JawaPos.com – Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam mewujudkan pengelolaan limbah yang berkelanjutan seiring pertumbuhan aktivitas industri.
Data Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mencatat lebih dari 60 persen sungai di Indonesia dalam kondisi tercemar, mayoritas karena aktivitas limbah domestik, sampah rumah tangga, hingga limbah industri.
Di tengah kebutuhan tersebut, berbagai inovasi pengolahan limbah menjadi produk yang dapat dimanfaatkan kembali mulai didorong sebagai bagian dari transisi menuju ekonomi sirkular dan industri hijau.
Diskusi itu mengemuka pada puncak peringatan Hari Lingkungan Hidup 2026 yang diselenggarakan di kawasan Smelter PT Freeport Indonesia, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) JIIPE, Gresik, Jawa Timur, Senin (29/6).
"Penerapan prinsip pemanfaatan sampah dan limbah tidak hanya membantu menekan dampak negatif terhadap lingkungan, tetapi juga mendukung terciptanya ekonomi sirkular melalui proses daur ulang dan pemanfaatan kembali yang bernilai tambah. Kami mengapresiasi seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam upaya ini," ujar Wakil Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Jepino Ngabdi.
Mengusung tema "Be the Solution, Not Pollution: Recycle and Conserve", kegiatan ini menjadi wadah kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, dan penyedia solusi lingkungan untuk mendorong praktik pengelolaan limbah yang bertanggung jawab serta mendukung pembangunan berkelanjutan
Berbagai inovasi pengelolaan dan pemanfaatan limbah ditampilkan. Salah satunya lewat kolaborasi
PT Prasadha Pamunah Limbah Industri (PPLI) bersama PT Dowa Eco-System Indonesia (DESI).
Kehadiran kedua perusahaan menjadi wujud sinergi dalam menghadirkan solusi pengelolaan limbah yang aman, inovatif, dan berkelanjutan bagi sektor industri.
Pada pameran tersebut, keduanya menghadirkan berbagai inovasi yang menunjukkan bahwa limbah dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan.
Inovasi yang dipamerkan meliputi pengolahan sampah domestik menjadi kompos serbuk, kompos pelet, kompos briket, media tanam, serta pelet ikan; pemanfaatan limbah kayu menjadi produk fungsional dan dekoratif.
Ada juga pemanfaatan Desalination Sludge menjadi material bernilai tambah yang dapat dimanfaatkan lebih lanjut sebagai bahan pendukung produk konstruksi berkelanjutan.
Perwakilan Sales PT Dowa Eco-System Indonesia (DESI), Farid Ardiyansyah, mengatakan bahwa kolaborasi antara PPLI dan DESI merupakan bentuk sinergi dalam menghadirkan solusi pengelolaan limbah yang terintegrasi bagi berbagai sektor industri di Indonesia.
"Limbah bukan hanya sesuatu yang harus dikelola dengan aman, tetapi juga memiliki potensi untuk dimanfaatkan kembali menjadi produk yang bernilai tambah. Sinergi antara penyedia solusi lingkungan, pelaku industri, dan pemerintah menjadi kunci dalam mendorong penerapan ekonomi sirkular dan pengelolaan limbah yang berkelanjutan," ujar Farid.
Kegiatan ini juga mendapat apresiasi dari Pemerintah Kabupaten Gresik. Bupati Gresik, Fandi Akhmad Yani, menegaskan bahwa tantangan perubahan iklim memerlukan kepedulian dan aksi nyata dari seluruh pemangku kepentingan, termasuk sektor industri.
"Perubahan iklim menjadi tantangan yang harus kita hadapi bersama. Karena itu, setiap pelaku industri memiliki peran penting untuk terus menerapkan praktik usaha yang bertanggung jawab terhadap lingkungan dan berkontribusi dalam pembangunan yang berkelanjutan," ujar Fandi.