menjadi andalan. Jadi ketika nilai tukar melemah, impor lebih mahal, ketika mau diekspor ya harganya mahal juga," ungkapnya.

Neraca Dagang Defisit usai Reli Surplus 72 Bulan

Diberitakan sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar USD 1,61 miliar pada Mei 2026 atau mengakhiri tren surplus selama 72 bulan berturut-turut.

Defisit neraca perdagangan Indonesia disebabkan oleh nilai impor yang lebih tinggi dibandingkan dengan nilai ekspor. Adapun, nilai impor Indonesia pada Mei sebesar USD 24,81 miliar, sedangkan ekspor RI USD 23,20 miliar.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan efisit pada Mei 2026 disebabkan pada komoditas migas sebesar defisit USD 3,76 miliar dengan penyumbang defisit komoditas migas hasil minyak dan minyak mentah.

"Untuk Mei 2026, nilai ekspor tersebut turun 5,73 persen secara tahunan, sementara untuk nilai impor pada bulan Mei mengalami peningkatan 22,16 persen secara tahunan," ujar Ateng dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (1/7).

Ateng mengatakan, komoditas nonmigas masih alami surplus meskipun lebih rendah dari April 2026. Surplus nonmigas di Mei 2026 sebesar USD 2,15 miliar, turun dibandingkan April 2026 senilai USD 3,53 miliar.

Komoditas utama penyumbang surplus nonmigas ini antara lain bahan bakar mineral (HS27). Penyumbang surplus berikutnya dari lemak dan minyak hewan/nabati (HS15), dan juga besi dan baja (HS72).

Ateng mengatakan, untuk total impor di Mei 2026 mencapai USD 24,81 miliar (yoy) atau naik 22,16 persen dari Mei 2025. Kenaikan impor Mei 2026 ini berasal dari impor migas senilai USD 4,51 miliar naik 70,78 persen (yoy). Impor nonmigas pun melonjak menjadi USD 20,30 miliar pada Mei 2026 atu naik 14,89 persen (yoy).

"Peningkatan impor secara tahunannya (impor Mei 2026) ini terutama didorong impor nonmigas dengan andil peningkatan impor nonmigas sebesar 12,95 persen," ucapnya.

Penurunan ekspor ini berasal dari penurunan ekspor migas dan nonmigas. Masing-masing untuk penurunan migas sebesar minus 31,76 persen (yoy) menjadi USD 0,76 miliar dan ekspor nonmigas turun 4,50 persen menjadi USD 22,45 miliar.

Adapun, penurunan nilai ekspor Mei 2026 secara tahunan didorong terutama oleh penurunan nonmigas dengan beberapa komoditas utama.

Pertama adalah logam mulia dan perhiasan atau permata (HS71) turun 59,35 persen dengan andil minus 2,93 persen terhadap kenaikan total ekspor. Kedua adalah ekspor bijih logam, terak dan abu (HS26) turun 99,25 persen dengan andil minus 2,37 persen.

Ketiga ekspor besi dan baja (HS72) turun 14,68 persen dengan andil 1,67 persen. Berdasarkan sektor, ekspor Mei 2026 mengalami penurunan dibandingkan Mei 2025. Ekspor untuk sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan turun 20,43 persen (yoy) menjadi USD 0,50 miliar. 

Kedua, sektor pertambangan dan lainnya turun 7,03 persen (yoy) menjadi USD 2,89 miliar. Dan ketiga ekspor sektor industri pengolahan turun 3,59 persen (yoy) menjadi USD 19,05 miliar.

Meski demikian, secara kumulatif pada Januari hingga Mei 2026 mengalami surplus USD 4,03 miliar, dengan rincian ekspor USD 115,36 miliar dan impor USD 111,33 miliar.

Ia menjelaskan, total nilai ekspor kumulatif tersebut mengalami peningkatan 3,02 persen secara tahunan (yoy), dengan sektor yang berkontribusi terbesar yakni industri pengolahan sebesar 5,38 persen. Dan impor naik 15,24 persen, dengan andil utama peningkatan impor bahan baku/penolong 10,35 persen.

EDITOR: Estu Suryowati