JawaPos.com - Penerapan ekonomi sirkular menjadi solusi untuk mengurangi timbunan sampah. Selain itu mampu membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Pendekatan ini mendorong material agar tetap berada dalam siklus penggunaan melalui pengurangan, penggunaan kembali, dan daur ulang. Sehingga nilai ekonominya dapat terus dimanfaatkan.
Isu tersebut mengemuka dalam diskusi bertajuk Circular Economy in Action: Sinergi Kemitraan Multisektoral dalam Akselerasi Pengelolaan Sampah yang Berkelanjutan, memperingati Hari Lingkungan Hidup Dunia 2026.
Baca Juga: Sowan ke Mendikdasmen, BGN Bakal Manfaatkan Dapodik untuk Acuan Refocusing Penerima Manfaat MBG
Dalam kehidupan sehari-hari, konsep ekonomi sirkular dinilai dapat dimulai dari langkah sederhana. Seperti memilah sampah dari rumah dan menyalurkan kemasan bekas ke bank sampah atau jalur pengumpulan yang tepat.
Dengan cara tersebut, kemasan pasca konsumsi tidak berakhir sebagai limbah, tetapi dapat diolah kembali menjadi bahan baku maupun produk baru. Direktur Ekonomi Sirkular dan Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup Agus Rusly menegaskan, transformasi dari sistem pengelolaan sampah linear menuju ekonomi sirkular menjadi langkah strategis dalam menjawab tantangan sampah di Indonesia.
Menurut dia, Indonesia terus memperkuat transformasi pengelolaan sampah dari pendekatan linear menuju ekonomi sirkular yang menempatkan sampah sebagai sumber daya yang masih memiliki nilai.
Baca Juga: Komdigi Mulai Verifikasi 14 Layanan Apple, Pastikan Penuhi Standar Pelindungan Anak
“Implementasi EPR menjadi instrumen penting untuk memastikan produsen turut bertanggung jawab terhadap kemasan pascakonsumsi yang mereka hasilkan. Keberhasilan agenda ini membutuhkan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, industri, pelaku pengelolaan sampah, dan masyarakat agar target pengurangan sampah nasional dapat tercapai secara efektif dan berkelanjutan," jelas Agus.
Sementara itu, Mira Buanawati, General Counsel and Head of Corporate Affairs PT Heinz ABC Indonesia, mengatakan, keberhasilan penerapan ekonomi sirkular tidak dapat dicapai satu pihak saja. Sinergi antara pemerintah, industri, organisasi pengelola sampah, komunitas, hingga masyarakat menjadi faktor utama dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
"Kami percaya bahwa pengelolaan sampah yang berkelanjutan tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan sinergi lintas sektor untuk membangun sistem yang mampu mendorong lebih banyak material kembali ke rantai daur ulang dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi lingkungan," ujar Mira.
Komitmen tersebut sejalan dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 75 Tahun 2019 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen. Regulasi tersebut mendorong produsen menjalankan prinsip reduce, reuse, dan recycle (3R) sekaligus memperkuat implementasi Extended Producer Responsibility (EPR), yakni tanggung jawab produsen terhadap pengelolaan kemasan setelah digunakan konsumen.
Dalam implementasinya, Indonesia Packaging Recovery Organization (IPRO) berperan sebagai organisasi nirlaba yang dibentuk oleh produsen untuk mendukung pengelolaan kemasan pasca konsumsi. Melalui sistem kolektif, organisasi tersebut berupaya meningkatkan pengumpulan kemasan secara terpilah agar lebih banyak material dapat kembali ke rantai daur ulang.
"Semakin banyak kemasan yang berhasil dipulihkan, semakin berkurang pula beban kebocoran pengelolaan sampah yang terjadi pada lingkungan dan tempat pembuangan akhir," kata General Manager IPRO Reza Andreanto.
Baca Juga: Purbaya Lantik Tiga Dirjen Baru di Kemenkeu
Di sisi lain, Founder Kita Olah Indonesia Andriansyah menilai, aktivitas pengumpulan material untuk didaur ulang tidak hanya memberikan dampak positif terhadap lingkungan. Tapi juga menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat yang terlibat dalam rantai pengelolaan sampah.
"Collection for recycling bukan hanya tentang mengumpulkan material yang dapat didaur ulang. Program ini juga menciptakan peluang ekonomi bagi komunitas pengelola sampah, pengepul, dan mitra daur ulang. Ketika masyarakat memilah sampah, lalu material tersebut berhasil masuk ke rantai daur ulang, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh lingkungan, tetapi juga oleh masyarakat yang terlibat dalam proses tersebut," ujar Andriansyah.
Diskusi tersebut juga menekankan pentingnya partisipasi masyarakat dalam mendukung ekonomi sirkular. Kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah, mengurangi penggunaan material yang tidak diperlukan, serta memastikan kemasan yang masih dapat didaur ulang masuk ke jalur pengumpulan yang tepat dinilai mampu memberikan dampak besar apabila dilakukan secara konsisten.
Baca Juga: Viral Bangunan KDMP di Tengah Tambak, Kepala Desa Sebut Sudah Melalui Musdes